BAB 1

Publish in

Documents

19 views

Please download to get full document.

View again

of 10
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
uap cair
Transcript
   1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesetimbangan 2 fasa pada umumnya mengandung 2 variabel yang menentukan dalam kesetimbangan tersebut. Kesetimbanagn sistem 2 fasa dapat  berupa campuran dari fasa cair- gas, cair- cair, fasa padat- cair, ataupun padat-  padat Pada makalah ini akan dibahas mengenai kesetimbangan fasa cair  –   uap dan  berbagai persamaaan yang berhubungan dengan kesetimbangan fasa cair  –   uap tersebut. 1.2 Tujuan 1.   Mengetahui apa itu kesetimbangan fasa cair  –   uap 2.   Mengetahui model persamaan kesetimbangan cair  –   uap sederhana 1.3 Rumusan Masalah 1.   Apa itu kesetimbngan fasa cair  –   uap ? 2.   Bagaimana model persamaan kesetimbangan cair  –   uap sederhana ?   2 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Kesetimbangan Uap  –   Cair Kesetimbangan uap-cair (bahasa Inggris: Vapor   –  liquid equilibrium /VLE) adalah kondisi dimana liquid dan gasnya  berada pada kesetimbangan satu sama lain, kondisi dimana kecepatan evaporasi sama dengan kecepatan kondensasi  pada level molekuler. Suatu substansi yang berada pada kesetimbangan uap-cair umumnya disebut fluida jenuh (Wikipedia Indonesia ). Kesetimbangan uap-cair dapat ditentukan ketika ada variabel yang tetap (konstan) pada suatu waktu tertentu. Saat kesetimbangan model ini, kecepatan antara molekul-molekul campuran yang membentuk fase uap sama dengan kecepatan molekul-molekulnya membentuk cairan kembali. Data kesetimbangan uap cair merupakan data termodinamika yang diperlukan dalam perancangan dan  pengoperasian kolom-kolom distilasi. Pada prakteknya didalam pekerjaan ilmiah suatu kesetimbangan dianggap tercapai bila tidak ada lagi perubahan sifat/keadaan seperti yang ditunjukkan oleh praktek sama dengan sifat yang dihitung  berdasarkan metoda yang menggunakan anggapan kesetimbangan. Data komposisi uap ditampilkan pada diagram  komposisi versus temperatur   seperti yang ditunjukkan oleh gambar berikut : Tampilan data kesetimbangan uap-cair yang normal diperlihatkan oleh Gambar 11.3, kurva ABC menunjukkan suatu cairan dengan berbagai komposisi   3 yang mendidih pada berbagai temperatur, dan kurva ADC menunjukkan komposisi uapnya pada berbagai temperatur yang bersangkutan. Contoh, suatu cairan dengan komposisi  x 1  akan mendidih pada temperatur T  1 , dan komposisi uap yang berada dalam kesetimbangan dengan cairan tersebut adalah  y 1 (ditunjukkan oleh titik D). Berdasarkan kurva-kurva dalam gambar a , b  dan c  dapat disimpulkan bahwa untuk sembarang cairan dengan komposisi  x 1  akan menghasilkan uap dengan komposisi tertinggi dimiliki oleh komponen (zat) yang lebih mudah menguap ( volatile ). Di sini simbol-simbol  x dan  y  menunjukkan fraksi mol komponen yang lebih volatile  di dalam cairan dan di dalam uap. Pada gambar b  dan c  terdapat suatu komposisi kritis ( critical composition )  x g . Pada titik ini uap memiliki komposisi yang sama dengan cairan, dengan demikian tidak ada perubahan yang terjadi pada proses pendidihan. Campuran kritis itu disebut azeotrope . Diagram-diagaram yang disajikan di atas berlaku untuk kondisi tekanan konstan. Perlu diingat bahwa komposisi uap yang berada dalam kesetimbangan dengan cairan berubah dengan berubahnya tekanan. Untuk kegunaan proses distilasi, data kesetimbangan uap cair lebih  bermanfaat jika disajikan dalam bentuk grafik  x  versus  y  pada tekanan konstan, hal ini disebabkan kebanyakan operasi distilasi dalam industri dilakukan pada tekanan konstan. Grafik yang dimaksud ditunjukkan oleh gambar selanjutnya. Perlu dicatat bahwa temperatur bervariasi di sepanjang kurva.   4 2.2 Penguapan dan Kondensasi Parsil Ditinjau suatu eksperimen tentang kesetimbangan uap-cair untuk campuran benzen dan toluen. Campuran benzen dan toluen ditempatkan dan dipanaskan dalam suatu bejana yang tertutup sedemikian rupa sehingga tekanan di dalam bejana tetap konstan pada tekanan atmosfir, dan tidak ada komponen yang lepas (hilang) dari bejana. Pada eksperimen ini, fraksi mol komponen yang lebih volatile  (benzen) dalam campuran (fasa cair) divariasikan, dan harga-harganya di  plotkan pada sumbu absis. Untuk setiap harga fraksi mol benzen yang berbeda dalam campuran akan menghasilkan temperatur didih yang berbeda pula, dan harga-harganya diplotkan pada sumbu ordinat. Dari data eksperimen dihasilkan kurva-kurva seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 11.5. Kurva ABCJ menjelaskan hubungan antara fraksi mol komponen dalam fasa cair dengan temperatur didih, dan disebut sebagai kurva didih ( boiling curve ). Kurva ADEJ disebut sebagai kurva titik embun (dew point). Kurva ini menjelaskan temperatur ketika uap dengan komposisi  y  mulai mengembun.
Related Search
Related Documents
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks