SULAP

Publish in

Documents

9 views

Please download to get full document.

View again

of 31
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
asdfghjk
Transcript
  1 BAB I PENDAHULUAN Gangguan haid atau disebut juga dengan perdarahan uterus abnormal (PUA) merupakan keluhan yang sering menyebabkan seorang wanita datang berobat ke dokter atau tempat pertolongan pertama. Di RSUD Dr.Soetomo Surabaya pada tahun 2007 dan 2008 didapatkan angka kejadian perdarahan uterus abnormal sebanyak 12,48% dan 8,8% dari seluruh kunjungan poli kandungan. 6 Gangguan haid ini mempunyai manifestasi klinis yang bermacam-macam tergantung kondisi serta penyakit yang dialami seorang wanita. Hampir semua wanita  pernah mengalami gangguan haid selama masa hidupnya. Gangguan ini dapat berupa kelainan siklus atau perdarahan. Masalah ini dihadapi oleh wanita usia remaja, reproduksi dan klimakterik. 7  Perdarahan Uterus Abnormal merupakan sebab tersering perdarahan abnormal per vaginam pada masa reproduksi wanita. Dilaporkan gangguan ini terjadi pada 5-10% wanita. Lebih dari 50% terjadi pada masa perimenopause, sekitar 20% pada masa remaja, dan kira-kira 30% pada wanita usia reproduktif. Ras bukan faktor penting, tetapi insidensi leiomyoma pada wanita ras Afrika lebih tinggi dan mereka memiliki kadar estrogen yang lebih banyak, karena itu mereka cenderung untuk lebih sering mengalami episode  perdarahan abnormal pervaginam. 7 PUA pada wanita tidak hamil di usia reproduktif memiliki patologi yang sangat luas. Terdapat banyak sekali terminologi yang digunakan  baik untuk mendeskripsi-kan gejala maupun mengenai gangguannya sendiri sehingga dirasa cukup membingungkan dalam manajemen klinis dan dalam menerjemahkan sebuah riset dan uji klinis. 8 Penyebab terjadinya perdarahan uterus abnormal dapat ditemukan diberbagai wanita dan usia, tetapi terkadang muncul pada saat saat tertentu antara lain: anovulasi (penyebab tersering), defek koagulasi, dan perimenopause (pemendekan fase proliferasi dan disfungsi korpus luteum). 7  2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1   Definisi Perdarahan Uterus Abnormal Pendarahan Uterus Abnormal (PUA) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan semua kelainan haid baik dalam hal jumlah maupun lamanya. Manifestasi klinisnya dapat berupa pendarahan dalam jumlah yang banyak atau sedikit, dan haid yang memanjang atau tidak beraturan. 4 2.2   Klasifikasi PUA Berdasarkan Jenis Perdarahan 2.4.1   Pendarahan uterus abnormal akut   didefinisikan sebagai pendarahan haid yang banyak sehingga perlu dilakukan penanganan segera untuk mencegah kehilangan darah. Pendarahan uterus abnormal akut dapat terjadi pada kondisi PUA kronik atau tanpa riwayat sebelumnya. 2.4.2   Pendarahan uterus abnormal kronik    merupakan terminologi untuk  pendarahan uterus abnormal yang telah terjadi lebih dari 3 bulan. Kondisi ini  biasanya tidak memerlukan penanganan yang segera seperti PUA akut. 2.4.3   Pendarahan tengah (intermenstrual bleeding)   merupakan pendarahan haid yang terjadi diantara 2 siklus haid yang teratur. Pendarahan dapat terjadi kapan saja atau dapat juga terjadi di waktu yang sama setiap siklus. Istilah ini ditujukan untuk menggantikan terminologi metroragia. 2.3   Klasifikasi PUA berdasarkan penyebab pendarahan Klasifikasi utama PUA berdasarkan FIGO dapat dilihat pada bagan 2.1. Sistem   klasifikasi ini telah disetujui oleh dewan eksekutif FIGO sebagai sistem klasifikasi   PUA  berdasarkan FIGO. Terdapat 9 kategori utama yang disusun berdasarkan akronim   “PALM - COEIN” .      Kelompok “PALM” adalah merupakan kelompok kelainan struktur     penyebab PUA yang dapat dinilai dengan berbagai teknik pencitraan dan atau pemeriksaan histopatologi.  3    Kelompok “COEIN” adalah merupakan kelompok kelainan non struktur penyebab PUA yang tidak dapat dinilai dengan teknik pencitraan atau histopatologi. PUA terkait dengan penggunaan hormon steroid seks eksogen, AKDR, atau agen sistemik atau lokal lainnya diklasifikasikan sebagai “iatrogenik”.   Bagan 2.1. Klasifikasi Perdarahan Uterus Abnormal FIGO    4 Keterangan: 2.3.1   Polip (PUA-P) a.   Definisi: Pertumbuhan lesi lunak pada lapisan endometrium uterus, baik  bertangkai maupun tidak, berupa pertumbuhan berlebih dari stroma dan kelenjar endometrium dan dilapisi oleh epitel endometrium. Biasanya terjadi pada fundus dan dapat melekat dengan adanya tangkai yang ramping (bertangkai) atau dasar yang lebar (tidak bertangkai). Kadang-kadang polip prolaps melalui serviks. 1,4   b.   Gejala :Polip biasanya bersifat asimptomatik, tetapi dapat pula meyebabkan PUA,  paling umum berupa perdarahan banyak dan di luar siklus atau perdarahan bercak ringan pasca menopause. 1,4 Lesi umumnya jinak, namun sebagian atipik atau ganas. 1  c.   Diagnostik: Diagnosis polip ditegakkan berdasarkan pemeriksaan USG dan atau histeroskopi, dengan atau tanpa hasil histopatologi. 1  d.   Terapi: Eksisi, namun cenderung berulang. Untuk terapi definitif dapat dilakukan histerektomi, namun jarang dilakukan untuk polip endometrium yang jinak. 4  2.3.2   Adenomiosis (PUA-A) a.   Definisi: Dijumpainya jaringan stroma dan kelenjar endometrium ektopik pada lapisan miometrium. 1   b.   Gejala: Nyeri haid, nyeri saat senggama, nyeri menjelang atau sesudah haid, nyeri saat buang air besar, atau atau nyeri pelvik kronik. 1  Gejala nyeri tersebut di atas dapat disertai dengan perdarahan uterus abnormal  berupa perdarahan banyak yang terjadi dalam siklus. 1,4

Previous Document

organisasi

Related Documents
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks