BAB 1

Publish in

Documents

6 views

Please download to get full document.

View again

of 10
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
j
Transcript
  1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.   Latar Belakang Hutan gambut, atau lahan basah, adalah beberapa ekosistem paling penting bagi Indonesia dan perubahan iklim. Indonesia merupakan rumah bagi lahan gambut tropis terbesar di dunia, yang berfungsi sebagai penyerap karbon dalam jumlah besar. Pada saat yang sama, emisi karbon dari dekomposisi dan kebakaran gambut berkontribusi sebesar 42 persen dari total emisi Indonesia, dan kebakaran gambut pada tahun 2015 telah menggeser posisi Indonesia dari peringkat keenam ke peringkat keempat sebagai  produsen karbon terbesar di dunia. Indonesia memiliki sekitar 20 juta hektar lahan gambut sehingga tergolong sebagai negara dengan lahan gambut tropika terluas di dunia. Lahan gambut memiliki arti  penting karena merupakan sistem penyangga kehidupan, menjadi sumber air, sumber  pangan, menjaga kekayaan keanekaragaman hayati, dan berfungsi sebagai pengendali iklim global. Menyadari pentingnya peran dan fungsi lahan gambut, sebagai salah satu  jenis lahan basah, maka pengelolaan lahan gambut perlu dilakukan secara tepat dan terpadu. Meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap lahan, maka keberadaan lahan gambut cenderung dinilai dari sisi ekonomi dibanding dari nilai dan fungsi ekologinya. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan konflik kepentingan antar sektor maupun antar wilayah dan bahkan antar berbagai kepentingan pihak-pihak lainnya. Walaupun lahan gambut di Indonesia memegang peranan penting dalam mengontrol emisi, kita memiliki pemahaman yang tidak memadai tentang gambut. Informasi yang tersedia tentang luasan, ketebalan, dan bagaimana gambut berubah dari waktu ke waktu seringkali tidak akurat. Sangat penting bagi kita untuk mengetahui rincian lebih lanjut tentang gambut untuk membantu pemangku kepentingan melindungi ekosistem tersebut dan juga untuk mencapai target pengurangan emisi Indonesia. 1.2.   Tujuan - Mengetahui peranan lahan gambut - Mengetahui negara negara yang menyepakati kesepatakan regional tentang lahan gambut  2 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pentingnya Peranan Lahan Gambut Indonesia Dalam Konteks Ekosistem Global Lahan/tanah gambut di Indonesia mempunyai penyebaran pada lahan rawa, yaitu lahan yang menempati posisi peralihan di antara ekosistem daratan dan ekosistem perairan. Sepanjang tahun atau dalam jangka waktu yang panjang dalam setahun, lahan ini selalu  jenuh air (waterlogged) atau tergenang air. Tanah gambut menempati cekungan, depresi, atau bagian-bagian terendah di pelembahan, dan penyebarannya terdapat di dataran rendah sampai dataran tinggi. Di Indonesia, keberadaan lahan gambut paling banyak dijumpai  pada lahan rawa dataran rendah di sepanjang pantai. Hamparan lahan gambut yang sangat luas, umumnya menempati depresi-depresi yang terdapat di antara aliran sungai  –  sungai  besar di dekat muara, dimana gerakan naik turunnya air tanah dipengaruhi pasang surut harian air laut. Pola penyebaran dataran dan kubah gambut adalah terbentang pada cekungan luas di antara sungai-sungai besar, dari dataran pantai ke arah hulu sungai. Indonesia merupakan negara keempat dengan luas lahan rawa gambut terluas di dunia (Euroconsult, 1984), yaitu sekitar 20 juta ha, setelah Kanada (170 juta ha), Uni Soviet (150 juta ha), dan Amerika Serikat (40 juta ha). Namun, dari berbagai laporan (lihat Tabel 1), ternyata luas lahan gambut di Indonesia sangat bervariasi, yaitu antara 13,5-26,5 juta ha (rata-rata 20 juta ha). Jika luas gambut Indonesia diperkirakan ada 20 juta ha, maka sekitar 50% gambut tropika dunia (yang luas totalnya sekitar 40 juta ha) berada di Indonesia. Sebagai catatan, hingga kini data luas lahan gambut di Indonesia belum dibakukan, karena itu data luasan yang dapat digunakan masih dalam kisaran 13,5  –   26,5 juta ha.  3 Gambut mulai gencar dibicarakan orang sejak sepuluh tahun terakhir, ketika dunia mulai menyadari bahwa sumberdaya alam ini tidak hanya sekedar berfungsi sebagai pengatur hidrologi, sarana konservasi keanekaragaman hayati, tempat budi daya, dan sumber energi; tetapi juga memiliki peran yang lebih besar lagi sebagai pengendali perubahan iklim global karena kemampuannya dalam menyerap dan menyimpan cadangan karbon dunia. 1.   Pengatur hidrologi Gambut memiliki porositas yang tinggi sehingga mempunyai daya menyerap air yang sangat besar. Apabila jenuh, gambut saprik, hemik dan fibrik dapat menampung air  berturut-turut sebesar 450%, 450  –   850%, dan lebih dari 850% dari bobot keringnya atau hingga 90% dari volumenya. Karena sifatnya itu, gambut memiliki kemampuan sebagai penambat (reservoir) air tawar yang cukup besar sehingga dapat menahan banjir saat musim hujan dan sebaliknya melepaskan air tersebut pada musim kemarau sehingga dapat mencegah intrusi air laut ke darat. Fungsi gambut sebagai pengatur hidrologi dapat terganggu apabila mengalami kondisi drainase yang berlebihan karena material ini memiliki sifat kering tak balik, porositas yang tinggi, dan daya hantar vertikal yang rendah. Gambut yang telah mengalami kekeringan sampai batas kering tak  balik, akan memiliki bobot isi yang sangat ringan sehingga mudah hanyut terbawa air hujan, strukturnya lepas-lepas seperti lembaran serasah, mudah terbakar, sulit menyerap air kembali, dan sulit ditanami kembali. 2.   Sarana konservasi keanakeragaman hayati Gambut hanya terdapat di sebagian kecil permukaan bumi. Lahan gambut di dunia diperkirakan seluas 400 juta ha atau hanya sekitar 2,5% daratan di permukaan bumi ini. Jumlahnya yang terbatas dan sifatnya yang unik menyebabkan gambut merupakan habitat unik bagi kehidupan beraneka macam flora dan fauna. Beberapa macam tumbuhan ternyata hanya dapat hidup dengan baik di lahan gambut, sehingga apabila lahan ini mengalami kerusakan, dunia akan kehilangan beraneka macam jenis flora karena tidak mampu tumbuh pada habitat lainnya. Di Sumatera, lebih dari 300 jenis tumbuhan dijumpai di hutan rawa gambut (Giesen W, 1991). Contoh tumbuhan spesifik lahan gambut yang memiliki nilai ekonomi tinggi adalah jelutung (Dyera custulata), ramin (Gonystylus bancanus), dan Meranti (Shorea spp), Kempas (Koompassia malaccensis), Punak (Tetramerista glabra), perepat (Combretocarpus royundatus), Pulai rawa (Alstonia pneumatophora), Terentang (Campnosperma spp), Bungur (Lagestroemia spesiosa), dan Nyatoh (Palaquium spp) (Iwan Tricahyo W, Labueni Siboro, dan Suryadiputra, 2004). Sedangkan satwa langka pada habitat ini antara lain buaya sinyulong (Tomistoma schlegelii), harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), beruang madu (Helarctos malayanus), tapir (Tapirus indicus), mentok rimba (Cairina scutulata), dan bangau tongtong (Leptoptilos javanicus) yang merupakan salah satu spesies burung air yang dilindungi, dan terdaftar dalam Appendix I CITES, serta masuk dalam kategori Vulnerable dalam Red Databook IUCN. Keanekaragaman hayati yang hidup di habitat lahan gambut merupakan sumber plasma nutfah yang dapat digunakan untuk memperbaiki sifat-sifat varietas atau jenis flora dan fauna komersial sehingga diperoleh komoditas yang tahan penyakit, berproduksi tinggi, atau sifat-sifat menguntungkan lainnya. 3.   Penjaga iklim global  4 Perubahan iklim merupakan fenomena global yang ditandai dengan berubahnya suhu dan distribusi curah hujan. Kontributor terbesar bagi terjadinya perubahan tersebut adalah gas-gas di atmosfer yang sering disebut Gas Rumah Kaca (GRK) seperti karbondioksida (CO2), methana (CH4), dan Nitorus oksida (N2O) yang konsentrasinya terus mengalami peningkatan (Daniel Murdiyarso dan Suryadiputra, 2004). Gas-gas tersebut memiliki kemampuan menyerap radiasi gelombang panjang yang bersifat panas sehingga suhu bumi akan semakin panas jika jumlah gasgas tersebut meningkat di atmosfer. Meningkatnya suhu udara secara global akan merubah peta iklim dunia seperti perubahan distribusi curah hujan serta arah dan kecepatan angin. Kesemuanya itu akan berdampak langsung pada berbagai kehidupan di bumi seperti berkembangnya  penyakit pada hewan, manusia maupun tanaman; perubahan produktivitas tanaman; kekeringan, banjir dan sebagainya. Gambut memiliki kandungan unsur Carbon (C) yang sangat besar. Menurut perhitungan Matby dan Immirizi (1993) dalam Daniel Murdiyarso dan Suryadiputra (2004), kandungan karbon yang terdapat dalam gambut di dunia sebesar 329-525 Gt atau 35% dari total C dunia. Sedangkan gambut di Indonesia memiliki cadangan karbon sebesar 46 GT (catatan 1 GT sama dengan 109 ton) atau 8-14% dari karbon yang terdapat dalam gambut di dunia. Dengan demikian, gambut memiliki peran yang cukup besar sebagai penjaga iklim global. Apabila gambut tersebut terbakar atau mengalami kerusakan, materi ini akan mengeluarkan gas terutama CO2, N2O, dan CH4 ke udara dan siap menjadi perubah iklim dunia. Jika hal ini terjadi, kita harus siap-siap menanggung dan merasakan dampaknya. 4.   Sarana budi daya Pemanfaatan lahan gambut sebagai sarana budidaya tanaman (termasuk perkebunan sawit atau HTI), peternakan, dan perikanan sudah sejak lama dikenal oleh petani maupun swasta di Indonesia. Di Indonesia, budidaya pertanian di lahan gambut secara tradisional sudah dimulai sejak ratusan tahun lalu oleh Suku Dayak, Bugis, Banjar, dan Melayu dalam skala kecil. Mereka memilih lokasi dengan cara yang cermat, memilih komoditas yang telah teruji, dan dalam skala yang masih terdukung oleh alam. Ketika kebutuhan komoditas pertanian makin besar karena meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan penduduk, terjadi perluasan areal pertanian secara cepat. Sayangnya,  perluasan areal ini sering kali kurang memperhatikan daya dukung dan sifat-sifat lahan gambut. Seiring dengan perencanaan yang kurang matang, terjadi pemanfaatan lahan yang tidak sesuai peruntukannya, kurangnya implementasi kaidah-kaidah konservasi lahan, dan penggunaan teknologi yang cenderung kurang tepat. Akibatnya, terjadi kerusakan dimana-mana dan pengembangan pertanian dan perkebunan di lahan gambut acap mengalami kegagalan. Sebaliknya, pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian atau perkebunan dalam skala terbatas, dengan memperhatikan kaidahkaidah konservasi dan teknologi yang tepat, terbukti mampu menghasilkan produktivitas yang memadai dan menyejahterakan petani. 5.   Habitat Ikan Hingga kini sumberdaya perikanan di rawa gambut belum banyak mendapat perhatian  para peneliti maupun dinas/instansi terkait di Indonesia. Padahal jika diamati secara mendalam, habitat ini ternyata mendukung berbagai jenis ikan air tawar yang memiliki nilai komersial tinggi (seperti gabus, toman, jelawat, tapah dsb). Namun demikian,  penebangan hutan dan kebakaran yang sering terjadi di lahan gambut berpotensi menurunkan produksi perikanan di dalamnya. Hal ini disebabkan karena hilangnya
Related Search

Previous Document

lesson plan sample

Next Document

Reliablity 3.pdf

Related Documents
BAB 1 PENDAHULUAN
Sep 20, 2017

BAB 1 PENDAHULUAN

BAB 1 PENDAHULUAN
Sep 20, 2017

BAB 1 PENDAHULUAN

METOPEL BAB 1, 2,& 3
Sep 20, 2017

METOPEL BAB 1, 2,& 3

BAB 1
Sep 20, 2017

BAB 1

BAB 1 (Autosaved)
Sep 20, 2017

BAB 1 (Autosaved)

Bab 1 baru
Sep 20, 2017

Bab 1 baru

BAB 1
Sep 20, 2017

BAB 1

3. BAB 1
Sep 20, 2017

3. BAB 1

View more...
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks