Mawan Learning Issues Skenario a Blok 27

Publish in

Documents

132 views

Please download to get full document.

View again

of 6
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
learning issue
Transcript
  LEARNING ISSUES SKENARIO A BLOK 27 2017 Darmawan– 04011381419163 – PDU Gamma 2014 1 Learning Issue I – Weil’s Disease (Leptospirosis Berat) Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh spiroketa dari genus  Leptospira .Leptospirosis memiliki penyebaran yang merata hampir di seluruh dunia dan merupakan penyakitendemik pada negara dengan iklim tropis. Leptospirosis me- rupakan salah satu penyakit zoonosisyang paling sering terjadi. Penyakit ini menyebar melalui kon- tak, baik langsung ataupun tidak langsung, antara mukosa atau kulit manusia yang mengalami luka dengan hewan yang terinfeksiseperti tikus, anjing, kucing, dan hewan rumahan lain.Bentuk berat dari leptospirosis, Penyakit Weils, muncul sebagai ben- tuk stadium ikterik darileptospirosis. Penyakit Weils merupakan suatu bentuk leptospirosis berat yang melibatkan kegagalan beberapa organ seperti hati dan ginjal. A.Etiologi dan Faktor Risiko  Leptospira adalah genus spiroketa berukuran ! #$ %m dengan karakteristik ujung yang berbentuk kait dengan motilitas yang tinggi. &enus  Leptospira terdiri dari dua puluh jenis spesies, limadiantara- nya termasuk spesies yang menyebabkan penyakit misalnya  L. interrogans yang memilikikurang lebih #'$ sero(ar. )ransmisi leptospirosis terjadi melalui kontak langsung maupun tidak langsung dengan binatang yang seringkali terinfeksi  Leptospira , misalnya tikus, anjing, binatangternak, atau babi.  L. interrogans dengan sero(ar icterohaemorrhagie adalah salah satu sero(ar  Leptospira yang berhubungan erat dengan kejadian penyakit Weils, yaitu suatu kondisi leptospirosis berat yangmelibatkan kegagalan beberapa organ seperti hati dan ginjal yang ditandai dengan  jaundice , gagalginjal, syok dan perdarahan.Beberapa faktor risiko disebutkan berhubungan dengan infeksi  Leptospira , misalnya pekerjaan,higienitas, status ekonomi, tingkat pendidikan, faktor perilaku, faktor pelayanan kesehatan danfaktor demografi. B.Epidemiologi Leptospirosis merupakan penyakit zoonotik yang diduga paling luas penyebarannya di dunia. Penularan penyakit ini terjadi pada negara maju maupun negara berkembang dan terjadi baik didaerah urban maupun rural. Penularan terutama terjadi pada negara berkembang dengan iklimtropis dan kondisi sosial-ekonomi dan lingkungan mendukung. *i lndonesia leptospirosis tersebar antara lain di Pro(insi +awa Barat, +awa )engah, *aerahstimewa ogyakarta, Lampung, umatera elatan, Bengkulu, /iau, umatera Barat, umatera0tara, Bali, 1usa )enggara Barat, ulawesi elatan, ulawesi 0tara, 2alimantan )imur dan2alimantan Barat. C.atogenesis dan ato!isiologi  Leptospira dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui kontak langsung ataupun tidak langsungantara kulit yang terluka atau mukosa tubuh seperti mukosa konjungti(a ataupun mukosa oraldengan binatang ataupun ekskreta binatang yang terinfeksi  Leptospira     dapat berproliferasi danmenyebar dalam aliran darah ke seluruh tubuh kemudian berproliferasi dalam organ-organ   masainkubasi ber(ariasi antara #-3$ hari dengan rata-rata '-45 hari   antibodi terhadap  Leptospira terbentuk     Leptopspira mulai menghilang dari darah namun tetap bertahan hidup pada berbagaiorgan seperti otak, hati, paru-paru, jantung, dan ginjal.  LEARNING ISSUES SKENARIO A BLOK 27 2017 Darmawan– 04011381419163 – PDU Gamma 2014 2 iklus hidup Leptospira telah lengkap ketika  Leptospira mempenetrasi membran basalis daritubulus ginjal proksimal dan berikatan dengan sel-sel tubulus dan kemudian diekskresikan bersamadengan urin.  Pada ginjal, kerusakan yang disebabkan oleh  Leptospira   mengakibatkan kerusakan tubulusdistal dan tubulus kon(ulus hingga menyebabkan gagal ginjal akut   digambarkan dengan peningkatan kreatinin darah.  Pada hati,  Leptospira   menyebabkan kerusakan ikatan antar sel hepatosit, penyumbatan padakanalikuli hingga nekrosis fokal pada sel-sel periportal   memberikan gambaran  jaundice  pada penderita.  Pada paru   dapat terjadi perdarahan pulmonal yang diakibatkan lesi-lesi kapiler karenaterjadinya akti(asi endotel yang diikuti dengan deposisi imunoglobulin dan deposisikomplemen serta adhesi platelet. D. e#ala $linis &ambaran klinis infeksi Leptospira ber(ariasi dari gejala klinis ringan yang menyerupai penyakitlain seperti influenza, hingga bentuk klinis yang parah yakni penyakit Weils.  Pada fase leptospiremia, oganisme  Leptospira dapat dikultur dari darah dan memberikan gejalasistemik seperti demam, sakit kepala, mialgia. Pada pemeriksaan fisis dapat ditemukan adanya injeksi konjungti(a 6dilatasi pembuluh darahkonjungti(a tanpa adanya sekret7, eritema faring, nyeri otot terutama nyeri pada otot  gastrocnemius , ditemukannya rhonchi atau pekak pada pemeriksaan toraks apabila terjadi perdarahan pada paru-paru,  jaundice , maupun hiporefleksia terutama pada kaki.  Penyakit Weils ditandai dengan adanya kombinasi dari  jaundice , gagal ginjal akut 6 acutekidney injury 7, hipotensi dan perdarahan 6pada umumnya pada paru7. 2eterlibatan organ lainseperti adanya aseptik meningitis, u(eitis, kolesistitis, pankreatitis, dan akut abdomen jugadapat terjadi meskipun jarang. Pada jantung, dapat ditemukan perubahan segmen ) maupun gelombang ) serta right-bundle-branch-block 6/BBB7 yang menggambarkan terjadinya miokarditis.  LEARNING ISSUES SKENARIO A BLOK 27 2017 Darmawan– 04011381419163 – PDU Gamma 2014 3 2elainan kulit pada pasien  Leptospira umumnya menggambarkan adanya kelainan di darah,seperti  petechiae dan ekimosis. Pemeriksaan fisis pada abdomen dapat ditemukan adanyahepatomegali dan nyeri tekan akibat kolesistitis maupun hepatitis.&agal ginjal akut ditandai dengan adanya fase oliguria dengan gangguan kadar elektrolit darahyang menggambarkan disfungsi tubulus renal proksimal. 8ipotensi berhubungan dengannekrosis tubulus akut yang membutuhkan resusitasi cairan segera serta hemodialisa.0ntuk pendekatan manajemen praktis, klinisi membagi leptospirosis   menjadi # kelompok yaituleptospirosis anikterik dan leptospirosis ikterik.  Leptospirosis anikterik ditemukan pada 9$-:$; dari penderita leptospirosis. )ipe ini dikenal juga sebagai leptospirosis ringan. indroma anikterik biasanya terjadi selama sekitar 4 minggu bertepatan dengan munculnya antibodi. &ejala yang muncul pada penderita leptospirosisanikterik dapat berupa sakit kepala berat yang mirip seperti pada dengue, disertai nyeri retroorbita dan fotofobia. *emam bersifat bifasik dan akan kambuh setelah 3-5 hari remisi./ingannya gejala yang muncul menyebabkan pasien dengan leptospirosis anikterik tidak melakukan pengobatan.  Leptospirosis ikterik merupakan bentuk berat dari leptospirosis yang memiliki tingkatkeparahan yang tinggi dengan tanda klinis yang progresif. )erjadi pada sekitar '-4$; pasienleptospirosis. kterus yang terjadi pada leptospirosis tidak berhubungan dengan kejadiannekrosis hepatoseluler. Pada leptospirosis ikterik dapat ditemukan peningkatan serum bilirubin,kadar enzim transaminase, serta sedikit peningkatan alkali fosfatase. Leptospirosis ikterik biasadikaitkan dengan kejadian disfungsi hati, gagal ginjal, perdarahan, dan kegagalan multi organ. E.emeriksaan enun#ang <eskipun pemeriksaan penunjang dapat membantu penegakan diagnosis leptospirosis, diagnosisdefinitif leptospirosis dilakukan dengan penemuan organisme dalam isolasi kultur dalam mediumsemisolid 6misal= medium ><+8 ?letcher7 ataupun dengan pemeriksaan lapang gelap, tesserologis, dan deteksi *1@ spesifik dengan PA/.4.Pemeriksaan darah lengkapPada pemeriksaan *L dapat ditemukan leukositosis dengan  shift to the left serta peningkatanlaju endap darah 6L>*7. @danya perdarahan pada paru atau organ lain dapat memberikangambaran anemia. )rombositopenia adalah satu pemeriksaan yang umum ditemukan padainfeksi trombosit, walaupun adanya trombositopenia tidak berarti terjadi koagulasiintra(askular diseminata. Pada pasien dengan penyakit Weils dengan keterlibatan ginjal dapat ditemukan peningkatankadar ureum serta kreatinin darah. 2adar bilirubin juga dapat meningkat sebagai akibat  LEARNING ISSUES SKENARIO A BLOK 27 2017 Darmawan– 04011381419163 – PDU Gamma 2014 4 obstruksi pada le(el intrahepatik. 2adar alkalin fosfatase juga dapat meningkat hingga 4$ kalilipat.#.0rinalisisPada urinalisa dapat ditemukan proteinuria. Pada pemeriksaan mikroskopis dapat ditemukanleukosit, eritrosit, serta sedimen hyaline maupun sedimen granular.3.Pemeriksaan radiologis?oto thoraks dilakukan untuk melihat keterlibatan paru pada penyakit Weils. 0ltrasonografi60&7 abdomen juga dapat dilakukan untuk melihat adanya kolesistitis.5.Pemeriksaan serologis@ntibodi antileptospira dapat dideteksi dengan menggunakan tes aglutinasi mikroskopik 6<@)7meskipun ketersediaannya saat ini masih terbatas. elain <@), pemeriksaan serologis lainseperti >L@ g< atau @) juga dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis.'.<ikroskop lapang gelap*itemukannya spiroketa dengan mikroskop lapang gelap dapat membantu penegakan diagnosaleptospirosis. F.Diagnosis Banding *iagnosis banding leptospirosis akut tergantung pada fase dalam perjalanan penyakitnya. Pada faseakut ketika gejala yang dominan adalah demam dan mialgia, diagnosis banding leptospirosis antaralain seperti influenza, malaria, infeksi (irus seperti dengue atau chikungunya. Pada fase berat, penyakit Weils diagnosis banding dapat berkembang menjadi malaria, demam tifoid atau hepatitis(iral dengan berbagai macam keterlibatan organ. .enatalaksanaan Durasi pengobatan 10-14 hari. Apabila pasien mengalami Leptospirosis sedang/berat denganketerlibatan organ, misalnya ginjal, maka penatalaksanaan komplikasi harus dilakukan sesuaidengan organ yang terlibat, misalnya hemodialisa, transfusi darah, bahkan jika diperlukanperawatan di ruang rawat intensif (ICU). %.rognosis Prognosis leptospirosis ditentukan dengan adanya keterlibatan kerusakan organ, misalnya gagalginjal dan perdarahan pulmonal. Penyakit Weil’s memiliki tingkat mortalitas hingga 40%.Prognosis lebih buruk ditemukan pada penderita dengan usia lanjut, kadar kreatinin yangmeningkat, oliguria dan trombositopenia. Leptospirosis umumnya tidak menimbulkan sequelae yang permanen, namun apabila terjadi gagal ginjal maka diperlukan monitor ketat untuk menilaifungsi ginjal setelah fase akut terlewati. I.en&ega'an
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks