STUDI PAF/NAF DENGAN METODE UJI STATIK PT. KITADIN SITE EMBALUT KALIMANTAN TIMUR

Publish in

Documents

280 views

Please download to get full document.

View again

of 11
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
JGP (Jurnal Geologi Pertambangan 54 STUDI PAF/NAF DENGAN METODE UJI STATIK PT. KITADIN SITE EMBALUT KALIMANTAN TIMUR Singgih Saptono1, Syamsidar Sutan Malin P2 dan Endy Mukhlis Syuhada3 ABSTRAK Penelitian ini merupakan usaha untuk menentukan potensi batuan pembentuk asam melalui parameter uji statik yang akurat dalam klasifikasi analisis kimia pada sam
Transcript
  JGP (Jurnal Geologi Pertambangan 54   1    Dosen Jurusan Teknik Pertambangan UPN Veteran, Yogyakarta 2    Dosen Prodi. Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Kutai Kartanegara 3   Geologis PT. Kitadin STUDI PAF/NAF DENGAN METODE UJI STATIK PT. KITADIN SITE EMBALUT KALIMANTAN TIMUR Singgih Saptono 1 , Syamsidar Sutan Malin P 2  dan Endy Mukhlis Syuhada 3  ABSTRAK  Penelitian ini merupakan usaha untuk menentukan potensi batuan pembentuk asam melalui parameter uji statik yang akurat dalam klasifikasi analisis kimia pada sampel batuan dan air. Penelitian ini diawali dengan melakukan berbagai metode uji statik yang sering dilakukan di  Indonesia, yaitu; total sulfur (TS), acid neutralizing capacity (ANC), net acid generating (NAG) dan pH Paste. Pengujian ini, dilakukan pada sampel tanah penutup overburden dan interburden  serta batubara itu sendiri.  Penelitian ini mengambil sample dari enam titik bor, yaitu E17-303G, E17-254C, E17-221C, E17-326C, E17-176C, E17-415C. Beradasarkan hasil deskripsi batuan, menunjukan adanya jenis mineral sulfida yang terdapat pada keenam sampel, secara umum ada korelasi yang baik antara total sulfur dan NAPP yang terdapat pada batuan dengan besaran NAG pH. Untuk jenis mineral  sulfida reaktif yang sama, semakin besar total sulfur, maka NAG pH akan bernilai besar pula.  Khusus untuk sampel E17-303G dan E17-415C dimana total sulfur E17-303G lebih besar, namun nilai NAG pH 4.5-nya lebih kecil, maka dapat disimpulkan dari hasil penelitian ini, bahwa dalam  sampel E17-303G terdapat lebih banyak sulfida yang kurang reaktif, sedangkan sampel E17-415C nilai NAGpH 4.5-nya lebih besar dari pada nilai total sulfurnya, sehingga pada sampel ini terdapat sulfida yang sangat reaktif. Keywords: Nag pH, Acid Mine Drainage, NAPP method Geologi Daerah Penelitian Berdasarkan studi literatur dan juga penyelidikan/survei lapangan, maka satuan batuan daerah penyelidikan dapat dikelompokkan dalam satuan batuan  berdasarkan ciri-ciri litologi yang dijumpai. Litologi daerah penyelidikan dapat dikelompokkan ke dalam dua satuan batuan yaitu : ã   Satuan aluvium (aluvium sungai dan rawa) ã   Satuan perselingan batupasir dan batulempung Endapan batubara dalam wilayah KW.KTN 2009 0008 Ep (Gambar 3) ditemukan diantara Formasi Pulaubalang dan Formasi Balikpapan berumur antara Miosen atau sampai dengan Pliosen Bawah. Dalam batas wilayah seluas 2.973,6 Ha telah ditemukan sebanyak 13 Seam lapisan batubara. Lokasi penambangan memiliki susunan lapisan batupasir, batulempung dan batulanau. Formasi batuan di Embalut terdiri atas : -   Formasi Pulaubalang (Miosen Tengah-Miosen Atas) Formasi terdiri dari batupasir, kuarsa, yang berwarna abu-abu, lempung, sisipan batubara dan lensa-lensa batubara. Formasi dengan lapisan batubara  berada di bagian Timur dari daerah pertambangan. -   Formasi Balikpapan (Miosen Atas-Pliosen) Batuannya terdiri dari batupasir abu-abu keputih-putihan, berbutir halus sampai sedang, serpih, dan aspal dengan sisipan batulanau, batulempung dan batubara. Formasi ini membentuk perbukitan di bagian Barat dari daerah penambangan. -   Alluvial  JGP (Jurnal Geologi Pertambangan 55   Volume 1 Februari 2016   Formasi ini terdiri dari lempung dan batupasir yang membentuk suatu daerah dataran rendah dan rawa-rawa. Sumber: BAPPEDA Kabupaten Kutai Kartanegara) Gambar 3 Peta Lokasi Penambangan PT. Kitadin site Embalut Endapan batubara pada wilayah penambangan ditemukan dalam Formasi Balikpapan yang pada umumnya terdapat di antara batupasir. Secara umum, Formasi Balikpapan terdiri dari batupasir berselingan dengan batulanau, serpih dengan sisipan napal, dan lignit batubara (Gambar 4). MASA  ERA ZAMAN  PERIOD KALA  EPOCH  ENDAPAN PERMUKAAN  SURFICIAL DEPOSITS  BATUAN SEDIMEN  SEDIMENTARY ROCK     K    E    N    O    Z    O    I   K    U    M    C   E   N   O   Z   O   I   C     K    U     A    R    T    E    R     Q   U    A   T   E   R   N    A   R   Y     K    U     A    R    T    E    R     Q   U    A   T   E   R   N    A   R   Y HOLOSEN  HOLOCENE  PLISTOSEN  PLEISTOCENE  PLIOSEN  PLIOCENE      M    I     O     S    E    N    M   I    O    C   E   N   E AKHIR   LATE  TENGAH  MIDDLE  AWAL  EARLY  QaTpkbTmpbTmbpTompTmbOLIGOSEN OLIGOCENE    (Sumber:Peta Geologi Lembar Samarinda, Kalimantan) Gambar 4 Stratigrafi Cekungan Kutai LOKASI PENAMBAN  JGP (Jurnal Geologi Pertambangan 56   Volume 1 Februari 2016   Karakteristik Batuan Pada umumnya air asam tambang dari pertambangan batubara mempunyai karakteristik pH yang rendah sekitar 3 dan kadar sulfat yang tinggi (>2000 mg/l) dan mengandung logam besi. Secara umum air asam tambang dapat terjadi dari air limpasan ( runoff  ) atau air rembesan (  seepages ) dari timbunan material  buangan sulfida, timbunan tailing   dan ampas batubara. Daerah penelitian di tambang batubara PT. Kitadin berlokasi di blok D L3 dengan seam target adalah seam 17 grup selatan dengan luas area penelitian 540.78Ha dengan luasan pit 57.48Ha. Kondisi di daerah penelitian memiliki satuan  batuan Formasi Balikpapan merupakan perselingan batupasir dan lempung dengan sisipan batulanau, serpih, batugamping, dan batubara yang diendapkan pada waktu Miosen Tengah dalam lingkungan paras delta ( delta front  ) hingga dataran delta ( delta plain ). Formasi ini memiliki hubungan menjari dengan Fm. Pulaubalang. Dengan strike/dip N172 o E/N15 o E, struktur yang dijumpai pada daerah penelitian adalah sinklin. Pengujian statik memberikan karakteristik batuan dengan parameter paste  pH, total sulfur (S), acid neutralizing capacity (ANC) dan n et acid generating   (NAG) (Gambar 5). Klasifikasi batuan dapat dilakukan dengan menggunakan interpretasi yang berbeda-beda. Salah satu klasifikasi yang dilakukan adalah dengan mengkategorikan sampel dengan nilai NAPP>0 dan NAG pH<4.5 sebagai  batuan PAF, dan sebaliknya sebagai batuan NAF. Diharapkan dengan cara ini dari 69 titik bor sebagai sampel yang diuji statik, yaitu terbagi 21 titik bor dianalisis sebagai kategori pembentuk asam (PAF) dan 48 titik bor sebagai penetral asam (NAF). Dengan menganalisis karakteristik batuan ke-69 titik bor tersebut (Tabel 5), maka dipilih 6 (enam) titik bor secara acak untuk uji sampel material mengetahui kondisi PAF dengan metode statik. Gambar 5 Kompilasi penyebaran pH NAG dan NAPP dari 69 titik bor. Berdasarkan pada tabel dibawah, merupakan hasil perhitungan neraca asam-basa atau acid base accounting   (ABA) yang memperlihatkan hasil uji statik dengan nilai NAPP pada kondisi PAF dan NAF. Perhitungan ABA yang telah dilakukan dari ke-69 sampel titik bor diambil 6 sampel titik bor (Tabel 4) secara 0123456789-50 -25 0 25 50 75 100 125   p   H    N   A   G NAPP (kg H 2 SO 4 /ton batuan)  JGP (Jurnal Geologi Pertambangan 57   Volume 1 Februari 2016   acak mewakili kondisi PAP dan NAF, tetapi yang berpotensi membentuk air asam tambang (AAT) sebanyak 21 titik bor dan sisanya adalah kondisi NAF, kemudian dari nilai NAPP diolah menjadi peta penyebaran PAF dan NAF guna memberikan informasi untuk penerapan konsep desain tambang. Pada penelitian ini, material PAF sebagai objek utama yang akan diuji untuk mengetahui parameter yang  berkaitan dengan pembentukan AAT. Guna mengetahui penyebaran keseluruhan titik bor, maka kompilasi pH NAG dan NAPP sangat diperlukan untuk interpretasi selanjutnya terutama pada keenam titik bor tersebut (Tabel 6). Analisis ANC dilakukan dengan melakukan kalkulasi/perhitungan ANC. Kalkulasi: ANC = [Y x M HCl /wt] x C Keterangan: Y = (Volume HC yang ditambahkan) – (Vol NaOH yang dititrasi x B) B = (Volume HCl pada blanko) / (Volume NaOH yang dititrasi pada blanko) M HCl = Molaritas HCl Wt = Bobot sample (= 2 gr) C = Faktor konversi, C = 49.0 (untuk menghitung kg H 2 SO 4 /t), C = 5.0 (untuk menghitung % CaCO 3 ).  Contoh Perhitungan ANC : Sampel E17_415C Diketahui: B = (40/66.73) =0.5994 Y = (40-(61,23 x 0.5994) = 3.297 ANC = (3.297 x (0.1/2) x 49 = 8.077 kg H 2 SO 4 /t Tabel 4 Analisis ANC Test
Related Search

Next Document

1

Related Documents
View more...
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks