PBL Blok 4 - Embriologi.docx

Publish in

Documents

24 views

Please download to get full document.

View again

of 15
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
Tahapan-Tahapan Embrionik Pada Awal Masa Kehamilan Kezia Marcella 102013384, kelompok F-8 Mahasiswa Semester 1, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Pendahuluan Manusia pada dasarnya terbentuk melalui beragam proses yang rumit. Tahap awal perkembangan manusia diawali dengan peristiwa pertemuan/peleburan sel sperma dengan sel ovum yang dikenal dengan peristiwa fertilis
Transcript
  1 Tahapan-Tahapan Embrionik Pada Awal Masa Kehamilan Kezia Marcella 102013384, kelompok F-8 Mahasiswa Semester 1, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Pendahuluan   Manusia pada dasarnya terbentuk melalui beragam proses yang rumit. Tahap awal perkembangan manusia diawali dengan peristiwa pertemuan/peleburan sel sperma dengan sel ovum yang dikenal dengan peristiwa fertilisasi, yang nantinya akan menghasilkan zigot. Setelah zigot terbentuk maka akan mengalami pembelahan mitosis dan mulailah tahapan perkembangan embrio (embriogenesis). 1 Pembelahan morula; blastula; gastrula, dan implantasi merupakan fase yang mengawali sebuah zigot untuk terus bertumbuh pada dinding endometrium. Proses ini sangat penting mengingat dari sinilah pertumbuhan calon janin akan berkembang spesifik selama masa kehamilan. Pada makalah ini, penulis akan mencoba menjelaskan tentang tahapan yang terjadi pada awal masa kehamilan mulai dari proses fertilisasi, pembelahan, implantasi, gastrulasi sampai pada derivat 3 lapisan embrional atau proses organogenesis. Diharapkan pembaca khususnya ibu hamil dapat memahami perkembangan dan pertumbuhan zigot di dalam rahim ibu sampai nantinya menjadi calon janin yang sempurna.   ISI Fertilisasi Fertilisasi merupakan proses penyatuan gamet pria dan wanita yang terjadi dalam daerah ampulla tuba Fallopii. 2  Pada manusia,ovum diovulasikan dalam bentuk oosit II, pada saat sperma penetrasi maka terbentuk ootid dan dilepaskan polar body II. Fertilisasi terjadi saat pria dan wanita melakukan koitus. Dari pihak pria harus mampu ereksi, kemudian melakukan penetrasi dan ejakulasi sehingga sperma dilepaskan di dalam vagina. Pihak wanita pun harus dalam masa subur atau saat terjadi ovulasi yang kira-kira terjadi kurang lebih 14 hari sebelum Alamat korespondensi: Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana - Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510 Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731 Email: keziamarcellaaa_01@hotmail.com  2 menstruasi yang akan datang, dan juga sekret serviks pada saat ovulasi mudah ditembus sperma. Spermatozoa bergerak dengan cepat dari vagina sampai uterus dan selanjutnya masuk ke dalam saluran telur. Pergerakan sperma disebabkan oleh kontraksi otot rahim dan saluran telur dan sedikit dari propulsi sperma itu sendiri. Setelah mencapai isthmus, sperma akan berkurang motilitasnya dan menghentikan migrasi. Sampai saat ovulasi, sperma kembali motil. Hal ini mungkin disebabkan karena chemoatractant yang diproduksi oleh sel-sel kumulus yang mengelilingi telur berenang ke ampula. 2  Spermatozoa setelah tiba di saluran reproduksi wanita, belum mampu mengalami oosit. Mereka harus melalui proses (a) kapasitasi dan (b) reaksi akrosom/zona. Kapasitasi adalah suatu masa penyesuaian di dalam saluran reproduksi wanita, dimana pada manusia, berlangsung kira-kira 7 jam. Hanya spermatozoa yang melewati proses kapasitasi yang dapat melewati lapisan korona radiata dan menjalani reaksi akrosom. 2  Kapasitasi biasanya terjadi dalam dua langkah: (1) spermatozoa menjadi motil ketika mereka dicampur dengan sekresi kelenjar air mani, dan (2) mereka menjadi mampu melakukan pembuahan bila berada dalam saluran reproduksi wanita. 3  Reaksi akrosom terjadi setelah pengikatan ke zona pelusida karena adanya induksi protein zona. Setelah dekat dengan oosit, sel sperma akan terpengaruh oleh zat-zat dari korona radiata ovum sehingga isi akrosom dari daerah kepala sperma akan terlepas dan berkontak dengan lapisan korona radiata. Pelepasan enzim akrosom (akrosin) memungkinkan sperma untuk menembus zona tersebut, sehingga terjadi kontak dengan membran plasma oosit. Permeabilitas zona pelusida berubah ketika kepala sperma datang menyentuh permukaan oosit. Hal ini mengakibatkan dilepaskannya enzim lisosomal yang berasal dari granul kortikal yang melapisi membran plasma oosit. Enzim ini mengubah sifat zona pelusida (reaksi zona) untuk mencegah penetrasi spermatozoa lain. 2  Fenomena ini dikenal sebagai hambatan terhadap polispermia (penetrasi lebih dari satu spermatozoa ke dalam oosit). Segera setelah spermatozoa menyentuh selaput sel oosit, membran plasma spermatozoa dan oosit bersatu. Oosit menyelesaikan pembelahan meiosis keduanya segera setelah masuknya spermatozoa. Penyatuan ini menghasilkan oosit definitif dimana kromosomnya tersusun dalam inti vesikular yang dikenal sebagai pronukleus wanita. Sementara itu, spermatozoa bergerak maju sampai berdekatan dengan pronukleus wanita. Intinya membengkak dan membentuk pronukleus pria; sedangkan ekornya terlepas dan  3 berdegenerasi. Pronukleus pria dan wanita saling berhubungan dan kehilangan pembungkus intinya. Selama pertumbuhan pronukleus pria dan wanita (keduanya haploid), masing-masing pronukleus harus melakukan replikasi DNA. Segera setelah sintesis DNA, kromosom tersusun dalam kumparan untuk persiapan pembelahan mitosis normal. Sebanyak 23 kromosom ibu dan 23 kromosom ayah membelah lalu kromatid begerak ke kutub berlawanan, sehingga membentuk setiap sel zigot dengan jumlah kromosom diploid dan DNA yang normal. Pembelahan Selama tiga sampai empat jam pertama setelah pembuahan, zigot tetap berada di dalam ampula, karena penyempitan antara ampula dan saluran tuba uterina sisanya menghambat pergerakan lebih lanjut zigot menuju uterus. Namun selama tahap ini zigot tidak tinggal diam. 4 Setelah zigot telah mencapai tahap dua sel, zigot mengalami serangkaian pembelahan mitosis dan meningkatkan jumlah sel (Gambar 1). Sel-sel yang menjadi lebih kecil dikenal sebagai blastomer. 5  Setelah pembelahan ketiga, blastomer memaksimalkan kontak antara sel satu sama lain dan membentuk suatu bola padat. 2,4 Sekitar 3 hari setelah proses fertilisasi, sel embrio yang padat membelah lagi untuk membentuk morula 16 sel (murbei). Proses ini disebut cleavage  karena pembelahan sel ini terjadi tanpa pembesaran sel itu sendiri. 5   Gambar 1. Pembelahan sel sejak tingkat dua sel hingga tingkat morula Sumber: http://departments.weber.edu, diunduh 26 Januari 2014  4 Implantasi Pembentukan Blastokista Sekitar tiga sampai empat hari setelah ovulasi, progesteron diproduksi dalam jumlah memadai untuk melemaskan konstriksi tuba uterina sehingga morula dapat terdorong ke dalam uterus oleh kontraksi peristaltik tuba uterina dan aktivitas silia. 4 Sewaktu morula memasuki rongga uterus, cairan mulai menembus melalui zona pelusida ke dalam ruang antar sel dari inner cell mass . Zona pelusida kemudian menghilang, yang memungkinkan implantasi untuk dimulai. 2,5 Morula yang telah turun ke uterus dan terus berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi blastokista yang dapat melakukan implantasi. Blastokista adalah suatu bola berongga berlapis tunggal dan terdiri dari sekitar 50 sel mengelilingi sebuah rongga berisi cairan, dengan suatu massa padat sel-sel berkelompok di satu sisi. 4  Secara bertahap ruang antarsel menjadi konfluen, dan akhirnya terbentuk sebuah rongga blastosul. 6  Massa sel padat yang dikenal sebagai massa sel dalam, berkembang menjadi mudigah/janin itu sendiri (embrioblas). 4  Sedangkan sel-sel sekitar massa sel dalam menyusun outer cell mass , atau trofoblas, meratakan dan membentuk dinding epitel blastokista yang kemudian memberikan kontribusi ke plasenta. Pada manusia, sel-sel trofoblas pada kutub embrional mulai melakukan penetrasi antara sel-sel epitel mukosa rahim kira-kira hari keenam (Gambar 2.C). 2  Dinding sel-sel trofoblas yang masuk ke endometrium luruh, membentuk sinsitium multinukleus yang akhirnya menjadi plasenta bagian janin. Jaringan endometrium di tempat kontak, yang terangsang oleh invasi trofoblas, mengalami perubahan drastis yang meningkatkan kemampuannya untuk menunjang mudigah yang berimplantasi. Jaringan endometrium yang mengalami modifikasi sedemikian rupa di tempat implantasi disebut desidua.   Setelah trofoblas membuat terowongan ke dalam desidua, suatu lapisan sel endometrium menutupi permukaan lubang, mengubur total blastokista di dalam lapisan uterus. Lapisan trofoblas terus mencerna sel-sel desidua sekitar dan menghasilkan energi untuk mudigah sampai plasenta terbentuk. 4  
Related Search

Previous Document

ECOLOGY

Next Document

Gene Autry

We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks