jurnal metode SI.pdf

Publish in

Documents

216 views

Please download to get full document.

View again

of 20
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
Diglosia - Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol. 1, No. 1, Februari 2017 EFEKTIVITAS PENGGUNAAN METODE SUGESTI-IMAJINASI MELALUI MEDIA AUDIO-VISUAL DALAM PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN DI SMA KELAS X Rianto Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Majalengka Pos-el: ryan_s34@gmail.com
Transcript
  Diglosia  -  Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia  Vol. 1, No. 1, Februari 2017 66 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Majalengka EFEKTIVITAS PENGGUNAAN METODE SUGESTI-IMAJINASI MELALUI MEDIA AUDIO-VISUAL DALAM PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN DI SMA KELAS X Rianto Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Majalengka Pos-el: ryan_s34@gmail.com    Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya penerapan metode pembelajaran dalam menulis cerpen, sehingga menjadi penyebab sulitnya mencari ide cerita serta rendahnya kualitas cerpen yang dihasilkan siswa. Tidak ada metode khusus ini membuat siswa lemah ide untuk dikembangkan menjadi cerpen yang berkualitas. Penulis mencoba menerapkan salah satu metode yaitu metode sugesti-imajinasi melalui media audio-visual dalam pembelajaran menulis cerpen. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskripsi. Adapun teknik untuk mengumpulkan data yang digunakan adalah teknik studi pustaka dan teknik tes melalui Pre test   dan Post tes t. Penulis melakukan penelitian di kelas X SMA Negeri 1 Sukahaji, sebanyak delapan kelas dengan jumlah populasi 210. Dalam penelitian ini penulis menggunakan sampel acak (simple random sampling).  Berdasarkan hasil random sampel   secara tradisional ditetapkan siswa kelas X-3 dengan jumlah siswa 23 orang sebagai sampel. Perubahan kemampuan siswa dapat dilihat dari nilai tes awal dan tes akhir. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil pengolahan data, terjadi peningkatan nilai antara tes awal dan tes akhir. Hal ini terbukti dari perhitungan rumus korelasi produk momen yaitu nilai rata-rata pretes sebesar 4.2, sedangkan nilai rata-rata postes sebesar 6.9, peningkatannya sebesar 2.7. dan nilai korelasi sebesar 0.727. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode sugesti-imajinasi melalui media audio-visual dalam pembelajaran menulis cerpen di kelas X Sekolah Menengah Atas efektif meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis cerpen. Kata Kunci:   Metode sugesti-imajinasi, media audio-visual, pembelajaran menulis cerpen  Diglosia  -  Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia  Vol. 1, No. 1, Februari 2017 67 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Majalengka  A.   PENDAHULUAN Keterampilan menulis merupakan tingkat pembelajaran keterampilan berbahasa terakhir setelah menyimak, berbicara, dan membaca. Penempatan keterampilan menulis di akhir tahapan keterampilan, setidaknya menunjukkan bahwa keterampilan menulis dirasakan sangat sulit karena menghasilkan sebuah produk berupa karya tulis yang harus sesuai kaidah bahasa Indonesia. Hal tersebut selaras dengan pendapat Byrne dalam Wagiran (2005: 169) bahwa ‘menulis sebagai salah satu kemampuan yang diajarkan merupakan kegiatan yang sangat sulit bagi banyak orang. Hal ini disebabkan secara garis besar oleh masalah-masalah psikologis, linguistik dan kognitif. Sastra bermediakan bahasa memerlukan keindahan ketika menuangkannya dalam bentuk tulisan. Berbeda dengan menulis puisi yang lebih mengutamakan perasaan apa yang sedang dirasakan penyair, proses menulis prosa dalam hal ini cerpen mengutamakan proses yang lebih komunikatif, lebih cepat dipahami, namun tidak mengurangi kaidah keindahan yang dimiliki sebuah karya sastra. Proses pembelajaran menulis cerpen pada Sekolah Menengah Atas diharapkan dapat melatih daya imajinasi dan kepekaan hati seorang siswa dalam menyikapi kehidupan. Hal ini telah jelas dikatakan Sumardjo dan Saini (1988: 36), “cerpen bersifat rekaan (fiction)  bukan penuturan kejadian yang sebenarnya. Meskipun cerpen hanyalah rekaan, namun dapat ditulis berdasarkan kenyataan kehidupan”. Sebuah karya sastra akan lebih terasa hidup apabila di dalamnya terdapat “roh” berupa pesan atau amanat dalam menjalani kehidupan. Cerpen merupakan prosa fiksi yang di dalamnya terkandung pesan yang ingin disampaikan penulis. Hal ini selaras dengan pendapat Altendernd dan Lewis dalam Nurgiantoro (2010: 2) ‘cerpen dapat diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan antar manusia’. Pembelajaran menulis cerpen merupakan manifestasi imajinasi dan kepekaan diri seorang siswa terhadap lingkungannya. Menurut Mastuti (2011:21) mengemukakan bahwa “menulis dengan hati dan mengikuti kata hati adalah salah satu cara untuk membuat kualitas tulisan semakin meningkat”. Pembelajaran menulis cerpen yang diberikan oleh guru selama ini hanya sebatas tugas menuliskan pengalaman pribadi dan belum sampai tingkat apresiasi. Proses apresiasi dalam diri siswa ketika menulis pada hakikatnya ada pada ide tulisan yang menjadi dasar dan titik awal proses menulis. Ide merupakan daya imajinasi yang muncul ketika ada rangsangan baik dari dalam diri atau luar yang berupa sugesti. Pada umumnya proses mencari ide berdasarkan pengalaman dan pengamatan kehidupan. Sumber pengalaman pribadi sangat terbatas peristiwa yang dialami, namun sumber pengamatan kehidupan lingkungan tidak terbatas. Banyak masalah di sekeliling siswa yang dapat dijadikan ide cerita. Masalah ekonomi, sosial,  Diglosia  -  Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia  Vol. 1, No. 1, Februari 2017 68 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Majalengka budaya sering muncul dan menjadi “roh” atau amanat dalam cerpen. Guru harus memiliki kemampuan dalam teknik memberikan rangsangan terhadap pola pikir ide siswa dalam menulis cerpen. Metode Sugesti-Imajinasi menggunakan media audio-visual berupa rangkaian cerita yang disimak dan diperlihatkan kepada siswa merupakan salah satu upaya merangsang daya imajinasi pembentukan ide cerita dalam penulisan cerpen. Penggunaan metode dan media ini akan memberikan efek imajinasi dari sugesti yang diberikan serta gambaran tema, alur, penokohan, latar, dan amanat yang dapat dikembangkan sesuai imajinasi masing-masing siswa. Sedangkan untuk sudut pandang pengarang, siswa dapat memilih sebagai orang pertama (aku) atau orang ketiga (dia) setelah menerima sugesti dari tayangan yang dilihat dan disimak. Pemilihan bahan audio-visual menjadi langkah penting sebelum diadakannya metode sugesti-imajinasi. Bahan audio-visual yang penulis pilih adalah film pendek yang bertemakan perjuangan hidup seorang anak yatim piatu. Bahan media audio visual ini tidak terdapat dialog, hanya disertai musik instrumen sesuai suasana dalam alur cerita. Film pendek berjudul “Terima Kasih” ini dipili h karena tidak terdapat dialog, sehingga siswa tidak terpengaruh terhadap kosakata yang terdapat dalam film. Siswa akan lebih beragam dalam membuat cerpen walaupun dengan tema yang sama. Musik instrumen yang tepat untuk menghayati suasana cerita sehingga siswa dapat mengembangkan imajinasinya. Berdasarkan uraian permasalahan tersebut, penulis tuangkan dalam skripsi yang berjudul “Efektivitas Penggunaan Metode Sugesti -Imajinasi melalui Media Ausio-Visual dalam Pembelajaran Menulis Cerpen pada Siswa Kelas X Sekolah Menengah Atas ”.  Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Bagaimana kemampuan menulis cerpen pada siswa Kelas X Sekolah Menengah Atas sebelum pembelajaran menggunakan metode sugesti-imajinasi melalui media audio visual? (2) Bagaimana kemampuan menulis cerpen pada siswa Kelas X Sekolah Menengah Atas setelah pembelajaran dengan menggunakan metode sugesti-imajinasi melalui media audio visual? (3) Efektifkah penggunaan metode sugesti-imajinasi melalui media audio-visual dalam pembelajaran menulis cerpen pada siswa Kelas X Sekolah Menengah Atas? Adapun tujuan khusus yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1)Mendapatkan data mengenai kemampuan menulis cerpen pada siswa Kelas X Sekolah Menengah Atas sebelum pembelajaran menggunakan metode sugesti-imajinasi melalui media audio-visual. (2) Mengetahui kemampuan menulis cerpen pada siswa Kelas X Sekolah Menengah Atas sesudah pembelajaran dengan menggunakan metode sugesti-imajinasi melalui media audio-visual. (3) Mendapatkan data mengenai efektivitas penggunaan metode sugesti-imajinasi melalui media audio-visual dalam pembelajaran menulis cerpen pada siswa Kelas X Sekolah Menengah Atas.  Diglosia  -  Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia  Vol. 1, No. 1, Februari 2017 69 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Majalengka B.   KAJIAN PUSTAKA 1.   Pembelajaran Menulis Cerpen a.   Menulis Cerpen 1)   Pengertian Menulis Cerpen Menulis cerpen pada hakikatnya menyampaikan apa yang dirasakan, dilihat dan dialami dalam kehidupan penulis. Hal ini selaras dengan pendapat Sumardjo (2007:81) yang menyatakan bahwa “menulis cerpen pada dasarnya menyampaikan sebuah pengalaman kepada pambac a”. Sedangkan menurut Thahar (1999:34) “menulis cerpen dapat dikatakan menuliskan “dongeng” pendek. Dongeng yang dekat dengan kehidupan nyata dan fantasi pembaca, angan-angan bahkan mungkin juga impuls atau desakan hati pembaca. Akan tetapi cerpen juga dituntut punya jiwa yang membuat cerpen itu punya daya pikat”. Pengalaman dan pengetahuan penulis sangat mempengaruhi karyanya. Menurut Thahar (1999:17) bahwa fiksi (termasuk cerpen) juga berangkat dari fakta yang terhimpun dalam pengalaman batin seorang pengarang, lalu dikreasikan kembali dengan imajinasinya sehingga menjadi sesuatu yang hidup, suatu kenyataan yang baru yang kita sebut fiksi. Lebih lanjut Semi dalam Thahar (1999:25) menyatakan bahwa sastra lahir (termasuk cerpen) dari sumber pengalaman sastrawan sendiri, baik pengalaman dalam bentuk lahiriah maupun pengalaman lahiriah. Pengalaman batin juga merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya. Ia didapat dari media lain, mungkin audio atau audio visual, buku bacaan, dan tuturan orang lain. 2)   Langkah-Langkah Menulis Cerpen Menurut Sudarman (2008:294), menulis cerpen dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut. a)   Menentukan tema b)   Membuat kerangka karangan c)   Mengumpulkan referensi d)   Menuliskan 3)   Pembelajaran Menulis Cerpen Pembelajaran menulis cerpen dibagi menjadi tiga tahap utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada tahap perencanaan ada tiga hal yang harus dilakukan oleh guru. Pertama, penelaahan materi pembelajaran. Pada tahap ini guru harus menguasai materi yang akan disampaikan dalam proses pembelajaran di kelas. Penguasaan metode menulis, pemilihan tema, dan pemahaman tujuan pembelajaran harus dikuasai dalam tahap ini. Kedua, pemilihan bahan dan metode pembelajaran. Pemilihan bahan dan metode harus sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Ketiga, penyusunan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Pada tahap ini guru memastikan bahwa proses pembelajaran yang akan dilaksanakan berjalan dengan baik dan mencapai tujuan belajar. Tahap selanjutnya yaitu tahap pelaksanaan pembelajaran menulis cerpen. Kegiatan pada tahap ini mengacu pada Rancangan Pelaksanaan
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks