BAB VI.docx

Publish in

Documents

54 views

Please download to get full document.

View again

of 4
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
BAB 6 PEMBAHASAN Dari penelitian ini diperoleh jumlah sampel sebanyak 53 orang pasien yang memenuhi kriteria dan bersedia menjadi responden dari rencana perhitungan sampel awal sebesar 32 orang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tipe kepribadian A dengan terjadinya hipertensi pada pria usia dewasa di Poli Umum Puskesmas Mojolangu, Malang. Pengambilan sampel pria pada penelitian ini didas
Transcript
  45 BAB 6 PEMBAHASAN Dari penelitian ini diperoleh jumlah sampel sebanyak 53 orang pasien yang memenuhi kriteria dan bersedia menjadi responden dari rencana perhitungan sampel awal sebesar 32 orang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tipe kepribadian A dengan terjadinya hipertensi pada pria usia dewasa di Poli Umum Puskesmas Mojolangu, Malang. Pengambilan sampel pria pada penelitian ini didasari pada beberapa alasan. Salah satu alasannya adalah pada usia dini tidak terdapat bukti nyata tentang adanya perbedaan tekanan darah antara laki-laki dan wanita. Akan tetapi, mulai pada masa remaja, pria cenderung menunujukkan memiliki rata-rata yang lebih tinggi. Perbedaan ini lebih jelas pada orang dewasa muda dan orang setengah baya. Perubahan pada masa tua antara lain dapat dijelaskan dengan tingkat kematian awal yang lebih tinggi pada pria pengidap hipertensi. Menurut Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan, komplikasi hipertensi meningkat pada laki-laki (Depkes, 2012). Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan hasil distribusi frekuensi usia pasien yang menjadi responden di Poli Umum Puskesmas Mojolangu, Malang, dari 53  pasien yang bersedia menjadi responden, terbanyak berusia >41 tahun yaitu sebanyak 30%. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa, tekanan darah cenderung meningkat seiring bertambahnya usia, kemungkinan seseorang menderita hipertensi juga semakin besar. Pada umumnya penderita hipertensi adalah orang-orang yang berusia 45 tahun ke atas namun pada saat ini tidak menutup kemungkinan diderita oleh orang berusia muda (Septiyani, 2010).  46 Prevalensi hipertensi lebih besar ditemukan pada pria, daerah perkotaan dan orang gemuk. Pada usia setengah baya dan muda, hipertensi ini lebih banyak menyerang  pria daripada wanita, umumnya usia >40 tahun (Depkes, 2012). Berdasarkan hasil penelitian mengenai tekanan darah pada pasien di Poli Umum Puskesmas Mojolangu, Malang, diketahui bahwa dari 53 orang yang menjadi responden, terdapat 17 orang pasien (32,1%) yang memiliki tekanan darah dalam kategori normal, kemudian terdapat 10 orang pasien (18,9 %) memiliki tekanan darah dalam kategori prehipertensi, kemudian terdapat 12 orang pasien (22,6 %) memiliki tekanan darah dalam kategori hipertensi stage 1, dan terdapat 14 orang (26,4 %) memiliki tekanan darah dalam kategori hipertensi stage 2. Hal ini sesuai dengan pernyataan JNC-VII bahwa, hipertensi dapat dibagi menjadi empat kategori, yaitu kategori normal, prehipertensi, hipertensi stadium 1, dan hipertensi derajat 2. Penentuan derajat hipertensi sangat bermanfaat untuk menentukan  pengobatan hipertensi. (Manjoer et al., 2010). Berdasarkan hasil penelitian, dari 53 orang pasien yang menjadi responden,  pada 38 orang (71,70%) dengan tipe kepribadian A, terdapat 22 orang (41,50%) yang memiliki tekanan darah tidak normal/hipertensi dan 16 orang (30,20%) memiliki tekanan darah normal/normotensi. Selanjutnya untuk 15 orang (28,30%)  pasien dengan tipe kepribadian non-A, terdapat 4 orang (7,50%) yang memiliki tekanan darah tidak normal/hipertensi dan 11 orang (20,80%) memiliki tekanan darah normal/normotensi. Hasil penelitian ini sesuai dengan dengan penelitian sebelumnya, dimana disebutkan kelompok hipertensi yang sedang dalam  pengobatan dengan obat anti hipertensi, dengan kriteria eksklusi apabila pasien hamil, riwayat stroke, infark miokard, dan angina pektoris. Proporsi kepribadian  47 tipe A lebih tinggi pada kelompok hipertensi dibandingkan kelompok yang normo tensi (57,5% : 24,9%), dengan risiko hipertensi empat kali lebih besar pada responden dengan kepribadian tipe A dibandingkan dengan yang tanpa kepribadian tersebut (OR = 4,1; 95%CI = 2,7  –   6,1). Penelitian kohort yang membandingkan  prevalensi kepribadian tipe A pada 109 pasien hipertensi dan 109 subjek normotensi  pada usia, gender, etnik, serta pekerjaan sudah disetarakan. Diagnosis hipertensi ditentukan melalui lima kali pemeriksaan selama lima bulan. Dari hasil  pemeriksaan, didapatkan kepribadian tipe A lebih banyak pada kelompok hipertensi (78%) daripada kelompok normotensi (60%) (Chitrayana dkk, 2014). Berdasarkan hasil penelitian mengenai distribusi frekuensi pasien yang memiliki tipe kepribadian dengan stadium hipertensi menunjukkan bahwa pasien dengan tipe kepribadian A berjumlah 38 orang, dari jumlah tersebut 28,9% mengalami hipertensi stadium 1 dan 28,9% mengalami hipertensi stadium 2, diikuti 28,9% lainnya normo tensi dan 13,2% sisanya masuk dalam kategori prehipertensi. Sedangkan pasien dengan tipe kepribadian non-A berjumlah 15 orang, dari jumlah tersebut 6,7% mengalami hipertensi stadium 1, 20% mengalami hipertensi stadium 2, dan sisanya 40% memiliki tekanan darah normal serta 33,3% lainnya masuk kategori prehipertensi. Angka kejadian hipertensi pada pasien yang memiliki tipe kepribadian A lebih tinggi dibandingkan dengan pasien dengan kepribadian non-A, dan memiliki rasio hampir sama pada kejadian hipertensi stadium 1 maupun stadium 2. Hasil uji chi square menunjukkan bahwa hubungan antara tipe kepribadian A dengan hipertensi adalah bermakna (p<0,05). Dapat disimpulkan  bahwa terdapat hubungan antara tipe kepribadian A dengan hipertensi.  48  Nilai rasio prevalensi sebesar 2.15, dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa orang dengan tipe kepribadian A memiliki resiko hipertensi 2.15 kali lipat dibandingkan dengan responden dengan tipe kepribadian non A. Pasien yang memiliki kepribadian tipe A mempunyai peningkatan kerja sistem saraf simpatis dan hemodinamik tubuh yang memengaruhi denyut jantung dan tekanan darah. Penelitian eksperimental dan bukti klinis menunjukkan central neural srcin  dari peningkatan sistem simpatis. Temuan ini mendukung beberapa penelitian sebelumnya, kepribadian tipe A merupakan faktor risiko independen dari hipertensi (Chitrayana dkk, 2014). Penelitian ini dianalisa dan dijelaskan berdasarkan data statistik yang dilakukan dalam kurun waktu tertentu, akan tetapi penelitian ini masih menemui hambatan sehingga memiliki keterbatasan, yaitu data yang diperoleh dinilai secara subyektif, tergantung kejujuran responden.
Related Search
Related Documents
BAB VI.docx
Sep 20, 2017

BAB VI.docx

BAB VI
Sep 20, 2017

BAB VI

BAB IV.docx
Sep 20, 2017

BAB IV.docx

BAB ITBC.docx
Sep 20, 2017

BAB ITBC.docx

BAB 2.docx
Sep 20, 2017

BAB 2.docx

BAB III.docx
Sep 20, 2017

BAB III.docx

asep BAB VI.docx
Sep 20, 2017

asep BAB VI.docx

PMKP BRU BAB VI.docx
Sep 21, 2017

PMKP BRU BAB VI.docx

BAB VI.docx
Sep 21, 2017

BAB VI.docx

BAB VI.docx
Sep 23, 2017

BAB VI.docx

View more...
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks