METOPEL BAB 1, 2,& 3

Publish in

Documents

41 views

Please download to get full document.

View again

of 23
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
resume buku penelitian kualitatif dan kuantitatif
Transcript
  1 PENELITIAN SEBAGAI METODE ILMIAH 1.1   Hakekat Keilmuan Menurut Beni Ahmad Saebeni (2009), istilah ilmu dalam bahasa Arab dikenal dengan “ilm” yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Secara etimologi ilmu dalam bahasa inggris berarti scince. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang ada di kepala kita. Ada dua sumber utama bagaimana seseorang mendapatkan pengetahuan, yaitu dengan cara  Eksperiental Reality (ER) dan  Agreement Reality (AR) .  Eksperiental Reality (ER)  adalah sumber pengetahuan yang kita dapatkan dengan cara mengalaminya sendiri. Dengan pengalaman yang kita dapatkan kita menjadi tahu akan sesuatu. Cara yang kedua  Agreement Reality (AR)  adalah sumber  pengetahuan yang didasarkan pada kesepakatan  –   kesepakatan antara diri kita pribadi dengan orang lain. Bentuk AR ini bermacam- macam; bisa berdasarkan informasi dari orang lain, tradisi, serta kebiasaan. Secara garis besar ada dua cara yang bisa kita lakukan, yaitu pertama, yang kita katakan sebagai cara tidak ilmiah yaitu cara yang mudah dilakukan serta cepat didapatkan. Cara yang tidak ilmiah ini memiliki banyak kelemahan justru karena dengan cara ini pengetahuan didapat secara cepat dan mudah. Tetapi kelemahan yang didapat adalah kita tidak membuktikan apakah pengetahuan yang kita dapat itu  benar atau tidak.kelemahan cara yang tidak ilmiah adalah:1)pengetahuannya tidak akurat dan bersifat terbatas, 2) pengetahuan digeneralisasikan ketingkat yang lebih umum, tanpa melalui sebuah proses yang dapat dipertanggungjawabkan, 3)pengetahuan sebagai hasil rekayasa demi kepentingan dan mempertahankan kebenaran penegtahuan yang ada. Yang kedua, cara ilmiah terdapat isi yaitu  pengetahuan itu sendiri dan proses memperoleh pengetahuan.(Bambang dan Lina, 2005:3) Jadi kesimpulan di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa hakikat dalam mendapatkan pengetahuan valid itu sendiri harus secara ilmiah dan empirik bisa kita mmeperoleh dari pengalaman itu sendiri tetapi harus ada isi dan proses memperoleh ilmu tersebut dengan pendekatan ilmiah ataupun empirik  2 1.2   Etika Penelitian Dalam merencanakan dan melaksanakan penelitian, peneliti mempunyai kewajiban, baik kepada subyek maupun kepada profesinya. a.   Kewajiban terhadap subyek Pada waktu menyelidiki subyek manusia, peneliti harus menghormati integritas dan kemanusian mereka. Tiga hal yang perlu diperhatikan adalah: 1.   Perlindungan terhadap subyek dari kerugian , Subyek harus dilindungi bukan saja dari kerugian fisik, melainkan juga kemungkinan apapun. Di Amerika Serikat, pedoman dari Departemen Kesehatan, Pendidikan, dan Kesejahteraan (DHEW= U.S. Department of Health, Education, anf Welfare) yang ada sekarang ini mengikuti kode etik penelitian yang sudah diterima umum dengan menetapkan bahwa “subyek yang menghadapi resiko” adalah orang yang mungkin akan menderita kerugian secara fisik, psikologis atau sosial sebagai akibat dari partisipasi dalam penelitian. Guna melindungi subyek dan mengarahkan mereka yang sedang membuat rencana penelitian, DHEW menetapk  an bahwa “dana atau kontrak bagi kegiatan yang melibatkan subyek manusia tidak boleh diberikan/ dibuat sebelum permohonan bantuan itu diperiksa dan disetuju oleh komisi institut yang berwenang ” . Sesudah persyaratan ini ditetapkan, maka perguruan tinggi dan lembaga lain di Amerika yang belum mempunyai komisi semacam itu lalu membentuk apa yang sekarang umumnya dikenal sebagai dewan pertimbangan institusional. Dewan ini tidak secara otomatis melarang penyelidikan yang subyek sudah diberitahu mengenai resiko tersebut dan telah secara sukarela menyatakan persetujuannya untuk ikut serta dalam penelitian itu. 2.   Pengakuan terhadap hak mereka untuk mengetahui sifat dan tujuan penelitian serta hak mereka untuk menyatakan kesediaan atau ketidak- sediaan berpartisipasi. Hak untuk menyatakan persetujuan harus diberikan kepada setiap calon subyek penelitian. Pedoman DHEW mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “persetujuan yang dinyatakan” adalah persetujuan seseorang individu atau wakilnya yang sah (biasanya orang tua atau walinya) yang dibuat  3 sedemikan ruapa, sehingga ada kebebasan memilih (untuk bersedia atai tidak  bersedia menjadi subyek penelitian) tanpa bujukan atau paksaan, penipuan, ketidakjujuran, ataupun ketidak- bebasan dan kekerasan yang lain. Unsur dasar. Informasi yang diperlukan bagi persetujuan semacam itu meliputi: a.   Keterangan yang jujur mengenai prosedur yang akan di tempuh  beserta tujuannya, termasuk penyebutan setiap prosedur yang bersifat eksperimental  b.   Gambaran mengenai keadaan tidak menyenangkan dan resiko yang lanyak diperkirakan akan terjadi c.   Gambaran mengenai manfaat yang lanyak diharapkan terjadi d.   Pengungkapan setiap prosedur lain yang cocok dan mungkin lebih menguntungkan subyek e.   Tawaran kepada subyek untuk mengajukan pertanyaan mengenai  prosedur yang sudah dijelaskan itu. f.   Pemberitahuan bahwa subyek bebas untuk menarik kembali  persetujuannya serta menghentikan partisipasinya dalam proyek  penyelidikan atau kegiatan tersebut setiap saat, tanpa ada purbasangka terhadapnya Pedoman DHEW menetapkan bahwa, apabila subyek akan menghadapi resiko dalam bentuk apa pun, persetujuan mereka harus diberikan secara tertulis dan dibubuhi tanda tangan. Biasanya, jika sudah  berusia 18 tahun atau sudah lulus SMA, subyek sendirilah yang menandatangani pernyataan persetujuan. Di luar itu, diperlukan tanda tangan orang tua. Dalam keadaan biasa, peneliti harus terlebih dahulu memberitahu kepada subyek mengenai tujuan penyelidikan. Dalam kasus-kasus tertentu,  bila pengetahuan subyek mengenai tujuan penelitian itu mempengaruhi hasil  penyelidikan, peneliti diperkenankan menunda pemberitahuan itu sampai setelah data selesai dikumpulkan. Dalam kasus begini, para subyek diberi tahu bahwa mereka akan diberi penjelasan tentang maksud penelitian itu sesudah penyelidikan itu sendiri selesai. Janji ini harus dipenuhi. Salah satu  4 kewajiban dewan pertimbangan institusional adalah menetapkan kepada subyek harus ditunda sampai sesudah penyelidikan selesai. 3.   Penghormatan terhadap hal-hal yang bersifat pribadi dari subyek Dimana peneliti hendaknya memastikan bahwa hal- hal yang bersifat  pribadi dari subyek tidak akan dicampuri/ dilanggar. Bila jawaban tanpa nama dapat dipakai, sangat dianjurkan agar pada subyek tidak usah menyebutkan identitasnya. Sifat penelitian menuntut peneliti mengetahui identitas subyek, maka ia harus memperoleh persetujuan subyek yang  bersakutan terlebih dahulu serta mengambil langka-langkah pengaman yang  perlu guna melindungikerahasian jawaban tersebut. Dalam masalah hak subyek atas- hal- hal yang bersifat pribadi ini, diharapkan pedoman dari DHEW akan mengukuhkan kode etik tradisional yang menyatakan bahwa  pernyataan persetujuan subyek diperlukan apabila data mengenai individu- individu tersebut akan dipublikasikan. Kalau hanya statistik kelompok saja yang akan diumumkan, maka persetujuan itu tidak diperlukan Dari pemahaman- pemahaman di atas, dapat ditarik kesimpulan  bahwasanya salah satu etika penelitian yaitu Perlindungan terhadap subyek dari kerugian, baik secara fisik, psikologis atau sosial sebagai akibat dari  partisipasi dalam penelitian. Pengakuan terhadap hak mereka untuk mengetahui sifat dan tujuan penelitian serta hak mereka untuk menyatakan kesediaan atau ketidak- sediaan berpartisipasi dan Penghormatan terhadap hal-hal yang bersifat pribadi dari subyek b.   Kewajiban terhadap profesi Peneliti juga mempunyai tanggung jawab kepada para pemakai hasil  penelitian. Kebanyakan hasil penelitian dalam bidang pendidikan maupun bidang lainnya, dipublikasikan dalam jurnal, monograf, buku dan media lainnya, serta dibaca dan dipakai oleh para ahli dalam bidangnya. Secara moral peneliti wajib membuat rencana penelitian sedemikian rupa , sehingga hasil penemuannya tidak memberikan informasi yang menyesatkan. Selain itu peneliti wajib melaporkan hasil penemuannya itu apa adanya. Peneltian tidak boleh dilaporkan sedemikan rupa dengan maksud menyesatkan. Membuat laporan yang menyesatkan
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks