Merujuk Definisi Yang Dipaparkan Di Atas

Publish in

Documents

65 views

Please download to get full document.

View again

of 9
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
aaa
Transcript
  Merujuk definisi yang dipaparkan di atas, Imam al Ghazali membagiakhlak menjadi dua : 1.  Akhlak yang baik (al khuluq al hasan)2.  Akhlak yang buruk (al khuluq as sayyi’) Untuk lebih memahami masing-masing makna dari kedua jenis akhlaktersebut, kiranya kita perlu memahami terlebih dahulu penjelasan al Ghazalitentang empat unsur yang bisa menjadi mi’yar   (standarisasi) kebaikan dankeburukan akhlak Al Ghazali berkata, ! adi, al Khuluq adalah sebuah k#ndisi ji$a danbentuknya yang batin (tidak tampak) (‘ibâratun ‘an hai’atin nafsi wa shûratihal bâthinah)  %ebagaimana kebagusan bentuk yang dhahir se&ara mutlak itutidak sempurna ke&uali dengan bagusnya dua mata, tanpa hidung, mulut danpipi, tetapi kebagusan semuanya harus ada agar kebagusan dhahir menjadisempurna, maka begitu pula di dalam batin (ji$a) ada empat unsur yangharus baik semua, sehingga kebagusan akhlak menjadi sempurna Apabilaempat unsur ini setara, seimbang, dan sesuai maka kebagusan akhlak bisadidapatkan, yaitu kekuatan ilmu, kekuatan em#si, kekuatan syah$at dankekuatan adil di antara tiga kekuatan tersebut' %elanjutnya, al Ghazali menjelaskan kebagusanan-kebaikan dariempat kekuatan tersebut Menurutnya, kebagusan dan kebaikan darikekuatan ilmu adalah bisa mudah mengenali perbedaan antara benar dandusta dalam perkataan, antara hak dan batil dalam keyakinan, dan antarabaik dan jelek dalam perbuatan ika kekuatan ilmu ini baik, maka akanmembuahkan hikmah, dan hikmah adalah pun&ak akhlak yang baik, dimana Allah berfirman, “Barangsiapa ikaruniai hikmah! maka sungguh ia t lahikarunia k baikan yang banyak.#   ebagusan dan kebaikan dari kekuatan em#si adalah bisa men&egahdan mengendalikan em#si di atas batasan yang dituntut #leh al hikmah (kebijaksanaan) %edangkan kekuatan syah$at bisa bagus dan baik bila tundukdiba$ah kendali akal dan syariat, begitu pula dengan kekuatan adil bisabagus dan baik dengan menekan syah$at dan em#si diba$ah kendali akaldan syariat emudian al Ghazali mempermisalkan  kekuatan tersebut  Menurutnya, permisalan akal seperti penasehat yang memberikan arahan,sedangkan kekuatan adil adalah kemampuan *ermisalannya ibarat #rangyang melaksanakan isyarat akal Marah adalah bentuk isyarat yangdilaksanakan *ermisalannya seperti anjing buruan yang harus dilatihsehingga ia dilepas dan berhenti berdasarkan isyarat, tidak berdasarkangej#lak syah$at dirinya %edangkan permisalan syah$at seperti kuda yangditunggangi untuk men&ari buruan+ terkadang terarah dan terlatih, danterkadang tidak %elanjutnya, al Ghazali menyimpulkan tentang makna akhlak yangbaik dengan, “fa man$istawat f%hi hâ&ihil khishâl wa$‘taalat fa huwa husnul khuluqi muthlaqan! wa man$'’taala f%hi ba’huha ûnal ba’hi fa huwa husnul khuluqi bil ihâfah ila &âlikal ma’nâ khâshshatan.#   %ebaliknya, bila kekuatan-kekuatan itu tidak seimbang maka itulahmakna akhlak yang buruk !Maka' kata al Ghazali !jika kekuatan em#si terlaluberlebihan maka itu disebut sembr#n# (tahawwur)!  jika terlalu lemah dankurang maka itu disebut penge&ut ila kekuatan syah$at terlalu berlebihanmaka itu disebut rakus (syarah) , dan bila &enderung kurang maka itu disebutimp#ten (  umû)  adi, standarisasi yang merupakan karakteristik akhlak yang baik adalah titiktengah antara sesuatu yang terlalu berlebihan (radikal kanan) dan sesuatuyang terlalu kurang (radikal kiri) Misalnya, kederma$anan merupakan akhlakyang terpuji, dan akhlak ini berada di tengah-tengah antara sifat kikir danmubadzir Allah a.ala telah memberikan pujian dengan berfirman, “an*rang$*rang yang apabila m mb lanakan harta! m r ka tiak b rl bih$l bihan ana tiak pula kikir an aalah (p mb lanaaan itu) i t ngah$t ngahantara yang  mikian#   (al /ur0an : 12) 3emikian juga, yang dituntut berkaitandengan syah$at atau nafsu makan adalah yang n#rmal, tidak rakus dan tidakpula kehilangan selera makan Allah a.ala berfirman, “+.maka anminumlah! an angan b rl bihan. , sungguhnya -llah tiak m nyukai *rang$*rang yang b rl bihan.#  (al A.raf : 45) dan 6asulullah juga bersabda, “, baik$baik p rkara aalah yang p rt ngahan.#   dan standarisasikeseimbangan (mi’yârul '’tiâl) adalah akal akal dan syariat (wa mi’yârul '’tiâl huwal ‘aqlu wasy syar’u)  3ari sinilah, al Ghazali mengambil kesimpulan bah$a induk dan  prinsip akhlak sesuai dengan  kekuatan di atas ada , yaitu al hikmah (kebijaksanaan), asy syaa’ah  (keberanian), al iffah  (penjagaan diri) dan al ‘al   (keadilan)  Al Ghazali mengatakan, !%esungguhnya induk dan prinsip akhlak adaempat, yaitu al hikmah  (kebijaksanaan), asy syaa’ah  (keberanian), al iffah (penjagaan diri) dan al ‘al   (keadilan) ebijaksanaan adalah k#ndisi ji$auntuk memahami yang benar dari yang salah pada semua perilaku yangbersifat ikhtiar (pilihan)+ keadilan adalah k#ndisi dan kekuatan ji$a untukmenghadapi em#si dan syah$at serta menguasainya atas dasar kebijaksanaan uga mengendalikannya melalui pr#ses penyaluran danpenahanan sesuai dengan kebutuhan+ keberanian adalah ketaatan kekuatanem#si terhadap akal pada saat nekad atau menahan diri+ dan penjagaan diri (‘iffah)  adalah terdidiknya daya syah$at dengan pendidikan akal dan syariatMaka, dari n#rmalitas keempat prinsip ini mun&ul semua akhlak yang terpuji' Perubahan Akhlak  Al Ghazali men#lak pendapat #rang yang mengatakan bah$a akhlak tidakdapat berubah karena tabiat itu tidak bisa berubah dengan mengemukakandua argumen :5  -l khuluq  adalah bentuk batin sebagaimana al khalqu adalahbentuk dhahir /isik yang dhahih itu tidak mampu dirubah+ yangpendek tidak mampu menjadikan dirinya panjang, yang panjangtidak bisa menjadikan dirinya pendek, dan yang jelek pun tidakmampu memperbagus rupanya, begitu pula dengan batin yang jelek, ia berjalan sebagaimana yang dhahir+ tidak bisa dirubahdan berubah7Mereka mengatakan, kebaikan akhlak itu hanya melenyapkansyah$at dan em#si ami sudah men&#ba berulangkali denganperjuangan yang panjang, dan kami tahu bah$a itu termasuktuntutan dari tabiat, maka ia tidak akan terputus dari anak AdamMenyibukkan diri dengan hal ini hanya membuang-buang $aktutanpa manfaat 8ang dituntut adalah memutus perhatian hatikepada bagian-bagian yang disegerakan (dunia), tetapi$ujudnya tidak mungkin ada (mustahil)  emudian al Ghazali membantah pendapat mereka denganmengatakan, !%eandainya akhlak tidak mengalami perubahan, maka $asiat,nasehat, dan pendidikan tidak berarti apa-apa 3an 6asulullah %hallall9hualaihi $a sallam tidak akan pernah bersabda, “assinû akhlâqakum! perbaikilah akhlak-akhlak kalian' Al Ghazali melanjutkan, !agaimana hal itu dipungkiri pada akhlak manusia,padahal perbaikan akhlak pada he$an saja dapat terjadi %ebab, al ba&i  (sejenis burung predat#r) dapat diubah dari he$an yang liar menjadi he$anyang jinak Anjing yang rakus juga bisa dididik, menahan diri dan beretikaegitu pula dengan kuda dari he$an liar menjadi he$an yang jinak danpatuh %emua ini merupakan &#nt#h perubahan akhlak' !maka' kata alGhazali !memang kita tidak bisa melenyapkan dan memaksakan hilangnyaem#si dan syah$at se&ara t#tal hingga tidak membekas sama sekali+ kitatidak akan mampu etapi kalau kita mengekang dan mengendalikankeduanya dengan riyahah  dan muahaah , kita mampu melakukannya'  Al Ghazali berpendapat bah$a tujuan muahaah  dan riyahatun nafs di dalam mendidik akhlak bukan mengekang instink yang ada pada dasar bi#l#gis manusia, semisal syah$at dan em#si, serta melenyapkan danmenghapus keduanya se&ara t#tal etapi tujuan mujahadah dan pendidikanakhlak adalah mengendalikan dan mend#r#ngnya ke arah yang n#rmal%yah$at dan em#si merupakan kebutuhan yang penting dan bermanfaat bagimanusia Al Ghazali mengungkapkan, ! ika syah$at makanan terputus, makamanusia akan mati+ jika syah$at seksual mati, maka pr#ses berketurunanakan terputus+ dan jika em#si tidak ada se&ara t#tal, maka manusia tidakdapat membela dirinya dari sesuatu yang menghan&urkan, hingga akibatnyaia akan han&ur' adi, menurut al Ghazali, akhlak mengalami perubahan+ atau dengankata lain, akhlak dapat diper#leh melalui pr#ses belajar dan dapat pula diubahmelalui pr#ses belajar 8aitu, dengan mend#r#ng ji$a untuk melakukanperbuatan-perbuatan yang dituntut #leh akhlak yang dimaksud Makabarangsiapa ;misalnya- yang ingin mendapatkan akhlak derma$an, maka iaharus berusaha untuk berlaku derma dengan mengeluarkan hartanyasehingga itu menjadi karakternya
Related Search

Next Document

2

We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks