Jurnal

Publish in

Documents

171 views

Please download to get full document.

View again

of 9
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
jurnal
Transcript
  74 PENDAMPINGAN GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI TAMAN KANAK-KANAK AL-MADANI PONTIANAK TENGGARA Dian Dwi lestari, Mawardi, Sri Nugroho Jati PG-PAUD FKIP Universitas Muhammadiyah Pontianak Email: irma_oktaviana66@yahoo.com  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang pendampingan yang dilakukan guru dalam proses  pembelajaran anak berkebutuhan khusus di Taman Kanak-kanak Al-Madani Pontianak. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh: (a) gaya yang dilakukan guru dalam proses pendampingan yaitu menggabungkan dari ketiga gaya pendampingan otoriter, permisif dan demokratis (b) layanan yang diberikan oleh guru yaitu untuk menstimulasi potensi yang dimiliki oleh anak berkebutuhan khusus tersebut (c) hambatan yang sering temui guru pada saat melakukan pendampingan ialah oleh kurikulum dan fasilitas yang ada disekolah (d) solusi yang diberikan untuk mengatasi hambatan tersebut yaitu melakukan kerja sama dengan pihak-pihak yang dapat membantu guru dalam proses pendampingan seperti: Kepala Sekolah, Yayasan, Dokter dan Psikolog. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa gaya  pendampingan yang dilakukan guru kelas B2 sudah cukup baik, layanan yang diberikan guru yaitu dengan memperlakuan anak secara hangat, lembut, tidak berkata kasar, dan melakukan penyesuaian diri terhadap anak, hambatan yang ditemui guru saat melakukan pendampingan yaitu bersumber dari anak dankurikulum. Kata Kunci:  Pendampingan, Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) ABSTRACT This research uses descriptive method with qualitative approach. Based on the results obtained: (a) the style of the teachers in the mentoring process that combines the three styles mentoring authoritarian, permissive and democratic (b) the services provided by the teacher is to stimulate the  potential of children with special needs are (c) barriers often encounter the teacher when guidance is  by the curriculum and the existing facilities in schools (d) given solution to overcome these obstacles is to work together with parties that can assist teachers in the process of assistance such as: Principal, Foundation, Doctors and Psychologists, Cooperation of the parties intended for the smooth process of learning.From the results of this study concluded that the style of mentoring teachers do class B2 is good enough, the service provided by the teacher is children in a warm, soft, not harsh words, and make adjustments to the child, the obstacles encountered by teachers when mentoring is sourced of children and the curriculum. Keywords:  Accompaniment, Child Learning Special needs (ABK)    75 PENDAHULUAN Pembelajaran merupakan suatu sistem atau proses membelajarkan subjek didik/pembelajar yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan di evaluasi secara sistematis agar subjek didik/pembelajar dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Kokom komalasari (2013: 2). Proses pembelajaran merupakan proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran/media dan penerima pesan adalah komponen-komponen proses komunikasi. Proses yang akan dikomunikasikan adalah isi ajaran ataupun didikan yang ada dalam kurikulum, sumber pesannya bisa guru, siswa, orang lain ataupun  penulis buku dan media. Sedangkan, pembelajaran untuk anak berkebutuhan khusus ( child with special needs ) membutuhkan suatu pola tersendiri sesuai dengan kebutuhannya masing-masing, yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Sehingga dalam penyusunan program pembelajaran berbeda, hendaknya guru memiliki data pribadi setiap peserta didiknya Hal ini lebih dipertegas Menurut pasal 15 UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas,  bahwa jenis pendidikan bagi Anak berkebutuan khusus adalah Pendidikan Khusus. Pasal 32 (1) UU No. 20 tahun 2003 memberikan batasan bahwa Pendidikan khusus merupakan  pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses  pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Sehingga dalam proses pembelajaran ini berlangsung anak  berkebutuhan khusus (ABK) membutuhkan seseorang yang mendampinginya, agar anak  paham dan mengerti terkait pembelajaran yang sedang berlangsung. Pendamping dalam hal ini dimaksudkan adalah guru. Guru adalah pelaku pembelajaran, sehingga dalam hal ini guru merupakan faktor yang terpenting. Di tangan gurulah letak keberhasilan pembelajaran. Khoiru Ahmadi, Sofan Amri dan Tatik Elisah, (2011: 19). Dalam pepatah jawa, guru adalah sosok yang digugu omongane lan ditiru kelakuane (dipercaya ucapannya dan dicontoh tindakannya). Seorang guru harus menjaga citra, wibawa, keteladanan, integritas, dan kredibilitasnya, walau bagaimana keadaanya dan dimana pun keberadaannya. Sebab, ia tidak hanya mengajar didepan kelas, tapi  juga mendidik, membimbing, menuntun, dan membentuk karakter moral yang baik bagi anak didiknya.  Namun kenyataan pada saat peneliti melaksanakan tugas kuliah Praktek Pengalaman Lapangan di Taman Kanak-kanak Al-Madani Pontianak, tepatnya pada bulan Februari. Peneliti melihat seorang anak yang berusia 8 tahun mengalami keterlambatan dan keterbatasan dalam aspek perkembangan seperti: kesulitan berbicara, mi salnya mengucapkan kata “makan” menjadi “natan”, kesulitan berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman sebaya.  Selain itu ia juga mengalami keterlambatan dalam perkembangan fisik motorik serta kemampuan kognitif pengetahuan akademik dasar (seperti pengetahuan warna) membaca dan menulis rendah jika dibandingkan dengan teman seusianya. Anak tersebut sekolah bersama dengan anak yang tergolong normal, kelas yang digunakan untuk proses pelaksanaan  pembelajarannya juga disamakan. Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka timbul permasalahan untuk diteliti yaitu: 1) Bagaimana gaya pendampingan guru dalam proses pembelajaran anak berkebutuhan khusus (ABK) di Taman Kanak-kanak Al-Madani Pontianak, 2) Apa saja layanan yang telah diberikan pendamping/guru dalam proses pembelajaran anak berkebutuhan khusus (ABK) di Taman Kanak-kanak Al-Madani Pontianak, 3) Apa saja hambatan guru dalam pendampingan  proses pembelajaran anak berkebutuhan khusus (ABK) di Taman Kanak-kanak Al-Madani Pontianak, 4) Bagaimana cara mengatasi hambatan guru dalam pendampingan proses  pembelajaran anak berkebutuhan khusus (ABK) di Taman Kanak-kanak Al-Madani Pontianak.  76 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendampingan Guru dalam proses pembelajaran nak  berkebutuhan khusus (ABK) di taman kanak-kanak Al-Madani Pontianak. TINJAUAN PUSTAKA a.   Pendampingan Kegiatan Pendampingan disebut sebagai suatu proses karena didalamnya terdapat serangkaian kegiatan dan daya upaya yang dilakukan pendidik baik secara individual maupun secara kolaboratif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Kegiatan pendampingan perkembangan Anak usia dini didasarkan pada prinsip-prinsip dasar hakikat perkembangan anak usia dini M. Ramli (2005:17). Morison dalam buku M. Ramli (2005:17) menyatakan bahwa “  pendampingan ialah suatu proses perawatan dan  pengasuhan pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini secara optimal ” . Perawatan dimaksudkan sebagai upaya yang dilakukan pendidik untuk menstimulasi perkembangan aspek fisik motorik anak. Dan pengasuhan adalah segala upaya yang dilakukan pendamping/guru untuk menstimulasi perkembangan aspek kognitif, bahasa dan sosial emosional yang telah dimiliki masing-masing anak. Dalam pertumbuhan dan perkembangan setiap anak mengalami tahapan-tahapan yang berbeda antara satu dengan lainnya. Tujuan dari pendampingan ialah untuk membantu anak dalam mengembangkan potensi dan kemampuan yang dimiliki anak. M. Ramli (2005:18) mengatakan bahwa tujuan secara umum guru melakukan pendampingan adalah untuk membantu anak usia dini mencapai  pertumbuhan dan perkembangan yang optimal sesuai dengan tahapan-tahapan  perkembangannya. Sedangkan tujuan pendampingan secara khusus meliputi: 1.   Mengembangkan keseluruhan aspek kepribadiannya seperti, motorik kasar, motorik halus, kognitif, bahasa dan sosial emosional. 2.   Dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangan dengan berhasil dan berkembang ke arah  pribadi yang unggul. Tujuan dari pendampingan ialah untuk membantu anak dalam mengembangkan potensi dan kemampuan yang dimiliki anak. M. Ramli (2005:18) mengatakan bahwa tujuan secara umum guru melakukan pendampingan adalah untuk membantu anak usia dini mencapai  pertumbuhan dan perkembangan yang optimal sesuai dengan tahapan-tahapan  perkembangannya. Dalam pelaksanaan pendampingan proses pembelajaran anak usia dini, pendidik/guru cenderung menggunakan gaya pendampingan tertentu sebagai wujud dari pandangannya tentang pendidikan anak. Menurut M. Ramli (2005:26) gaya pendampingan pembelajaran dikelompokkan menjadi tiga macam yakni : gaya otoriter, gaya permisif dan gaya demokratis. Layanan yang diberikan pendamping atau guru terhadap anak berkebutuhan khusus disesuaikan dengan prinsip pembelajaran anak berkebutuhan khusus.Maka berkenaan dengan layanan tersebut, Joppy Liando dan Aldjon Dapa (2007:146) mengungkapkan terdapat  beberapa bentuk kegiatan spesifik yang dapat dilaksanakan guru dalam kaitan penerapan  bimbingan di kelas, antara lain sebagai berikut: a.   Guru membuka kegiatan belajar mengajar dengan upaya melakukan penyesuaian diri terhadap pribadi anak.  b.   Dalam proses pembelajaran, guru memperlakukan anak secara hangat, lembut, ramah, tenang, dan tidak menegangkan di kelas. c.   Guru menghargai martabat anak sebagai anak berkebutuhan khusus dengan cara tidak memperlakukan siswa secara kasar, tidak menekan perasaan anak dengan kata-kata kasar. d.   Guru memberikan perhatian terhadap pribadi anak agar bisa mengembangkan diri untuk mencapai optimalisasi diri dengan memberikan bantuan kepada anak yang mengalami kesulitan belajar, menegerjakan tugas, mengurus dan merawat diri sendiri, menyesuaikan diri, dan komunikasi sosial.  77 e.   Guru menanamkan kesadaran pada diri anak melalui pemberian pengarahan dan pengertian- pengertian tentang berbagai perilaku negatif yang ditampilkannya dalam belajar. f.   Guru bersifat empatik, terbuka melayani keluhan anak, menerima dan memperlakukan secara wajar agar dapat mengembangkan diri sendiri untuk mencapai kemandirian. g.   Guru mendorong perkembangan pribadi dan sosial anak melalui pemberian rangsangan dan dukungan untuk meningkatkan aktivitas belajar, latihan, kemampuan sosial, serta menanamkan kepercayaan diri pada anak bahwa meskipun mengalami kekurangan tetapi mereka masih bisa berkembang. h.   Guru memahami pribadi anak yang mengalami kesulitan dalam hal-hal abstrak melalui  penyajian berbagai aspek pembelajaran secara kongkrit atau membawa langsung anak pada situasi yang sesungguhnya. i.   Guru menyajikan informasi tentang aspek-aspek yang berhubungan dengan pemahaman anak tentang nilai-nilai kehidupan sosial, kemampuan kerja, kemampuan mengendalikan diri, dan pengembangan pribadi anak menjadi individu yang dewasa untuk mendapatkan  penerimaan dan pengakuan dari masyarakat. b.   Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus Kata dasar “pembelajaran” adalah belajar. Kata pembelajaran lebih menekankan pada kegiatan belajar peserta didik secara sungguh-sungguh yang melibatkan aspek intelektual dan soaial emosional. Zainal Arifin (2009:10) mengem ukakan “bahwa pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis dan sistemik, yang bersifat interaktif dan komunikatif antara  pendidik(guru) dengan peserta didik, sumber belajar dan lingkungan untuk menciptakan suatu kondisi yang memungkinkan terjadinya tindakan belajar peserta didik, baik dikelas maupun diluar kelas, dihadiri guru secara fisik atau tidak, untuk menguasai kompetensi yang telah ditentukan”.  Anak dengan berkebutuhan khusus ( children with special needs ) pada umumnya ialah anak-anak yang mengalami gangguan dalam segi fisik dan mental. Menurut Dewi Pandji (2013:3) Anak berkebutuhan khusus atau yang sering disebut “anak  - anak spesial” adalah julukan manis untuk anak special needs. Anak spesial merupakan anak-anak yang tidak bisa disamakan dengan kebanyakan anak-anak karena mereka terlahir  berbeda, mempunyai kemampuan inteligensia  dan mental yang secara signifikan berbeda juga,  baik itu lebih rendah maupun lebih tinggi dan tentu saja, memerlukan perlakuan khusus yang tidak bisa dipukul sama rata dengan anak-anak pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus  berarti adalah anak-anak yang menyandang kelainan ataupun kekurangan secara fisik dan mental. Menurut Dewi Pandji (2013:4) anak berkebutuhan khusus atau anak   special needs diklasifikasikan sebagai berikut: a.   Tunawicara Tunawicara adalah gangguan bicara yang dialami seseorang dan berpotensi menghambat komunikasi verbal yang efektif Bandi Delphie (2006:102). Oleh sebab itu mereka tidak terlalu  paham dengan apa yang dimaksudkan dan dikatakan oleh oran lain.  b.   Tunagrahita (  Mental Retardation ) Tunagrahita ( mental retardation ) disebut sebagai anak dengan hendaya perkembangan ( Child with development impairment  ). Tunagrahita adalah individu yang memiliki tingkat intellegensia  yang berada dibawah rata-rata disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi  perilaku yang muncul dalam masa perkembangan. Dewi Pandji (2013:6). Menurut Bandi Delphie (2006:17) karakteristik anak dengan hendaya perkembangan (tunagrahita), sebagai berikut:

Previous Document

Ppi

Next Document

STUDENT RESOURCES

We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks