Konstruksi_Pemikiran_Quraish_Shihab_Tent.pdf

Publish in

Documents

104 views

Please download to get full document.

View again

of 17
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
Konstruksi Pemikiran Quraish Shihab Tentang Hukum Jilbab KONSTRUKS PEMIKIRAN QURAISH SHIHAB TENTANG HUKUM JILBAB Kajian Hermeneutika Kritis Chamim Thohari Universitas Muhammadiyah Malang Abstract The research inspected difference of opinions between majority of the moslem scholars and the contemporary of moslem reformers abou
Transcript
  Konstruksi Pemikiran Quraish Shihab Tentang Hukum Jilbab    75 KONSTRUKS PEMIKIRAN QURAISH SHIHABTENTANG HUKUM JILBAB Kajian Hermeneutika KritisChamim Thohari Universitas Muhammadiyah Malang Abstract The research inspected difference of opinions between majority of the moslem scholars and the contemporary of moslem reformers about law of using jilbab in Islam.One of the moslem scholar that chooses a certain opinion that using jilbab not be obligatory for the muslimah, is Quraish Shihab. With content analysis method,this research analyzes several of Quraish Shihab’s opuses (books) and opinions in Tafsir al-Misbah that is based on reference for this research. Based on discovery of this study, researcher concludes that opinions of Quraish Shihab is influenced by  feminism movement that had demanded freedom for women, than finally it influenced also to the opinions of the contemporary moslem scholars in Egypt and Tunisia, sothey did not make compulsory in using jilbab. PENDAHULUAN Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perbedaan antara jumhur ulama denganpara pembaharu Islam kontemporer tentang hukum jilbab. Salah satu yang berpendapat tidak wajibnya jilbab adalah Quraish Shihab, seorang ulama danmufasir Indonesia yang berpendapat bahwa wanita Indonesia tidak wajibmemakai jilbab. Penulis merasa penting mengkaji masalah ini karena sebelummelakukan pemihakan ilmiah, tentunya harus diketahui pendapat yang paling  rajîh  , pendapat yang sesuai dengan kondisi sosial dan kebutuhan masyarakat,serta kelebihan dan kelemahan masing-masing argumen, baik yang mewajibkanmaupun yang tidak mewajibkan jilbab. Karena sebagaimana diketahui bahwapara ulama masa lalu sepakat tentang bagian rambut wanita sebagai aurat,namun para ulama kontemporer, juga mayoritas ulama Indonesia pada masalalu justru membolehkan wanita muslimah memakai kerudung (yang menampakkan sebagian rambut dan leher wanita). Fakta ini tentunyamenimbulkan berbagai pertanyaan di benak kita yang ingin sekali dicarikanjawabannya.  Volume 14 Nomor 1 Januari - Juni 2011 76 Berangkat dari kegelisahan di atas, setidaknya ada empat pertanyaan pokok yang ingin dicarikan jawabannya melalui penelitian ini, yaitu: Pertama  , bagaimanapandangan Quraish Shihab tentang penafsiran para ulama masa lalu dankontemporer tentang ayat-ayat dan hadis-hadis jilbab? Kedua  , metode-metodeapa yang dipakai dalam membangun argumennya? Ketiga  , adakah faktoreksternal yang mempengaruhi pendapat Quraish Shihab? Keempat  , apa kelebihandan kekurangan argumen Quraish Shihab?Penelitian ini menggunakan metode analisis isi (  content analysis method   ), sumberdata berasal dari beberapa karya Quraish Shihab, diantaranya Tafsir al-Misbah, yang merupakan referensi pokok yang tidak bisa diabaikan dalam penelitianini. Pengumpulan data dengan cara mengklasifikasikan ayat-ayat dan hadis-hadis yang dijadikan sumber perdebatan para ulama masa lalu dan kontemporertentang hukum memakai jilbab dalam bentuk per-tema maupun per-bab.Selanjutnya analisis dilakukan dengan beberapa metode berikut: Pertama  , metode deduktif   digunakan untuk menjelaskan dan menyimpulkan prinsip-prinsip danteori-teori thariqatul istinbath al-ahkam   yang digunakan, serta faktor yang mempengaruhinya. Kedua  , metode hermeneutika-kritis   digunakan untuk memahami dan kemudian melakukan analisa kritis atas sumber, metode danaplikasi ijtihad Quraish Shihab dalam masalah yang diteliti. PEMBAHASAN  Ada dua sumber hukum yang yang dipakai para ulama dalam menentukanbatas aurat wanita serta inplikasinya dengan hukum memakai jilbab, yaitu al-Qur’an dan Hadis-hadis Nabi saw. Kedua sumber hukum tersebut ditafsirkanoleh para ulama masa lalu sebagai perintah untuk menutup aurat bagi wanitamuslimah, akan tetapi para ulama kontemporer memiliki penafsiran yang berbeda dari para pendahulunya.  Ayat pertama  ini dipakai oleh para ulama sebagai dasar dalam menetapkanbatas aurat wanita, yaitu firman Allah dalam QS. An-Nur [24] : 31.  “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan  pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan  perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya…”  Perbedaan pendapat muncul di kalangan ulama dalam memaknai kalimat illâ mâ zhahara minhâ   (kecuali apa yang nampak darinya (perhiasannya)) dalam ayat  Konstruksi Pemikiran Quraish Shihab Tentang Hukum Jilbab    77  ini. Al-Qurthubi mengemukakan bahwa Ibnu Mas’ud memahami makna illâ mâ zhahara minhâ   sebagai pakaian. Sedangkan Sa’id bin Jubair, Atha’ dan al- Auza’i berpendapat bahwa yang boleh dilihat adalah wajah wanita, kedua telapak tangan di samping busana yang dipakainya (Al-Ghazali, 1989:58). SementaraIbnu Abbas (Katsir, 1986), Qatadah dan Miswar bin Makhzamah berpendapatbahwa yang boleh dilihat termasuk juga celak mata, gelang, setengah dari tanganyang dalam kebiasaan wanita Arab dihiasi dengan pacar, anting, cincin dansemacamnya (Al-Qurthubi, 1998:335). Menurut keterangan Ibnu Umar, Ikrimahdan Atha’ dalam riwayat Ibnu Katsir, perhiasan zhahir   ialah muka dan keduatelapak tangan, serta cincin. Riwayat Ibnu Katsir yang lain menyatakan bahwayang dimaksud dengan perhiasan zhahir   ialah muka dan telapak tangan (Al-Dimsiqy, t.th:335). Sedangkan menurut Tafsir Khazîn  , Ibnu Mas’ud menerangkanbahwa kecuali apa yang zhahir   itu adalah pakaian (Al-Khazin, 1399 H:235).Ibnu Jarir al-Thabari, guru besar para mufasir, menjelaskan makna kalimat illâ mâ zhahara minhâ   tersebut sebagai muka dan tangan, dan mencakup pula celak mata, cincin, gelang dan cat kuku. Menurut al-Thabari, tafsiran yang paling benar adalah pendapat ijma  ’ bahwa wajib bagi pria yang menjalankan shalatuntuk menutup semua bagian tubuh yang disebut aurat, demikian pula bagiperempuan yang menjalankan shalat, kecuali muka dan telapak tangannya. Jikatelah ada kesepakatan pendapat tentang itu, maka tak perlu diragukan lagi,bahwa kaum perempuan tetap diperbolehkan membuka bagian tubuhnya yang tidak termasuk aurat, karena tidak diharamkan. Itulah yang dimaksud dengankalimat illâ mâ zhahara minhâ   (Al-Thabari, 1972:84).Selanjutnya pakar yang lain, Ibnu Asyur berpendapat bahwa yang dimaksudhiasan adalah hiasan yang bersifat khilqiyah   (melekat) seperti wajah, pergelangantangan, kedua siku sampai bahu, payudara, kedua betis dan rambut. Sedangkanmaksud kalimat illâ mâ zhahara minhâ   mengacu pada hiasan khilqiyah   yang dapatditoleransi karena dapat menimbulkan kesulitan apabila ditutup seperti wajah,kedua tangan dan kedua kaki (Asyur, t.th:206). Banyak ulama memahamikebiasaan yang dimaksud adalah kebiasaan pada masa turunnya al-Qur’an (Al- Albani, 1413 H:53).Menanggapi perbedaan pandangan para mufasir sebelumnya, Quraish Shihabberpendapat bahwa masing-masing penganut pendapat di atas sebatasmenggunakan logika dan kecenderungannya serta dipengaruhi secara sadaratau tidak dengan perkembangan dan kondisi sosial masyarakatnya. Batas aurat wanita tidaklah secara jelas ditegaskan dalam ayat tersebut. Sehingga ayat tersebut  Volume 14 Nomor 1 Januari - Juni 2011 78 tidak seharusnya menjadi dasar yang digunakan untuk menetapkan batas aurat wanita (Shihab, 2006:67). Selain itu, Quraish juga menegaskan bahwa perintahdan larangan Allah dan Rasul-Nya tidak selalu harus diartikan wajib atau haram,tetapi bisa juga perintah itu bermakna anjuran, sedangkan larangan-Nya dapatberarti sebaiknya ditinggalkan (Shihab, 2006:141-142).Sementara dalam memahami kalimat illâ mâ zhahara minhâ, Quraish Shihabberpendapat bahwa sangat penting untuk menjadikan adat kebiasaan sebagaipertimbangan dalam penetapan hukum, namun dengan catatan adat tersebuttidak lepas kendali dari prinsip-prinsip ajaran agama serta norma-norma umum.Karena itu ia sampai kepada pendapat bahwa pakaian adat atau pakaian nasionalyang biasa dipakai oleh putri-putri Indonesia yang tidak mengenakan jilbabtidak dapat dikatakan sebagai telah melanggar aturan agama (Shihab, 1996:179,2006:332-334).  Ayat kedua  yang menjadi bahasan pokok tentang pakaian wanita, yaitu firman Allah dalam QS. Al-Ahzab [33]:59. Wahai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya (ke seluruh tubuh mereka)”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi  Maha Penyayang. Ketika membaca ayat ini juga muncul masalah tentang makna  jilbab  , karena disini para mufasir berbeda pendapat. Ibnu Jarir meriwayatkan bahwaMuhammadi Ibn Sirin bertanya kepada Abidah al-Salamani tentang maksudpenggalan ayat itu, lalu Abidah mengangkat semacam selendang yang dipakainyadan memakainya sambil menutup kepalanya hingga menutupi pula kedua alisnyadan wajahnya dan membuka mata kirinya untuk melihat dari arah sebelahkirinya. Al-Suddi menyatakan bahwa wanita menutup salah satu matanya dandahinya, demikian jika bagian lain dari wajahnya kecuali satu mata saja. Pakartafsir Al-Alusi menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kata ‘ alaihinna   adalahseluruh tubuh mereka. Akan tetapi menurutnya ada juga yang menyatakanbahwa yang dimaksud adalah di atas kepala   mereka atau wajah mereka   karenayang nampak pada masa jahiliyah adalah wajah mereka (Al-Alusi, 1985:84). Al-Biqa’i menjelaskan beberapa pendapat seputar makna  jilbab  . Diantaranyaadalah baju yang longgar atau kerudung penutup kepala wanita, atau pakaianyang menutupi baju dan kerudung yang dipakainya, atau semua pakaian yang 
Related Search

Previous Document

Leatherback Sea Turtles

Next Document

O BEM SEMPRE

We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks