Isi Jurnal PDF

Publish in

Documents

193 views

Please download to get full document.

View again

of 17
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
jurnal anak
Transcript
  1 BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Campak adalah infeksi virus yang ditandai dengan munculnya ruam di seluruh tubuh dan sangat menular. Campak bisa sangat mengganggu dan mengarah pada komplikasi yang lebih serius. Gejala campak mulai muncul sekitar satu hingga dua minggu setelah virus masuk ke dalam tubuh. Pada tahun 2013, di dunia terdapat 145.700 orang meninggal akibat campak, sedangkan sekitar 400 kematian setiap hari sebagian besar terjadi pada balita (WHO, 2015). Cara yang efektif untuk mencegah penyakit campak yaitu dengan imunisasi balita pada usia 9 bulan. Selama periode 2000-2013, imunisasi campak berhasil menurunkan 15,6 juta (75%) kematian akibat campak di Indonesia(Kemenkes RI, 2015). Vaksin campak adalah suatu  proses memasukkan virus campak yang sudah dilemahkan ke dalam tubuh guna merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibodi atau kekebalan terhadap penyakit campak. Jadi manfaat imunisasi campak pada bayi sangatlah penting karena campak dapat menular dengan mudah. Sesuai dengan rekomendasi IDAI (ikatan dokter anak Indonesia), Jadwal Imunisasi Campak yaitu diberikan sebanyak 3 kali: Yang pertama pada usia 9 bulan dan dosis penguatan kedua (second opportunity pada crash program campak) 15 bulan berikutnya yaitu pada usia 24 bulan serta dosis ke tiga saat SD kelas 1-6. Bagi anak yang terlambat/belum mendapat imunisasi campak sama sekali, maka tetap diberikan bergantung usianya saat ini. Bila anak  berusia 9-12 bulan, berikan imunisasi ini kapan pun saat bertemu. Bila anak berusia > 1 tahun,  berikan MMR. Jika sudah diberi MMR usia 15 bulan, tidak perlu diberi imunisasi campak di usia 24 bulan. Tapi ikuti jadwal imunisasi MMR. Upaya untuk meneliti waktu yang tepat untuk vaksin campak telah dilakukan. Tulisan ini membahas beberapa efek vaksin campak berkaitan dengan pencegahan campak. Tujuan Penyajian pembahasan jurnal ini bertujuan untuk mengetahui waktu yang tepat untuk melakukan vaksinasi campak apakah pada umur 18 minggu atau pada usia 9 bulan. Serta untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik ilmu kesehatan anak RSUD Arjawinangun.  2 BAB II PEMBAHASAN JURNAL Efek Vaksin Campak Dini pada Kolonisasi Pneumokokus : Percobaan Acak dari Guinea-Bissau  Nadja Skadkaer Hansen, Stine Byberg Lars Hervig Jacobson, Morten Bjerregaard-Andersen, Aksel Kari Georg Jensen, Cesario Martins, et al . ABSTRAK Latar Belakang : Vaksin campak (MV) mungkin saja memiliki keuntungan tidak spesifik untuk kesehatan anak-anak terutama dalam mencegah infeksi saluran pernafasan. Streptococcus pneumoniae adalah penyebab utama infeksi bakteri pada anak-anak di seluruh dunia, dan penyebab infeksi didahului dengan kolonisasi pneumokokus di nasofaring.  Obyek : Kami menyelidiki apakah pemberian vaksin campak pada bayi usia 18 minggu mengurangi kolonisasi pneumokokus dibandingkan bayi usia 9 bulan.  Metode : Penelitian dilakukan pada 2013-2014 di Guinea-Bissau. Vaksin campak bukan  bagian dari program vaksin yang wajib. Bayi berusia 18 minggu diacak 2 : 1 untuk bayi yang vaksinasi awal dan yang divaksinasi pada usia 9 bulan, dan semua anak ditawari vaksin campak. Swab nasofaring diambil pada usia 6,5 bulan dan usia 9 bulan.   Densitas pneumococcal ditentukan oleh q-PCR. Rasio Prevalensi kolonisasi pneumokokus dan pengobatan antibiotik (ya / tidak) pada usia 6,5 bulan (PR6.5) dan usia 9 bulan (PR9) diperkirakan menggunakan regresi Poisson dengan perkiraan variansi. Sedangkan rasio mean geometri pneumokokus (GMR6.5 dan GMR9) diperoleh dengan menggunakan regresi OLS. Hasil : Analisis pada 512 anak; 346 anak-anak dengan vaksinasi campak pada 18 minggu dan 166 kontrol. Pada saat pendaftaran, prevalensi kolonisasi pneumokokus adalah 80% (411/512). Membandingkan vaksin campak bayi 18 minggu dengan kontrol, PR6.5 adalah 1,02 (95% CI = 0,94-1,10), dan PR9 adalah 1,04 (0,96-1,12). GMR6.5 adalah 1,02 (0,55-1,89), dan GMR9 adalah 0,69 (0,39-1,21). Anak-anak yang divaksinasi campak pada umu 18 minggu cenderung kurang diobati dengan antibiotik sebelum ditindaklanjuti (PR6.5 0,60 (0,34-1,05) dan PR9 0,87 (0,50-1,53). Pemberian antibiotik dikaitkan dengan tingkat kolonisasi yang jauh lebih rendah, PR6.5 0,85 (0,71-1,01) dan PR9 0,66 (0,52- 0,84), serta kepadatan pneumokokus yang lebih rendah, GMR6,5 0,32 (0,12-0,86) dan GMR9 0,52 (0,18- 1.52).    3 Kesimpulan : Vaksin campak pada awal usia 18 minggu tidak memiliki efekr pada prevalensi kolonisasi atau kepadatan pneumokokus. Konsumsi antibiotik yang lebih tinggi di antara kontrol mungkin telah mengaburkan efek vaksin campak yang dilakukan pada anak yang divaksinasi pada usia 18 minggu.  Pendahuluan Dalam sebuah tinjauan yang dilakukan oleh WHO baru-baru ini, vaksin campak dikaitkan dengan penurunan angka kematian anak secara keseluruhan dan morbiditas dalam  pencegahan infeksi campak. Ini mengindikasikan efek non-spesifik (NSE) sebuah vaksin. Sebuah uji coba acak di Guinea dan sebuah studi di Denmark, keduanya menemukan bahwa vaksin campak berkaitan dengan manifestasi klinis pada rumah sakit dimana jauh lebih sedikit anak yang divaksinasi campak masuk ke rumah sakit dibandingkan kontrol yang vaksinasi terakhirnya adalah DTP-HepB-Hib- OPV-3 dan DTP-Hib-IPV-3. Sebuah penelitian baru-baru ini dari Gambia menemukan bahwa vaksin campak dan vaksin yellow fever (YF) yang diberikan pada usia 9 bulan dapat mengurangi kolonisasi Streptococcus pneumococci di nasofaringeal sebesar 75% (OR 0,25 (0,07-0,90) Saat dibandingkan dengan status carriage 4 minggu setelah vaksinasi sebelumnya. Pneumonia adalah pembunuh terbesar anak-anak usia <5 tahun di seluruh dunia dengan lebih dari 95% kasus terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah. Penyebab paling sering adalah pneumokokus. Secara global, pneumokokus diperkirakan menyebabkan 11% kematian pada anak-anak usia <5 tahun dengan 90% kematian akibat pneumonia. Pneumokokus sering terjadi pada anak-anak di negara-negara berpenghasilan rendah sejak usia dini dan dapat tanpa menunjukkan gejala, namun juga merupakan prasyarat untuk pengembangan penyakit infeksi  pneumokokus. Kami berhipotesis bahwa vaksin campak menurunkan angka infeksi pernafasan yang disebabkan oleh S. Pneumoniae melalui efek pada kolonisasi nasofaring. Dengan demikian, dalam uji coba terkontrol acak yang sedang berlangsung (RCT) dari vaksin campak pada bayi 18 minggu pada bayi di Guinea-Bissau, kami menyelidiki apakah vaksin campak mengurangi kolonisasi dan / atau tingkat keparahan penyakit akibat pneumokokus.  4 Bahan dan Metode Pengaturan Studi Sejak tahun 1978, menurut Proyek Kesehatan Bandim (BHP) telah mempertahankan sistem surveilans kesehatan dan demografi (HDSS) yang saat ini mencakup lebih dari 100.000 individu di 6 daerah pinggiran ibukota Bissau, Guinea-Bissau. Melalui kunjungan ke rumah yang ada bayi baru lahir diidentifikasi dan diikuti selama usia triwulan hingga usia 3 tahun untuk mencatat pertumbuhan, morbiditas, vaksinasi dan status vital. Pada pendaftaran awal, setiap anak diberi nomor ID unik untuk memudahkan keterkaitan antara semua register BHP. Percobaan Vaksin Campak yang Dimulai pada Bayi Awal Bulan Pada studi pneumokokus saat ini dilakukan dengan RCT yang dilakukan di area studi BHP dari tahun 2011 sampai 2015, yang bertujuan untuk menyelidiki pengaruh pemberian vaksin pada bayi 18 minggu dibandingkan pada tingkat kematian keseluruhan sampai usia 5 tahun (MVUrban). Semua anak ditawari vaksin campak yang direkomendasikan pada usia 9  bulan. Vaksin pneumokokus (PCV) belum diimplementasikan di Guinea-Bissau saat penelitian dilakukan. Tidak ada kasus campak yang dilaporkan selama masa penelitian berlangsung. Kriteria inklusi dalam uji coba vaksin pada 18 minggu yaitu dengan menerima tiga dosis vaksin pentavalent (DTP-HepB-Hib-3) paling sedikit 4 minggu sebelum pendaftaran, dan  bayi harus usia di bawah 7 bulan. Melalui kunjungan ke rumah, anak-anak yang memenuhi syarat diundang untuk dimasukkan ke area studi HDSS. Di sini, anak-anak menjalani  pemeriksaan klinis oleh dokter dan dinilai antropometrinya . Anak-anak yang membutuhkan rawat inap, anak-anak yang kekurangan gizi (didefinisikan sebagai lingkar lengan atas kurang dari 115 mm) dan anak-anak dengan malformasi berat dikeluarkan dari penelitian. Dengan memberikan informasi persetujuan tertulis dan lisan pada orang tua / wali, anak-anak diacak 2: 1 dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin yang menerima vaksin pada usia 18 minggu atau tidak vaksin campak pada usia 18 minggu. Orangtua memilih amplop khusus berjumlah 24 yang dilipat, 2/3 dari jumlah yang diberikan anak tersebut masuk ke kelompok intervensi (kelompok anak yang divaksinasi campak awal bulan), 1/3 dari jumlah yang diberikan anak tersebut masuk ke kelompok kontrol (vaksinasi pada usia 9 bulan). Kembar dari jenis kelamin yang sama dialokasikan untuk perawatan yang sama untuk menghindari kebingungan. Anak-anak yang diacak untuk vaksin campak awal menerima dosis
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks