BISMILLAH BAB I ISYFA TAMAMIA.docx

Publish in

Documents

68 views

Please download to get full document.

View again

of 4
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Melahirkan adalah sebuah karunia terbesar bagi wanita dan momen yang sangat membahagiakan, tapi ada beberapa kasus dapat menjadi momen yang menakutkan hal ini disebabkan pada wanita yang melahirkan sering mengalami perasaan sedih dan takut sehingga mempengaruhi emosional dan sensitifitas ibu yang dikenal dengan istilah postpartum blues (Rahmawati, 2009).
Transcript
  BAB I PENDAHULUAN 1.1   Latar Belakang Melahirkan adalah sebuah karunia terbesar bagi wanita dan momen yang sangat membahagiakan, tapi ada beberapa kasus dapat menjadi momen yang menakutkan hal ini disebabkan pada wanita yang melahirkan sering mengalami perasaan sedih dan takut sehingga mempengaruhi emosional dan sensitifitas ibu yang dikenal dengan istilah  postpartum blues (Rahmawati, 2009). Masa Postpartum atau nifas adalah masa sesudah persalinan dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhirnya ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama 6 minggu (Syaifuddin, 2010). Periode  post partum (puerperium) adalah masa enam minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ reproduksi kembali ke keadaan normal seperti sebelum hamil. Dalam menjalani adaptasi setelah melahirkan, ibu akan mengalami fase- fase penyesuaian ibu terhadap perannya sebagai orang tua. Fase-fase penyesuaian maternal ini ditandai oleh perilaku dependen ( taking-in ), perilaku dependen-mandiri ( taking-hold  ), dan  perilaku interdependen ( letting-go ) (Sulistyawati,Ari. 2010). Psikoedukasi adalah suatu bentuk pendidikan ataupun pelatihan terhadap seseorang dengan gangguan psikiatri yang bertujuan untuk proses treatment dan rehabilitasi. Sasaran dari psikoedukasi adalah untuk mengembangkan dan meningkatkan penerimaan pasien terhadap penyakit ataupun gangguan yang ia alami, meningkatkan pertisipasi pasien dalam terapi, dan pengembangan coping mechanism ketika pasien menghadapi masalah yang berkaitan dengan penyakit tersebut. (Goldman, 1998 dikutip dari Bordbar & Faridhosseini, 2010). Psikoedukasi merupakan evidence based practice yang paling efektif untuk  peningkatan fungsi dan kualitas hidup, menurunkan simtomatologi, dan untuk profesi yang berhubungan dengan kesehatan mental, perawatan kesehatan dan pelayanan sosial di seluruh sistem. (Mottaghipour dan Bickerton, 2008). Fokus dari psikoedukasi adalah untuk mendidik partisipan dalam rangka membantu mengembangkan sumber-sumber dukungan sosial, keterampilan penyelesaian masalah dukungan emosional, keterampilan untuk mengatasi kondisi krisis serta mengurangi  sense of stigma, mengubah sikap dan kepercayaan diri partisipan terhadap suatu masalah (Griffith, 2006 cit.  Walsh, 2010). Psikoedukasi dapat dilaksanakan di berbagai tempat dengan  berbagai macam jenis media seperti leaflet, booklet, dan beberapa latihan khusus. Pada proses psikoedukasi sangat diperlukan kehadiran keluarga, sebagai kunci keberhasilan intervensi. (Mottaghipour dan Bickerton, 2008). Ada 3 bentuk kelainan psikiatri pasca persalinan: 1.  Postpartum blues, 2. Depresi pasca persalinan, 3. Psikosis pasca persalinan. Salah satu bentuk dari distres  pascapartum ialah  Baby blues (bentuk ringan), berlangsung beberapa minggu dan gejala tidak memburuk. Ibu dapat tidur sementara, selain mengasuh bayinya. Terjadi 2 hari sampai 2 minggu pascapartum. (Bahiyatun, 2011).  Baby blues (Postpartum Blues) merupakan kesedihan atau kemurungan setelah melahirkan. Biasanya hanya muncul sementara waktu yakni sekitar dua hari hingga dua minggu sejak kelahiran bayi yang ditandai dengan gejala-gejala seperti cemas tanpa sebab, menangis tanpa sebab, tidak sabar, tidak percaya diri, sensitif, mudah tersinggung, merasa kurang menyayangi bayinya. Jika hal ini dianggap enteng, keadaan ini bisa serius dan bisa bertahan dua minggu sampai satu tahun dan akan  berlanjut menjadi  postpartum sindrome.  (Suryani, Eko dkk, 2010).   Postpartum blues  dikategorikan sebagai sindroma gangguan mental yang ringan oleh sebab ini sering tidak dipedulikan dan diabaikan sehingga tidak terdiagnosa dan tidak dilakukan asuhan sebagaimana mestinya. Hal tersebut dapat menimbulkan masalah yang menyulitkan dan dapat membuat perasaan tidak nyaman bagi ibu yang mengalaminya. Banyak ibu yang berjuang sendiri dalam beberapa saat setelah melahirkan (Suherni 2007). Ibu  postpartum blues  harus ditangani   secara adekuat, karena peran ibu sangat  berpengaruh terhadap perkembangan anak juga dalam hubungannya dengan peran ibu di keluarga. Untuk itu seorang ibu yang berada dalam kondisi pasca melahirkan perlu mendapat dukungan dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Dalam menjalankan  peran bidan sebagai pendidik untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang  postpartum blues dengan memberikan informasi melalui penyuluhan-penyuluhan agar ibu-ibu pasca melahirkan yang mengalami gangguan psikologis pasca melahirkan tidak jatuh pada gangguan jiwa. Ini menunjukkan bahwa beberapa hari setelah melahirkan, kebanyakan wanita akan mengalami perubahan emosional, yaitu mereka merasa bahagia beberapa saat saja kemudian merasa sedih tanpa sebab, merasa tak mampu atau takut tak dapat menjadi ibu yang baik dan sebagainya (Suririnah, 2009), Peristiwa seperti ini  biasanya dianggap wajar, akan tetapi jika di biarkan maka akan berdampak buruk bagi ibu, bayi, serta keluarganya. Menurut Pusparwadani (2011) hal ini terjadi karena tubuh sedang mengadakan  perubahan fisikal yang besar setelah melahirkan, hormon-hormon dalam tubuh juga akan mengalami perubahan besar dan baru saja mengalami proses persalinan yang melelahkan, perasaan sedih dan gundah yang di alami oleh sekitar 50-80% wanita setelah melahirkan, dan cenderung lebih buruk sekitar hari ketiga atau keempat pasca  persalinan. Seorang ibu membutuhkan kesiapan yang matang untuk mengantisipasi terjadinya baby blues syndrome agar tidak berlanjut pada  postpartum depression , khususnya ibu yang baru saja mengahadapi proses persalinan. Tak jarang memang wanita yang melahirkan mengalami kecemasan yang berlebihan, perlu pengetahuan yang cukup serta mampu mengaplikasikan, saat ibu melewati masa persalinannya, ada  beberapa ibu yang berhasil mengatasi perasaan-perasaannya artinya mampu menanggulangi stres setelah persalinan, akan tetapi ada sebagian wanita yang mungkin tidak mampu menanggulanginya. Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) ialah suatu metode untuk mendeteksi depresi pasca persalinan. Walaupun tidak umum, EPDS dapat dengan mudah digunakan selama 6 minggu pasca persalinan. EPDS berupa kuisioner yang terdiri dari 10 pertanyaan mengenai bagaimana perasaan pasien dalam minggu terakhir. (Perfetti J, Clark L dan Fillmore CM, 2005; Bloch dkk, 2005; Cohen dan  Nonaca, 2005; Elvira 2006; Klainin dan Arthur, 2009; Muhdi, 2009; O’Hara dkk, 1991). Suatu penelitian di Negara yang pernah di lakukan seperti di Swedia, Australia, Italia, dan Indonesia dengan menggunakan EPDS (  Edinburg Postnatal  Depression Scale ) tahun 1993 menunjukkan 73% wanita mengalami  postpartum blues (Munawaroh, 2008). Prevalensi kejadian  postpartum blues dari berbagai negara,  berkisar antara 10-34 % dari seluruh persalinan. Angka kejadian  postpartum blues di luar negeri (Jepang) cukup tinggi mencapai 26-85%. Secara global diperkirakan 20% wanita melahirkan menderita  postpartum blues (Munawaroh, 2008). Berdasarkan studi pendahuluan pada tanggal 01 Maret 2014 di Polindes Rapa Laok Kecamatan Omben Kabupaten Sampang didapatkan jumlah ibu post partum adalah 10 orang. 7 ibu post partum tidak mengalami  post partum   blues karena adanya dukungan  keluarag serta paritas dan umur yang cukup dan 3 ibu post partum mengalami  post partum blues dengan alasan kurangnya dukungan keluarga yang kurang bersimpati pada keadaan ibu sebanyak 1 orang, dan dengan alasan paritas yang mempengaruhi dengan adanya anak  pertama dan umur yang terlalu muda sebanyak 2 orang. Dari kantor BKKBN Provinsi Aceh di temukan data bahwa 7 dari 10 ibu yang melahirkan di Provinsi Aceh pada tahun 2012 mengalami depresi berat setelah melahirkan, gejala depresi seperti tidak nafsu makan dan susah tidur merupakan keluhan yang paling sering di utarakan para ibu pasca melahirkan (BKKBN, 2012). Berdasarkan suatu data penelitian di Rumah Sakit Umum TK IV Sariningsih Bandung bulan Mei 2015 menunjukkan bahwa hampir setengahnya mengalami  postpartum blues ringan dan hampir setengahnya mengalami  postpartum blues ringan dan hampir setengahnya mengalami  postpartum berat. Selain itu, berdasarkan  pengalaman Praktik Klinik Kebidanan (PKK 3) di RSUD Gambiran Kota Kediri di ruang nifas terdapat 25 ibu postpartum. Dari 25 ibu postpartum terdapat 1 ibu  postpartum yang mengalami kelainan psikiatri pasca persalinan yaitu psikosis  postpartum. Hal ini menunjukkan bahwa masih sedikit peran tenaga kesehatan dalam memberikan psikoedukasi pada ibu postpartum yang harapannya ibu postpartum dapat mengatasi masalahnya sendiri dalam mengembangkan insting keibuannya yang dapat  berguna untuk menanamkan kepercayaan diri pada ibu bahwa ia mampu memelihara anaknya di rumah. Dengan insting keibuan, timbul perasaan segar dan pulih kembali dari kelelahan dan keletihan setelah melahirkan. Dari uraian latar belakang diatas  peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “ Pengaruh Psikoedukasi terhadap Kejadian  Postpartum Blues di RSUD Gambiran”.   1.2   Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah dalam  penelitian ini adalah “ Adakah    pengaruh psikoedukasi terhadap kejadian  postpartum blues di RSUD Gambiran?”  1.3   Tujuan Penelitian 1.3.1   Tujuan Umum Mengetahui pengaruh psikoedukasi terhadap kejadian  postpartum blues di RSUD Gambiran.  1.3.2   Tujuan Khusus 1.3.2.1   Mengidentifikasi pengetahuan ibu postpartum tentang kejadian  postpartum blues di RSUD Gambiran. 1.3.2.2   Mengidentifikasi psikoedukasi sebagai cara untuk mencegah kejadian  postpartum blues di RSUD Gambiran. 1.3.2.3   Mengetahui pengaruh pemberian edukasi terhadap pencegahan terjadinya  postpartum blues di RSUD Gambiran  1.4   Manfaat Penelitian 1.4.1   Bagi peneliti Menambah pengetahuan dan wawasan peneliti tentang pengaruh psikoedukasi terhadap kejadian  postpartum blues di RSUD Gambiran.   1.4.2   Bagi Institusi Pendidikan Diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan penelitian selanjutnya tentang pengaruh psikoedukasi terhadap kejadian  postpartum blues di RSUD Gambiran.   1.4.3   Bagi Tempat Penelitian Sebagai tambahan informasi yang dapat digunakan sebagai masukan untuk meningkatkan ketrampilan tenaga kesehatan dalam memberikan psikoedukasi  pada ibu nifas untuk mencegah kejadian  postpartum blues  di RSUD Gambiran.
Related Search
Related Documents
BAB I TA ERIK.docx
Sep 21, 2017

BAB I TA ERIK.docx

BAB I, II, III.docx
Sep 22, 2017

BAB I, II, III.docx

BAB I & II.docx
Sep 22, 2017

BAB I & II.docx

BAB I, ii, iii.docx
Sep 22, 2017

BAB I, ii, iii.docx

View more...
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x