Pembelajaran Mitigasi Bencana 9 Mei.docx

Publish in

Documents

35 views

Please download to get full document.

View again

of 15
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
Kapan Pembelajaran Mitigasi Bencana Akan Dilaksanakan? Suhadi Purwantoro Abstrak Bencana yang melanda berbagai negeri membuat banyak pakar berfikir tentang bagaimana cara mengurangi jumlah korban yang ditimbulkan. Makalah ini membahas tentang batasan, kategorisasi, serta bentuk pendidikan mitigasi bencana. Bencana dalam makalah ini mengacu pada suatu literatur dapat berupa hazard, disaster, atau catatro
Transcript
  1 Kapan Pembelajaran Mitigasi Bencana Akan Dilaksanakan? Suhadi Purwantoro Abstrak Bencana yang melanda berbagai negeri membuat banyak pakar berfikir tentang  bagaimana cara mengurangi jumlah korban yang ditimbulkan. Makalah ini membahas tentang  batasan, kategorisasi, serta bentuk pendidikan mitigasi bencana. Bencana dalam makalah ini mengacu pada suatu literatur dapat berupa hazard, disaster, atau  catatrospe, yang masing-masing memiliki batasan tersendiri. Bencana dalam tulisan ini diuraikan menjadi bencana alam, bencana non alam, dan bencana sosial. Gagasan pembelajaran formal tentang mitigasi  bencana dikemukakan pada tulisan ini yang berbentuk kompetensi-kompetensi dasar dari  berbagai bencana, seperti kompetensi dasar bencana alam gempa bumi, tsunami, banjir, badai, dan kompetensi dasar bencana non alam seperti kebakaran, kecelakaan lalulintas, ataupun kompetensi dasar bencana social seperti kerusuhan dan peperangan. Pendahuluan Pada beberapa dekade ini, istilah dan fenomena alam yang berkaitan dengan ancaman  bencana seperti tsunami, erupsi, gempa tektonik, gempa vulkanik, gempa tremor, gempa multifase, awan panas, lahar panas, lahar dingin, kubah lava, abu vulkanik, semakin familier dikenal masyarakat. Itulah pembelajaran yang diterima masyarakat. Masyarakat menjadi akrab dengan lingkungan alam dan fenomena atau gejalanya. Gejala alam yang  berupa bencana alam tidak perlu disikapi negatif, tetapi hendaknya hendaknya disikapi positif. Gejala-gejala alam tersebut patutlah diterima dengan akal sehat, rasional, tidak perlu mengaitkan dengan hal yang mistik, yang irasional dari sisi pemikiran ilmiah. Kejadian bencana alam seperti erupsi gunung berapi, gempa bumi, tsunami, angin  puting beliung, banjir, banjir lahar, tanah longsor, bukan fenomena luar biasa terjadi di  permukaan bumi. Bahkan gejala munculnya ulat bulu di berbagai wilayah di Indonesia juga tidak perlu disikapi dengan pendapat bahwa itu merupakan suatu hukuman Tuhan untuk umat yang sudah melakukan banyak dosa. Hal yang perlu dilakukan oleh masyarakat adalah  bagaimana dapat mencegah agar berbagai fenomena alam itu tidak atau kurang mengganggu kenyamanan hidup manusia. Untuk itu pentingnya pembelajaran mitigasi bencana alam baik melalui jalur pendidikan masyarakat umum, maupun melalui jalur formal di sekolah-sekolah.  2 Kategori Bencana Jenis-jenis bencana menurut UU no 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, dapat berupa bencana alam, bencana non alam, dan bencana sosial. Bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain  berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah langsor. Bencana non alam antara lain kebakaran hutan yang disebabkan oleh manusia, kecelakan transportasi, kegagalan konstruksi, dampak industri, ledakan nuklir, pencemaran lingkungan dan kegiatan keantariksaan. Bencana sosial antara lain berupa kerusuhan sosial dan konflik sosial dalam masyarakat yang sering terjadi. Selanjutnya menurut tingkat bahayanya, bencana dapat dikategorikan menjadi tiga tingkat, yaitu hazard, disaster, dan  catastrophe  (Edward A. Keller, 2006: 6). Dikatakan hazard   bila proses bencana sekedar menjadi ancaman umat manusia, seperti bencana gempa,  banjir, tanah longsor, erupsi gunung berapi, badai, tetapi tidak atau belum menimbulkan korban. Apabila sudah memakan banyak korban jiwa dan harta barulah disebut sebagai dissaster  , dan bila lebih buruk dari itu misalnya mengakibatkan hancur leburnya bangun dan sumber kehidupan serta banyaknya korban manusia meliputi wilayah luas, dapat disebut catastrophe . Oleh karena itu tsunami Aceh, Gempa Yogyakarta, Tsunami Fukushima lebih tepat disebut catastrophe.  Selama ini dalam bahasa Indonesia hanya ada bencana saja, seberapun besar dan kecilnya. Bencana non alam, contohnya kecelakaan lalulintas, kebakaran hutan yang disengaja, radiasi nuklir, seperti yang terjadi di Chernobyll Rusia, maupun Fukushima Jepang. Bencana Sosial contohnya berbagai perang besar seperti perang dunia I dan II, perang Vietnam, perang Korea, dan lain-lain dapat berakibat memakan korban  jiwa maupun harta yang lebih besar dari pada bencana alam. Bencana Alam Untuk bencana alam, Indonesia merupakan negara yang memiliki resiko bencana alam cukup tinggi. Ada bermacam-macam bencana alam di Indonesia, disamping erupsi gunung berapi ada erupsi gunung lumpur ( mudvolcano ), gempa bumi, tsunami,  tanah longsor,  badai siklon, banjir, tetapi juga kekeringan yang berakibat pada kebakaran hutan ketika ada fenomena El Nino. Bahkan bukan saja bencana lithosfer, atmosfer, dan hidrosfer, tetapi juga  3  bencana alam biosfer. Dalam beberapa bulan terakhir berbagai wilayah Indonesia terlanda mewabahnya ulat bulu. Itulah fenomena alam, kadang bisa ditebak, tetapi lebih sering unpredictable . Semua gejala alam harus disikapi dengan bijaksana. Manusia perlu arif, menyikapi alam dengan ramah, tidak harus menguasai alam, untuk itu harus pandai beradaptasi dengan lingkungan alam. Penduduk Jepang dan Kalifornia Amerika Serikat yang sering merasakan gempa bumi, menyikapi alam dengan arif. Untuk tempat tinggal mereka banyak mendirikan bangunan rumah dengan kayu. Tidak mengherankan bila masyarakat Jepang membangun tempat tinggal anti gempa baik dari kayu maupun dari beton. Rumah kayu menjadi alternatif  bangunan rumah anti gempa terbaik, karena relatif lentur. Orang Jepang memiliki tempat tidur di bawah, makan dengan lesehan, hal itu karena masyarakat Jepang dapat menyesuaikan lingkungan dan arif menyikapi alam sekitarnya. Wilayah Jepang, California, adalah sebagian kecil contoh wilayah negara-negara yang sering mengalami gempa bumi. Masyarakatnya semakin cerdas dan arif dalam menyikapi fenomena alam sehingga tetap saja menjadi bangsa dan negara maju. Hal itu kontras dengan masyarakat Indonesia. Kebanyakan bangunan rumah penduduk di Indonesia aslinya berupa rumah kayu dan bambu. Semula, atau dahulu nenek moyang  bangsa Indonesia telah menunjukkan sikap yang arif, tetapi pada beberapa decade setelah kemerdekaan, banyak masyarakat membangun rumah dengan konstruksi tidak anti gempa. Tercatat dalam sejarah, gempa bumi besar di Yogyakarta pada tanggal 23 Juli tahun 1943  jam 22.30, dalam Geology of Indonesia  (Bemmelen, 1972), bangunan tempat tinggal yang selamat adalah rumah yang memiliki konstruksi anti gempa milik orang kulit putih, dan rumah penduduk pribumi yang dibuat dengan kayu dan bambu. Sebagian besar korban yang tewas dan luka karena tinggal di rumah tembok tanpa beton, bahkan sebagian besar tembok dibangun tanpa semen blawu . Pada saat itu jumlah korban tewas seketika 213 orang, terluka dan kemudian tewas 677 orang, luka berat 1.165 orang, luka ringan 2.096 orang, 12.603 rumah roboh, 166 rusak berat, 15.275 rusak ringan. Wilayah Yogyakarta benar-benar luluh lantak. Gempa juga mencakup dari wilayah Ciamis Jawa Barat hingga Klaten Jawa Tengah. Sejarah berulang. Hal serupa terjadi lagi pada hari Sabtu 27 Mei 2006 jam 05.57 pagi, gempa  bumi berkekuatan 5,9 skala Richter, berpusat di darat dengan kedalaman sekitar 10 km, telah meluluhlantakkan wilayah Bantul, dan Klaten. Bangsa ini mungkin dalam proses  4  penggemblengan alamiah. Untuk menjadi bangsa yang besar, perlu jatuh bangun, tidak saja oleh masalah sosial, politik dan ekonomi, tetapi juga oleh bencana alam. Seperti kata Bung Karno “… kita tidak ingin menjadi bangsa seperti di negeri Uttarakhuru , yang tenang-tenang saja, panas tidak terlalu panas, dingin tidak terlalu dingin, tetapi kita, bangsa Indonesia harus menjadi bangsa yang besar dan oleh karena itu harus  get up and down, get up and down, get up and down   … , jatuh bangun, jatuh bangun untuk menjadi bangsa yang besar  …” Sudah saatnya kini para akademisi segera mengabdikan diri untuk menyusun gagasan nyata membantu pemerintah yang tampaknya relatif pasif mengambil tindakan. Beberapa  perguruan tinggi telah mendirikan pusat studi kebencanaan, selanjutnya diharapkan menelorkan semacam prosedur operasional baku tanggap bencana. Pusat studi di perguruan tinggi diharapkan tidak hanya berhenti pada diskusi, seminar, dan penelitian saja tetapi seharusnya hingga proses sosialisasi, dan bahkan pelatihan-pelatihan, baik pra bencana, masa  bencana, maupun  post hazard  . Dengan demikian akan dapat mengurangi jumlah korban. Peristiwa tsunami karena badai Aila yang terjadi di Dakka Bangladesh tahun 1993 yang menewaskan 143 ribu orang, tsunami yang terjadi di Aceh tahun 2004 yang menewaskan lebih dari 125 ribu orang, erupsi yang terjadi di Gunung berapi Merapi yang memakan korban hingga ratusan orang karena diterjang awan panas, diharapkan tidak akan terjadi lagi apabila  pemerintah bersama masyarakat dapat bertindak lebih cerdas dan cepat. Selengkapnya lihat Tabel 1 berikut. Tabel 1. Jumlah Korban Bencana Alam Tsunami Lokasi tsunami Tahun Penyebab Tinggi Korban jiwa Banten dan Lampung 1883 Gunung Krakatau 40 meter 36.000 Pantai timur Jepang 1896 Gempa bumi 80 feet 27.000 Pantai Chile 1960 Gempa bumi 20 feet 139 Aleutian 1946 Gempa bumi 100 feet 159 Pantai Belanda 1953 Badai 4 meter 1835 Pantai Bangladesh 1993 Badai Aila 10 meter 143.000  NAD dan Sumut 2004 Gempa bumi 10 meter 125.000 Tsunami Fukhusima 2011 Gempa bumi 10 meter 13.116  Diramu dari berbagai sumber: King, 1964; Damen, 1989; Sahala Hutabarat, 1982; Kompas, Januari 2005; Kedaulatan Rakyat, Januari 2005, Kompas 3 Mei 2011.
Related Search

Previous Document

SAP Manajemen Stres

Next Document

DESIGN.docx

We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks