Passion Pit

Publish in

Documents

15 views

Please download to get full document.

View again

of 10
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
Passion Pit
Transcript
  ALLOOHUMMA SHOLLI ‘ALAA MUHAMMAD, WA’ALAA AALI MUHAMMAD, KAMAA SHOLLAITA ‘ALAA IBROOHIIMA WA’ALAA AALI IBROOHIIMA WABAARIK ‘ALAA MUHAMMAD WA’ALAA AALI MUHAMMAD KAMAA BAAROKTA ‘ALAA IBROOHIIMA WA’ALAA AALI IBROOHIIMA FIL’AALAMIINA INNAKA HAMIIDUN MAJIID (Ya Allah, limpahkan kesejahteraan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad seperti Kau melimpahkan kesejahteraan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad seperti Engkau memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim dalam seluruh alam, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Luhur, dan salam seperti yang telah diajarkan pada kalian. Dalam hal ini ada hadits serupa dari Ali, Abu Humaid, Ka’ab bin Ujrah, Thalhah bin Ubaidullah, Abu Sa’id, Zaid bin Kharijah dan disebut Ibnu Jariya h. Abu Isa berkata: Hadits ini hasan shahih. Hadits tersebut dishahihkan oleh Syeikh al Albani didalam kitabnya “Shahih wa Dha’if Sunan at Tirmid Allahumma Shalli` ala Muhammad wa 'ala aali Muhammad, kamaa shallaita `ala Ibrahim wa' ala aali Ibrahim. Baarik Wa` ala Muhammad wa `ala aali Muhammad, kamaa barakta `ala Ibrahim wa 'ala aali Ibrahim. innaka hamidun majid . There were also the added 'fil' alamiina ... . However, unt Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam , keluarga dan para sahabatnya serta umatnya yang berpegang teguh kepada sunnah-sunnahnya hingga akhir zaman. Tetap terbukanya pintu taubat merupakan bagian dari rahmat Allah Ta'ala kepada umat ini. Taubat masih tetap berlaku sebelum nyawa sampai dikerongkongan dan matahari terbit dari  barat. Kesempurnaan anugerah ini berlanjut dengan mensyariatkan kepada mereka ibadah  paling mulia (yakni shalat taubat) untuk dijadikan sebagai sarana oleh muznid (orang yang  bertaubat) agar diterima taubatnya. Disyari'atkan Shalat Taubat  Para ulama bersepakat tentang disyari'atkannya shalat taubat. Diriwayatkan dari Abu Bakar al-Shiddiq  Radhiyallahu 'Anhu , ia berkata: Aku mendengar Rasulullah  Shallallahu 'Alaihi Wasallam  bersabda,    هَ   ُّ   َََغ   ّِ   َّ   ُِْَْَ   ّمُ   Tidaklah seorang hamba berbuat satu dosa, lalu ia bersuci dengan baik, lalu berdiri untuk  shalat dua rakaat, kemudian memohon ampun kepada Allah, melainkan Allah akan mengampuni dosanya. Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam  membaca: َو   ْمِِُُِ   اوُَْَْَف   َّ   اوُََذ   ْمُَُْَأ   اُََظ   ْوَأ   َشِحَف   اُََف   اَذِ   َِّاَوْَ   َنُَْَ   ْمُَو   اُََف   َ   ََ   اوِُ   ْمََو   ُّ   ّِ   َبُا   ُِْَ    Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri  sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan  siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. [QS. Ali Imran: 1365]. (HR. Abu Dawud no. 1521. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud) Penulis Shahih Fiqih Sunnah dalam megomentari hadits di atas mengatakan, Dalam sanadnya terdapat kelemahan, hanya saja ayat tersebut menguatkan maknanya. Di samping itu, hadits ini juga dishahihkan oleh sebagian ulama. (Shahih Fiqih Sunnah: 2/95) Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya, dari Abu Darda'  Radhiyallahu 'Anhu , ia  berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam  bersabda: Siapa yang  berwudhu dan memperbagus wudhunya, lalu berdiri shalat dua rakaat atau empat (salah seorang perawi ragu), ia memperbagus dzikir dan khusyu' dalam shalatnya, kemudian  beristighfar (meminta ampun) kepada Allah 'Azza wa Jalla , pasti Allah megampuninya. (Para pentahqiq al-Musnad mengatakan: Isnadnya hasan. Syaikh Al-Albani menyebutkannya dalam Silsilah al-Ahadits al-Shahihah, no. 3398). Sebab Dikerjakannya Shalat Taubat  Shalat taubat dikerjakan saat seorang muslim terjerumus ke dalam kemakasiatan, baik maksiat dosa besar atau kecil. Maka ia wajib bersegera taubat dan disunnahkan baginya untuk mengerjakan shalat dua rakaat. Dua rakaat ini termasuk bagian dari amal shalih yang disunnahkan untuk dikerjakan dalam masa taubat. Ia sebagai wasilah (perantara) kepada Allah untuk mendapatkan taubat dari-Nya dan ampunan atas dosanya. Waktu Shalat Taubat  Disunnahkan mengerjakan shalat taubat ini saat seorang muslim bertekad untuk bertaubat dari sebuah dosa yang telah diterjangnya, baik taubat ini segera dikerjakan selepas ia melakukan maksiat itu atau mengakhirkannya. Yang wajib atas seorang yang berdosa agar segera bertaubat. Tapi kalau ia mengakhirkannya/menundanya maka tetap diterima. Karena taubat bisa diterima selama belum datang satu dari dua kondisi berikut ini: 1. Apabila ruh belum sampai ke kerongkongan. Yakni ia yakin akan segera mati sehingga tidak punya pilihan lain kecuali itu, seperti Fir'aun, dikisahkan dalam QS. Yunus: 91-92.  Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam  bersabda: ْِغْَُ   ْمَ   َ   ِدْَْا   ََْَ   ُلَْَ   َّ   ّنِ   Sesungguhnya Allah tetap menerima taubat seorang hamba selama ruh (nyawa)nya belum di tenggorokan. (HR. Al-Tirmidzi, hadits hasan) 2. Apabila matahari terbit dari barat, karena Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam  bersabda: هْََ   ُّ   َبَ   َِِْَ   ْِ   ُسْّشا   َعُْطَ   ْنَأ   َلْَ   َبَ   ْَ    Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah akan menerima taubatnya. (HR. Muslim, no. 2703) Shalat taubat ini disyariatkan dalam semua waktu, sampai pada waktu terlarang seperti sesudah shalat 'Ashar. Sebabnya, karena ia termasuk jenis shalat yang memiliki sebab. Maka disyariatkan dan boleh langsung dikerjakan saat datang sebabnya. Syikhul Islam rahimahullah  berkata, َيِ  َُ   ْنَأ   َإ   ٌبوُدْَ   َُَو   ِرْَْا   ََ   ٌَِجاَو   ُَْّَف   ََْذَأ   اَذِَف   ِَْّا   ُةََص   َكِَََو   َرقِ  دِ  ا   ٍْَ   يِَأ   ِثِدَح   يِف   ََ   َبُَ   ّمُ   ِْََْ    Demikian pula shalat taubat (termasuk shalat yang memiliki sebab dan harus segera dilakukan, sehingga boleh dilakukan meskipun waktu terlarang untuk shalat), jika seseorang berbuat dosa, maka taubatnya itu wajib, yaitu wajib segera dilakukan. Dan disunnahkan baginya untuk melaksanakan shalat dua raka’at. Kemudian ia bertaubat sebagaimana keterangan dalam hadits Abu Bakar Al-Shiddiq. ” (Majmu’ Al -Fatawa, Ibnu Taimiyah: 23/215) Sifat Shalat Taubat  Shalat taubat dikerjakan sebanyak dua rakaat. Dikerjakan sendirian, karena ia termasuk nawafil   yang tidak disyariatkan secara berjamaah. Dan disunnahkan untuk beristighfar sesudah selesai mengerjakannya, sebagaimana yang terdapat dalam hadits Abu Bakar al-Shiddiq  Radhiyallahu 'Anhu  di atas. Tidak ditemukan tuntutan dari sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam  yang menetapkan  bacaan tertentu pada dua rakaat tadi. Maka orang yang mengerjakan shalat taubat membaca surat yang dia kehendaki. Selain itu, juga disunnahkan baginya untuk memperbanyak amal shalih lainnya. Ini didasarkan kepada firman Allah Ta'ala: ىَدَْا   ّمُ    ِَص   َلِََو   َََآَو   َبَ   ْَِ   ٌرّََ   يِ  ِَو     Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal  saleh, kemudian tetap di jalan yang benar. (QS. Thaahaa: 82) Di antara amal-amal utama yang bisa dikerjakan oleh orang yang bertaubat: shadaqah, karena shadaqah termasuk sebab besar yang menghapuskan dosa. َيِ   ّِِَف   ِتََدّا   اوُدْُ   ْنِُِ  َُَو   ْمُَ   ٌْَخ   َُَف   َ اََُْا   َُْؤُَو   َُْُ   ْنِَو   ٌِَخ   َنُَْَ   َِ   ُّَو   ْمُِَئِ  َ   ْِ   ْمُْَ    Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 271) Terdapat penguat dari kisah Ka'ab bin Malik  Radhiyallahu 'Anhu , saat Allah menerima taubatnya, ia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya dengan sebab (diterima) taubatku, saya akan mensedekahkan semua hartaku kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam  bersabda, tahanlah sebagian hartamu, maka itu lebih baik  bagimu. Ia menjawab, Aku tahan sahamku yang ada di Khaibar. (Muttafaq 'Alaih) Kesimpulan:  1.   Shalat taubat memiliki landasan shahih dari sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam . 2.   Shalat taubat disyariatkan saat seorang muslim bertaubat dari dosa besar maupun kecil. Tidak dibedakan, baik dosa itu baru saja dikerjakan atau sudah lama. 3.   Shalat taubat bisa dikerjakan pada semua waktu, sampai pada waktu yang terlarang mengerjakan shalat sunnah. 4.   Selain mengerjakan shalat taubat, orang yang bertaubat juga dianjurkan mengerjakan amal-amal kebajikan, seperti shadaqah dan selainnya. [PurWD/voa-islam.com] Shalat Sunnah Rawatib adalah shalat sunnah yang dikerjakan sebelum dan sesudah melaksanakan shalat fardhu (shalat wajib lima waktu). Shalat sunnah itu dibagi menjadi dua, yaitu shalat sunnah mutlak dan shalat sunnah muqayyad  . Untuk mengerjakan shalat mutlak cukup niat shalat saja tanpa menyebut bilangan rakat. Boleh dilaksanakan hanya satu rakaat, dua, tiga, lima, bahkan sampai 10, 11, dan seterusnya. Jumlah dari keseluruhan dari shalat Sunnah rawatib adalah 22 rakaat, yaitu:    Dua rakaat sebelum Shalat Subuh (sesudah shalat subuh tidak ada Sunnah ba'diyah).    Dua rakaat sebelum shalat dhuhur, dua rakaat atau empat rakaat sesudah Shalat Dhuhur.
Related Search

Previous Document

Gist an update

We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks