MENINGKATKAN_KEMAMPUAN_BERPIKIR_KREATIF.pdf

Publish in

Documents

20 views

Please download to get full document.

View again

of 13
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA MELALUI PEMECAHAN MASALAH TIPE ”WHAT’S ANOTHER WAY” Tatag Yuli Eko Siswono1 Whidia Novitasari2 Kurikulum 2006, mengamanatkan pentingnya mengembangkan kreativitas siswa dan kemampuan berpikir kreatif melalui aktivitas-aktivitas kreatif dalam pembelajaran matematika. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan pemecahan masalah tipe wha
Transcript
   1 MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA MELALUI PEMECAHAN MASALAH TIPE ”WHAT’S ANOTHER WAY” Tatag Yuli Eko Siswono 1  Whidia Novitasari 2   Kurikulum 2006, mengamanatkan pentingnya mengembangkan kreativitas siswa dan kemampuan berpikir kreatif melalui aktivitas-aktivitas kreatif dalam pembelajaran matematika. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan pemecahan masalah tipe what’s another way . Pemecahan masalah tipe itu menghendaki siswa menyelesaikan masalah dengan lebih satu cara. Penelitian deskriptif ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memecahkan masalah, mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kreatif, dan mengetahui respon siswa setelah diajar dengan pemecahan masalah tipe what’s another way . Sasaran penelitian adalah siswa kelas VII-4 SMP Negeri 2 Sidoarjo. Pengumpulan data melalui tes dan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah baik, karena siswa yang mendapat skor antara 50-100 sebanyak 52,5% dan kemampuan berpikir kreatif siswa meningkat, dan respon siswa positif.  Kata kunci : berpikir kreatif, kefasihan, fleksibilitas, kebaruan, pemecahan masalah “ what’s another way ’. PENDAHULUAN Kurikulum 2006, mengamanatkan pentingnya mengembangkan kreativitas siswa dan kemampuan berpikir kreatif melalui aktivitas-aktivitas kreatif dalam pembelajaran matematika. Kreativitas dapat dipandang sebagai produk dari berpikir kreatif, sedangkan aktivitas kreatif merupakan kegiatan dalam pembelajaran yang diarahkan untuk mendorong atau memunculkan kreativitas siswa. Kurikulum tersebut  juga bertujuan untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. Tetapi, kenyataan di kelas, guru lebih sering menggunakan tes tertulis dengan soal-soal yang rutin daripada menggunakan soal-soal yang mengandung pemecahan masalah. Ini berarti kemampuan berpikir kreatif masih jarang diperhatikan Dalam kehidupan nyata banyak masalah yang memerlukan matematika untuk pemecahannya. Menyadari peranan penting matematika dalam menyelesaikan masalah sehari-hari, siswa perlu diajarkan pemecahan masalah. Krulik dan Rudnick (1995:4) mendefinisikan pemecahan masalah adalah suatu cara yang dilakukan seseorang dengan menggunakan pengetahuan, ketrampilan, dan pemahaman untuk memenuhi tuntutan dari situasi yang tidak rutin. 1  Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Surabaya 2  SMP Negeri 2 Sooko, Mojokerto   2 Polya (Hudoyo, 2003:87) menjelaskan bahwa pemecahan masalah merupakan usaha untuk mencari jalan keluar dari suatu kesulitan untuk mencapai suatu tujuan yang tidak segera dapat dicapai. Memecahkan masalah dapat dipandang sebagai proses yang meminta siswa untuk menemukan kombinasi aturan-aturan yang telah dipelajarinya lebih dahulu yang digunakan untuk memecahkan masalah yang baru. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pemecahan masalah adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang untuk menyelesaikan masalah dengan menggunakan pengetahuan, ketrampilan dan pemahaman yang telah dimilikinya. Tujuan siswa dilatih menyelesaikan masalah dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah menurut Russefendi (1988:341) salah satunya adalah untuk meningkatkan motivasi dan menumbuhkan sifat kreatif. Dalam menyelesaikan masalah, setiap siswa memerlukan waktu yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh motivasi untuk menyelesaikan masalah dan strategi yang digunakan dalam memecahkan masalah yang berbeda. Russefendi (1988:239) menjelaskan untuk mengungkapkan atau menjaring manusia kreatif itu sebaiknya kita menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka (divergen), pertanyaan yang jawabannya bisa lebih dari sebuah dan tidak bisa diperkirakan dari sebelumnya. Di samping itu pertanyaan divergen menuntut yang ditanya untuk menduga, membuat hipotesis, mengecek benar tidaknya hipotesis, meninjau penyelesaian kita secara menyeluruh dan mengambil kesimpulan. Hal ini  juga diperkuat oleh Silver (1997:77) yang mengatakan bahwa menggunakan masalah terbuka dapat memberi siswa banyak pengalaman dalam menafsirkan masalah, dan mungkin membangkitkan gagasan yang berbeda bila dihubungkan dengan penafsiran yang berbeda. Munandar (2003:13) menjelaskan bahwa perkembangan optimal dari kemampuan berpikir kreatif berhubungan erat dengan cara mengajar. Dalam suasana non-otoriter, ketika belajar atas prakarsa sendiri dapat berkembang karena guru menaruh kepercayaan terhadap kemampuan anak untuk berpikir dan berani mengemukakan gagasan baru, dan ketika anak diberi kesempatan untuk bekerja sesuai dengan minat kebutuhannya, maka kemampuan kreatif dapat tumbuh subur. Agar ketrampilan berpikir kreatif siswa meningkat, maka salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan pendekatan pemecahan masalah . Pehkonen (1997:66) berpendapat bahwa cara untuk meningkatkan berpikir kreatif yaitu melalui pendekatan pemecahan masalah. Weisberg dalam Haylock (1997:72) menjelaskan   3 bahwa terdapat hubungan antara pemecahan masalah dengan kemampuan berpikir kreatif. Berpikir kreatif adalah suatu proses berpikir yang menghasilkan bermacam-macam kemungkinan jawaban. Dalam pemecahan masalah apabila menerapkan berpikir kreatif, akan menghasilkan banyak ide-ide yang berguna dalam menemukan penyelesaian masalah. Pehkonen (1997:65) mendefinisikan berpikir kreatif sebagai kombinasi antara berpikir logis dan berpikir divergen yang didasarkan pada intuisi tapi masih dalam kesadaran. Ketika seseorang menerapkan berpikir kreatif dalam suatu praktek pemecahan masalah, pemikiran divergen menghasilkan banyak ide yang berguna dalam menyelesaikan masalah. Dalam berpikir kreatif dua bagian otak akan sangat diperlukan. Keseimbangan antara logika dan kreativitas sangat penting. Jika salah satu menempatkan deduksi logis terlalu banyak, maka kreativitas akan terabaikan. Dengan demikian untuk memunculkan kreativitas diperlukan kebebasan berpikir tidak di bawah kontrol dan tekanan. Silver (1997:76) menjelaskan bahwa menggunakan masalah terbuka dapat memberi siswa banyak sumber pengalaman dalam menafsirkan masalah, dan mungkin pembangkitan solusi berbeda dihubungkan dengan penafsiran yang berbeda. Siswa tidak hanya dapat menjadi fasih dalam membangkitkan banyak masalah dari sebuah situasi, tetapi mereka dapat juga mengembangkan fleksibilitas dengan mereka membangkitkan banyak solusi pada sebuah masalah. Melalui cara ini siswa juga dapat dikembangkan dalam menghasilkan pemecahan yang baru. Silver (1997:76) menjelaskan komponen berpikir kreatif dalam pemecahan masalah pada tabel berikut . Tabel 1: Komponen Berpikir Kreatif dan Pemecahan Masalah Pemecahan Masalah Komponen Berpikir Kreatif Siswa menyelesaikan masalah dengan bermacam-macam solusi dan jawaban. Kefasihan (fluency)  Siswa menyelesaikan (menyatakan) dalam satu cara kemudian dalam cara lain Siswa mendiskusikan berbagai metode penyelesaian Fleksibilitas (flexibility)  Siswa memeriksa jawaban dengan berbagai metode penyelesaian dan kemudian membuat metode yang baru yang berbeda. Kebaruan (novelty)   Berpikir kreatif dalam penelitian ini adalah kemampuan siswa dalam menghasilkan banyak kemungkinan jawaban dan cara dalam memecahkan masalah. Kemampuan berpikir kreatif dapat diukur dengan fleksibilitas, kebaruan, dan   4 kefasihan. Fleksibilitas yaitu kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dengan berbagai cara yang berbeda. Kebaruan yaitu kemampuan siswa dalam membuat berbagai jawaban yang berbeda dan benar dalam memecahkan masalah. Jawaban yang berbeda yaitu jawaban-jawaban yang diperoleh tidak sama dan tidak membentuk suatu pola tertentu. Kefasihan yaitu kemampuan siswa dalam membuat jawaban yang beragam dan benar dalam memecahkan masalah. Jawaban yang beragam yaitu  jawaban yang diperoleh tidak sama dan membentuk pola tertentu. Contoh “Tentukan dua bilangan yang jumlahnya 5”. Jika jawaban siswa berpola 1+4, 2+3, 3+2, 4+1, dan seterusnya, maka jawaban tersebut memenuhi kefasihan tetapi tidak memenuhi kebaruan. Jika jawaban siswa 21421 + , 8 +(-3), 0,25 + 4,25, dan seterusnya, maka  jawaban tersebut tidak berpola dan memenuhi kebaruan sekaligus kefasihan. Harris (1998:1) berpendapat bahwa salah satu ciri dasar pemikir kreatif yaitu mempunyai lebih dari satu jawaban untuk kebanyakan pertanyaan dan mempunyai lebih dari satu penyelesaian untuk masalah-masalah yang diajukan padanya. Salah satu tipe pemecahan masalah yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif itu adalah what’s another way . What’s another way  menuntut siswa untuk memecahkan masalah dengan menggunakan lebih dari satu cara dan tidak menutup kemungkinan siswa akan memperoleh jawaban yang beragam dan berbeda. Sehingga cara ini dapat melatih kemampuan berpikir kreatif siswa. What’s another way  merupakan salah satu cara guru untuk mengembangkan ketrampilan berpikir kreatif sekaligus berpikir kritis dengan memberikan masalah-masalah melalui jawaban-jawaban yang diperolehnya. Krulik dan Rudnick (1999:139) menyebutkan sebagai langkah “ reflect   /refleksi” atau sebagai kelanjutan langkah dari langkah terakhir Polya, yaitu memeriksa kembali ( looking back).  Dasar pandangan Krulik dan Rudnick (1999:140) tersebut adalah bahwa “masalah tidak seharusnya selesai hanya karena jwaban telah ditemukan” ( The problem should never end just because the answer has been found  ). Pada saat siswa telah menemukan jawaban, dan memeriksa jawaban tersebut, maka guru dapat menantang siswa untuk mencari cara lain untuk menemukan jawaban itu. Guru dapat mengajukan pertanyaan “Bagaimana cara lain untuk memecahkan masalah tersebut? Apakah kamu menemukan jawaban lain?”. Tantangan ini mendorong siswa untuk menemukan strategi/pola lain dalam menjawab masalah. Siswa dipaksa untuk memikirkan cara-cara lain untuk menjawab
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks