LAPORAN.docx

Publish in

Documents

31 views

Please download to get full document.

View again

of 5
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
LAPORAN FORUM GRUP DISCUSSION SKENARIO 1 oleh Nama : Abdurrahman Hanif NIM : 15/385634/KH/08632 FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2017 PENDAHULUAN Salah satu penyakit yang sering dilaporkan menyerang ternak kambing dan Domba di Indonesia adalah penyakit Ecthyma Contagiosa atau yang biasa disebut Orf. Penyakit Orf ini adalah penyakit kambing dan domba menular yang um
Transcript
  LAPORAN FORUM GRUP DISCUSSION SKENARIO 1 oleh  Nama : Abdurrahman Hanif  NIM : 15/385634/KH/08632 FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2017  PENDAHULUAN  Salah satu penyakit yang sering dilaporkan menyerang ternak kambing dan Domba di Indonesia adalah penyakit Ecthyma Contagiosa atau yang biasa disebut Orf. Penyakit Orf ini adalah penyakit kambing dan domba menular yang umum dan merupakan penyakit viral yang sangat infeksius. Penyakit ini ditandai dengan terbentuknya lesi-lesi pada kulit berupa keropeng, bernanah, basah, terutama pada daerah moncong dan bibir. Anak domba dengan umur 3-6 bulan paling banyak menderita, meskipun yang berumur beberapa minggu dan hewan dewasa juga dapat menderita sangat parah. Diketahui juga bahwa penyakit orf pada kambing dapat menular ke manusia (zoonosis) lewat luka abrasi, atau saat memerah susu, atau karena kelalaian pada saat melakukan vaksinasi. Penyakit ini pertama kali dilaporkan oleh Van Der Laan tahun 1914 pada kambing di Medan, Sumatra Utara, Kemudian Bubberman dan Kraneveld (1931) melaporkan kejadian penyakit tersebut di Bandung, Jawa Barat. Penyebaran  penyakit Orf juga terjadi di daerah Jawa, Sumatra Barat, Sulawesi Selatan, Bali dan Papua. Menurut data lain yang menyebutkan bahwa sebanyak 20 provinsi sebagai daerah tertular sampai tahun 1988 (Adjid, 1992).   ETIOLOGI   Orf disebabkan oleh virus parapox dari family poxviridae dan termasuk dalam genus parapox virus (Fauquet dan Mayo, 1991; Fenner dkk., 1998). Virus Orf berukuran relatif besar sekitar 300 - 450 nm x 170-260 nm dan struktur luarnya seperti rajutan  benang wol (Kluge dkk., 1972). Merupakan virus tipe DNA yang berbentuk ovoid (Mercer dkk., 1997). Agen penyebab penyakit orf adalah virus yang termasuk dalam kelompok parapoks dari keluarga virus poks. Virus ini sangat tahan terhadap kondisi lingkungan, di padang penggembalaan dan mampu hingga tahunan, tahan terhadap  pemanasan 50 o C selama 30 menit dan juga tahan terhadap pembekuan dan pencairan tetapi tidak tahan terhadap kloroform.  GEJALA KLINIK    Masa inkubasi berlangsung selama 2  –   3 hari. Mula-mula terbentuk papula, vesikula atau pustule pada daerah sekitar mulut. Vesikula hanya terlihat selama beberapa  jam saja, kemudian pecah/ Isi vesikula ini berwarna putih kekuningan. Kira-kira pada hari ke 10 terbentuk keropeng tebal dan berwarna keabu-abuan. Bila lesi di mulut luas, maka hewan sulit makan dan menjadi kurus. Terjadi peradangan pada kulit sekitar mulut, kelopak mata, alat genital, ambing pada hewan yang sedang menyusui dan medial kaki,  pada tempat yang jarang ditumbuhi bulu.   Selanjutnya peradangan ini berubah menjadi eritema, lepuh-lepuh pipih mengeluarkan cairan, membentuk kerak-kerak. yang mengelupas setelah 1  –   2 minggu kemudian. Pada selaput lendir mulut yang terserang, tidak terjadi pergerakan. Apabila lesi tersebut hebat, maka pada bibir yang terserang terdapat kelainan yang menyerupai  bunga kool. Kalau tidak terkena Orf dan infeksi sekunder, lesi-lesi ini biasanya sembuh setelah penyakit tersebut berlangsung 4 minggu.   Pada hewan muda, keadaan ini bias sangat mengganggu, sehingga dapat menimbulkan kematian. Selain itu, adanya infeksi sekunder, memperhebat keparahan  penyakit. Pada bedah bangkai, tidak terlihat adanya kelainan-kelainan menyolok pada alat tubuh bagian bagian dalam, kecuali kelainan-kelainan pada kulit. Pada manusia, gejala penyakit ini berupa lepuh-lepuh pada tangan dan lengan. Lesi ini kemudian mengering serta mengeras estela 2  –   3 minggu.   DIAGNOSA   Diagnosa dapat dilakukan berdasarkan gejala klinis yang ditemukan. Jumlah  penderita yang biasanya lebih dari seekor dalam satu kelompok hewan sehingga memperkuat dugaan adanya Orf. Ukuran virus yang cukup besar dan bentuk virus yang spesifik, sehingga dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron juga memudahkan peneguhan diagnosa (Akoso, 1991). Pada domba dan kambing, lesi yang terlihat cukup spesifik, dapat didiagnosa secara klinik tanpa bantuan laboratorium.   Diferensial diagnosa atau diagnosa banding didasarkan atas kesamaan ciri  penyakit lain yang ditemukan. Namun, agen penyebab penyakit adalah berbeda. Diagnosa banding terhadap penyakit Orf pada kambing dan domba meliputi dermatitis karena jamur dan eczema facialis (Akoso, 1991) selain itu penyakit oleh virus cacar (sheeppox) serta tumor pada kulit serta bluetongue. CARA PENULARAN   Penyakit ini menular dengan cepat dari ternak terinfeksi ke ternak yang sehat melalui kontak langsung. Penularan dapat juga terjadi akibat hewan yang peka mengkonsumsi pakan yang tercemar oleh keropeng bungkul orf. Tingkat penularannya dapat mencapai 100%, sedangkan angka mortalitasnya relatif rendah, yaitu sekitar 2- 5,4%. Angka mortalitas pada kambing dapat mencapai 9,23% yang terjadi diakhir dan  awal tahun. Lebih lanjut juga dijelaskan bahwa kejadian orf cenderung meningkat pada musim hujan dibandingkan dengan musim kemarau. Pada kasus yang berat, mortalitas dapat mencapai 93% terutama pada ternak yang muda. Kelembaban udara yang tinggi dan kondisi stress juga dilaporkan sebagai pemicu timbulnya penyakit orf pada ternak. Penularan pada manusia juga terjadi melalui kontak dengan hewan yang sakit atau bahan- bahan yang tercemar oleh penyakit ini.   PENCEGAHAN ORF   Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan pemberian autovaksin pada daerahdaerah enzootic. Vaksin ini dibuat dari keropeng kulit yang menderita, dibuat tepung halus dan disuspensikan menjadi 1 % dalam 50 % gliserin. Vaksinasi pada hewan muda dilakukan berupa pencacaran kulit, diadakan pada kulit di daerah sebelah dalam  paha, sedangkan pada hewan dewasa dilakukan disekitar leher, beberapa minggu sebelum masa penyusuan.   Anak domba biasanya divaksinasi pada umur 1 bulan dan divaksinasi ulang pada umur 2  –   3 bulan agar memperoleh kekebalan yang maksimal. Reaksi timbul 7 hari setelah vaksinasi dan kekebalan berlangsung selama 8  –   28 bulan. Hewan di daerah endemic sebaiknya divaksinasi setiap tahun. Vaksin harus diperlakukan hati-hati agar tidak menginfeksi tangan. Sedang botol bekas awetan segera dibakar agar tidak mengkontaminasi tanah atau tempat diadakan vaksinasi. Pada daerah yang belum dijangkiti penyakit ini, tidak dianjurkan mengadakan vaksinasi. Karena Orf dapat menular pada manusia, maka pada waktu vaksinasi harus memakai sarung tangan.   PENGOBATAN ORF   Karena penyebabnya adalah virus, maka tidak ada obat yang efektif terhadap  penyakit Orf. Pengobatan yang dilakukan secara simptomatis hanya untuk mencegah infeksi sekunder oleh bakteri dan myasis oleh larva serta mempercepat kesembuhan, misalnya dengan penggunaan antibiotika berspektrum luas seperti oksitetrasiklin dan  pemberian multivitamin (Adjid, 1993). Cara lain yang lebih sederhana adalah pengerokan keropeng sampai terkelupas dan sedikit berdarah selanjutnya setelah itu dioleskan methylen blue pada lesinya. Selain itu, dapat juga dengan menggunakan yodium tincture 3% setelah sebelumnya lesi Orf digosok dengan tampon sampai terkelupas lalu di desinfeksi dengan menggunakan alcohol 70% serta dilanjutkan dengan langkah yang terakhir adalah dilakukan penyuntikan antibiotik untuk mencegah super infeksi. Obat anti lalat juga dianjurkan penggunaannya untuk mencegah myasis oleh larva lalat (Abu Elzein dan Housawi, 1997).
Related Documents
Kertas Laporan.docx
Sep 20, 2017

Kertas Laporan.docx

Promkes laporan.docx
Sep 21, 2017

Promkes laporan.docx

LAPORAN.docx
Sep 22, 2017

LAPORAN.docx

CONTOH LAPORAN.docx
Sep 22, 2017

CONTOH LAPORAN.docx

LAPORAN.docx
Sep 22, 2017

LAPORAN.docx

LAPORAN.docx
Sep 23, 2017

LAPORAN.docx

BAB II LAPORAN.docx
Sep 24, 2017

BAB II LAPORAN.docx

laporan.docx
Sep 24, 2017

laporan.docx

Laporan.docx
Sep 24, 2017

Laporan.docx

View more...
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks