REAKSI ALERGI ANAFILAKTIK

Publish in

Documents

16 views

Please download to get full document.

View again

of 11
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
.
Transcript
  1.   REAKSI ALERGI ANAFILAKTIK Syok anafilaktik atau anafilaksis adalah reaksi alergi yang tergolong berat karena dapat mengancam nyawa penderitanya. Reaksi alergi ini dapat berkembang dengan cepat. Kondisi ini diawali dengan gejala-gejala umum, seperti mual, muntah, dan rasa sakit di daerah perut. Syok anafilaktik umumnya muncul dalam beberapa menit setelah penderita terpapar oleh alergen, namun juga dapat muncul setelah beberapa jam sehingga penyebab  berikut gejalanya perlu dikenali.    Penyebab Syok Anafilaktik Alergen adalah apa pun benda yang menjadi penyebab terjadinya syok anafilaktik. Reaksi alergi berlebih ini adalah bagaimana sistem imun tubuh merespons zat-zat yang dianggap berbahaya oleh tubuh secara alamiah. Beberapa alergen yang dapat memicu reaksi syok anafilaktik di antaranya:    Makanan, seperti hidangan laut, telur, susu, atau buah-buahan.    Sengatan serangga, seperti lebah atau tawon.    Kacang-kacangan, seperti kacang tanah, kacang mede, kacang almond, dan lain-lain.    Obat-obatan tertentu, seperti antibiotik,    Lain-lain, seperti karet lateks. Penderita penyakit asma atau orang yang memiliki kelainan kulit menahun, seperti atopik dermatitis, lebih berisiko terkena syok anafilaktik. Terdapat juga kasus anafilaktik idiopati, yaitu reaksi alergi yang tidak dapat diketahui penyebabnya.    Gejala Syok Anafilaktik Saat tubuh terpapar alergen, sistem imun tubuh Anda akan mengeluarkan berbagai zat kimia, seperti histamin. Inilah yang menyebabkan munculnya reaksi syok anafilaktik. Gejala syok anafilaktik lain yang patut diperhatikan selain yang sudah disebutkan di atas adalah:    Ruam merah pada kulit    Bentol yang gatal    Pembengkakan pada mata, bibir, tangan, dan kaki    Pembengkakan pada mulut, lidah, atau tenggorokan    Pusing atau pingsan    Mengi Temui dokter jika Anda mengalami gejala-gejala ini setelah mengonsumsi atau terpapar substansi penyebab reaksi alergi.     Diagnosis dan Klasifikasi Syok Anafilaktik Syok anafilaktik memiliki beberapa klasifikasi yang terbagi berdasarkan alergen, reaksi yang ditimbulkan, serta periode munculnya reaksi alergi. Tiga klasifikasi utama syok anafilaktik adalah:    Syok anafilaktik yang berhubungan dengan sistem vasodilatasi. Reaksi ini menyebabkan rendahnya tekanan darah hingga 30 persen dari batas bawah tekanan darah normal penderitanya.    Anafilaktik bifasik adalah reaksi alergi yang muncul kembali setelah reaksi alergi pertama muncul pada penderita tanpa melalui paparan dari alergen. Reaksi kedua umumnya muncul dalam periode waktu 72 jam setelah reaksi  pertama.    Pseudo anafilaktik atau reaksi anafilaktoid atau nonimun anafilaktik adalah  jenis anafilaksis yang tidak melibatkan reaksi alergi melainkan degranulasi  pada sel mast penghasil zat kimia seperti histamin. Diagnosis syok anafilaktik diperoleh berdasarkan gejala dan riwayat alergi pada  penderitanya. Dokter juga akan melakukan beberapa tes alergi pada penderita sebelum menentukan diagnosis syok anafilaktik. Beberapa tes yang mungkin dilakukan adalah tes alergi pada kulit dengan menggunakan alat uji tempel, menyerupai sebuah koyo, untuk mengetahui jenis alergen penyebab reaksi alergi. Alat uji tempel umumnya digunakan untuk mengetahui jenis makanan, racun, dan antibiotik apa yang menimbulkan reaksi alergi. Pemeriksaan alergi juga bisa dilakukan dengan cara tes darah.    Pengobatan Syok Anafilaktik Salah satu pengobatan yang diberikan pada pasien syok anafilaktik adalah suntikan adrenalin. Suntikan adrenalin harus segera diberikan jika reaksi alergi disertai gejala seperti kesulitan bernapas dan kehilangan kesadaran. Pastikan untuk memindahkan sumber alergi, seperti sengat lebah, sebelum memberikan pertolongan lanjutan kepada  penderita. Alat suntik hendaknya didiamkan selama 5-10 detik setelah suntikan adrenalin diberikan. Berikan dosis suntikan adrenalin kedua jika kondisi pasien tidak tampak membaik setelah 5-10 menit pertama. Pelajari dan baca instruksi pemberian suntikan adrenalin sebagai tindakan pertolongan pertama sebelum memberikan tindakan. Suntikan adrenalin dapat membantu mengurangi pembengkakan, melancarkan saluran udara sehingga memudahkan pernapasan, serta meningkatkan tekanan darah pasien. Pada pasien dengan henti nafas dan henti jantung, petugas kesehatan akan melakukan resusitasi jantung paru (CPR). Beberapa posisi juga dapat diterapkan untuk membantu meningkatkan kondisi pasien  paska pemberian suntikan adrenalin. Posisi telentang dengan kaki terangkat dapat membantu melancarkan aliran darah ke kepala dan jantung. Pada perempuan hamil,  pasien dapat berbaring dengan bertumpu pada tubuh bagian kiri untuk menjaga kelancaran aliran darah. Segera hubungi rumah sakit setelah suntikan adrenalin diberikan untuk mendapatkan penanganan medis selanjutnya.  Obat-obatan seperti kortikosteroid dan antihistamin dapat diberikan setelah pasien menyelesaikan perawatan di rumah sakit untuk mengurangi serta mencegah kembalinya gejala syok anafilaktik. Pasien juga dapat diberikan suntikan adrenalin sebagai tindakan pengamanan darurat selama menjadi pasien rawat jalan pasca  perawatan.    Pencegahan Syok Anafilaktik Syok anafilaktik dapat berujung kepada kematian yang disebabkan oleh terhentinya detak jantung dan pernapasan. Pengenalan gejala dan mempelajari tindakan  pencegahan dapat membantu pasien terhindar dari risiko kematian akibat syok anafilaktik. Kenali alergen Anda dengan melakukan tes alergi di rumah sakit atau klinik terdekat. Buat dan bawalah selalu obat-obatan serta catatan kecil berisi daftar alergen Anda dan apa yang harus dilakukan oleh orang di sekitar Anda, termasuk dokter Anda, jika serangan syok anafilaktik terjadi. Selalu perbarui persediaan obat-obatan Anda agar terhindar dari kekurangan obat saat situasi darurat terjadi. Hindari juga makanan atau pemicu alergi lain yang dapat menimbulkan reaksi alergi dengan cara membaca label keterangan pada kemasan makanan, menggunakan losion antiserangga, dan mengonsumsi antibiotik jenis lain yang tidak menyebabkan alergi. 2.   SISTEM IMUNITAS (KEKEBALAN) Sepanjang hidupnya, setiap organisme akan bersentuhan dengan bermacam-macam mikroorganisme dan berbagai parasit. Banyak mikroorganisme dan parasit dapat merusak tubuh, menimbulkan penyakit, bahkan membunuh atau mematikan. Secara alami, tubuh telah mempunyai alat pertahanan yang disebut sistem kekebalan atau imunitas. Ilmu yang mempelajari sistem imun atau kekebalan tubuh disebut immunologi . (Amien Moh, 1994) A.   Kekebalan tubuh.  Di dalam tubuh, sistem imun melawan berbagai penyerang yang berupa benda asing atau antigen. Kekebalan tubuh ini dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu: 1.   Kekebalan bawaan (innate immunity).  Kekebalan bawaan disebut juga kekebalan tidak spesifik. Kekebalan ini merupakan garis utama tubuh yang pertama dalam melawan semua agen asing yang masuk ke dalam tubuh. Alat imunitas bawaan ini antara lain: kulit, air mata, mucus, dan air ludah yang mencegah laju peradangan setelah terjadi infeksi.  2.   Kekebalan adaptasi.  Kekebalan adaptasi disebut juga kekebalan spesifik. Kekebalan ini dilakukan oleh sel, molekul dan organ dari sistem imun, menghasilkan suatu imun yang spesifik untuk melawan agen asing atau antigen atau penyakit. B.   Alat-alat kekebalan tubuh   1.   Daya tahan tubuh non spesifik  . a.   Kulit yang utuh tidak dapat ditembus oleh mikroorganisme karena epidermis terdiri dari berlapis-lapis sel epitel yang sangat rapat dan disertai lapisan tanduk  pada bagian atasnya.  b.   Suasana asam di kulit mengurangi pertumbuhan mikroorganisme. c.   Keringat, air mata dan lendir dapat mengencerkan atau membersihkan benda- benda asing/antigen. d.   Refleks batuk, bersin dan muntah dapat mengeluarkan zat-zat asing dari saluran pernapasan dan saluran pencernaan bagian atas. e.   Asam lambung dapat membunuh segala macam mikrorganisme dan melumpuhkan berbagai racun. f.   Mikroorganisme yang normal pada kulit dan selaput lendir dapat menekan munculnya bakteri patogen. g.   Lisozyme, merupakan enzim bakterisida, terdapat pada air ludah, air mata, keringat yang akan mengurangi kemungkinan infeksi oleh bakteri patogen. h.   Enzim proteolitik empedu dapat membunuh bakteri patogen. i.    pH rendah pada vagina serta spermin pada sperma dapat membunuh mikroorganisme patogen. 2.   Interferon.  Interferon adalah protein yang membantu untuk melindungi sel-sel tubuh yang sehat di sekitarnya terhadap virus. Interferon yang dihasilkan sebagai respon terhadap suatu virus, memberikan perlindungan kepada sel-sel terhadap invasi yang sama atau virus lainnya. Interferon berfungsi untuk melawan infeksi yang disebabkan oleh virus, meningkatkan sistem kekebalan, efektif untuk melawan melanoma (kanker kulit), leukemia, membantu menyembuhkan rematik tulang. 3.   Antibodi.  Antibodi adalah suatu protein (immunoglobulin) yang diproduksi oleh sel. Antibodi terdiri dari empat rantai polipeptida, yaitu satu pasang rantai panjang (rantai  berat) dan satu pasang rantai pendek (rantai ringan). Keempat polipeptida disatukan membentuk struktur quartener. Setiap antibodi memberikan tanggapan yang berbeda terhadap benda asing yang memasuki tubuh. Perbedaan masing-masing molekul antibodi terutama ditentukan oleh urutan asam amino yang menyusun bagian yang  berfungsi mengikat antigen (benda asing). Immunoglobulin adalah protein penyusun antibodi yang dibedakan menjadi 5 kelas berdasarkan keanekaragaman

Previous Document

Slide 1

We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks