Takhrij Hadits Anjuran Menikah Larang Membujang

Publish in

Documents

94 views

Please download to get full document.

View again

of 23
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
kajian takhrij hadits
Transcript
   1 Takhrij Hadis Anjuran Menikah, Larangan Membujang, dan Peringatan Mempermudah Perceraian (HR. Al-Thabrani) Oleh: Rasyid Rizani, S.HI., M.HI (Hakim pada Pengadilan Agama Bajawa –  NTT) Bab I Pendahuluan Salah satu makna  syumuliyyah  (universalitas) Islam adalah ke-sempurnaan doktrin yang terkandung di dalamnya, relevan untuk semua orang kapan dan di mana saja. Apapun seluk-beluk kehidupan tidak ada yang lepas dari 'ketundukan' kepada keteraturan undang-undang Allah SWT. Pendek kata, dien  yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. ini mengatur seluruh ruang-lingkup kehidupan manusia. Tidak hanya masalah-masalah ibadah mahdhah , seperti shalat, puasa, zakat, dan sebagainya melainkan juga menyentuh sisi muamalah (interaksi sesama manusia), ekonomi, sosial, budaya, peradaban, bahkan politik dan kepemimpinan sekalipun. Dalam kehidupan ini, kita mengenal institusi pernikahan sebagai sebuah lembaga hidup yang menjadi salah satu elemen masyarakat secara luas. Pernikahan dibangun atas dasar komitmen membentuk kehidupan rumah tangga yang harmonis dengan landasan kasih sayang, yang dalam istilah Al- Qur’an disebut  sakinah , mawaddah , wa rahmah . Islam tidak membenarkan ikatan suami istri yang hanya berorientasi kepada kepentingan pemuas kebutuhan sesaat, apalagi untuk menginjak-injak hak pasangannya. Oleh karena itulah pernikahan yang diinginkan adalah pernikahan yang langgeng dan berhasil melahirkan generasi penerus yang kuat.   2 BAB II Pembahasan A. METODE PENELITIAN 1. Data dan Sumber Data Data yang digali dalam penelitian ini adalah data tentang  sanad   dan matan  hadis tentang anjuran menikah sekaligus larangan mempermudah perceraian  —  yang meliputi biografi para perawi, cara periwayatan, dan komentar para ulama tentang hadis tersebut. Penelitian hadis ini lebih pada penelitian kepustakaan atau literatur ( library research ). Penelitian dilakukan dengan merujuk pada sumber-sumber yang berkenaan langsung dengan keberadaan hadis yang dimaksud. Adapun redaksi hadis yang dimaksud adalah: تاواو   اوا         ا   ن   اط   و   او Artinya:  Hendaklah kalian menikah dan janganlah (mempermudah) untuk mentalak, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai laki-laki dan  perempuan yang hidup membujang . 2. Teknik Pengumpulan dan Analisi Data Data yang menjadi fokus penelitian ini diperoleh melalui langkah-langkah  berikut: a.   Takhrij al-Hadis . Yakni melakukan penelitian di mana saja hadis tersebut tertulis dalam kodifikasi. Hadis yang dimaksud ditemukan dalam kitab-kitab hadis standar.  b.   Melakukan kritik sanad dengan beberapa tahapan: 1)    Al-I'tibar   dan Penyajian Skema Sanad 2)   Meniliti biografi ruwat al-hadis dan metode transmisi (periwayatan) yang digunakan. 3)   Menarik kesimpulan dengan memperhatikan  jarh  dan ta'dil  , sehingga dapat diperoleh kepastian kedudukan hadis tersebut.   3 Berdasarkan metode di atas, dapat dikatakan bahwa penelitian ini berada  pada tataran tadrib al-hadis , yakni meneliti sejauh mana kualitas hadis dengan memperhatikan sanad dan matan. B. HASIL PENELITIAN 1. Takhrij al-Hadis Melakukan takhrij  hadis berarti kita berupaya untuk menemukan letak hadis tersebut dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya riwayat yang  berkenaan. Penulis mencoba melakukan takhrij  melalui lafaz pertama matan hadis yang dimaksud. Langkah-langkahnya adalah dengan melacak lafal .... dalam kitab  Al-Jami' al-Shaghir fii Ahadits al-Basyir al-Nadzir   karya al-Imam al-Hafizh Jalal al-Din 'Abd al-Rahman ibn Abu Bakr al-Suyuthi. Kitab ini merupakan salah satu kitab standar takhrij  hadis yg tersusun berdasarkan urutan huruf mu'jam  (model ensiklopedi), dengan metode lafal pertama matan hadis. Berdasarkan penulusuran tersebut ditemukan lafal redaksi (matan) hadis  berikut: ِتزاواو   زِاوا   ِ   ز   زا   نِ  ز   ازط   ززو   اوزز   1   Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Thabrani dengan perawi  pertama sahabat Abu Musa al- Asy’ari ra. Penulis mengalami sedikit kesulitan dalam menemukan redaksi hadis lengkap (sanad dan matan) pada referensi kitab karya Imam al-Thabrani sebagai perawi hadis tersebut. Akan tetapi dengan bantuan fasilitas teknologi CD Program Maktabah Alfiyyah li al-Sunnah al-Nabawiyyah sanad dan matan hadis tersebut dapat diketahui. Hanya saja redaksi tersebut penulis 1 Jalal al-Din 'Abd al-Rahman al-Suyuthi,  Al-Jami' al-Shagir fii Ahadits al-Basyir al- Nadzir Juz 1, (Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 2006), hal. 197. او   4 dapatkan dalam kitab  Al-  Jami‟ li Ahkam al  - Qur‟an  karya Imam al-Qurthubi. 2  Berikut petikan dari kitab Tafsir al-Qurthubi tersebut:       ثح   ل   ا         خ         ثح   ل         ا      ثح      ا          ةد      نطا   نا      ن      ش   ثح   ل   ا   ل   يشا   ى    : زززو   ِزز   ا   ىزص   ِا   لزر   زلز : زا   نِ  ز   ازط   ززو   اوزز   ِتزاواو   زِاوا   ِ   ز   3   Artinya: ‘  Abd al-  Baqi ibn Qani‟ menceritakan kepada kami bahwa  Muhammad ibn Khalid ibn Yazid al-Nayli menceritakan kepada kami bahwa Muhallab ibn al- „Ala‟ menceritakan kepada kami bahwa Syu‟aib ibn Bayan dari „Imran ibn al  -Qaththan dari Qatadah dari Tamimah al-Hajimi dari Abu Musa al-  Asy‟ari berkata, Rasulullah SAW. pernah bersabda:   Hendaklah kalian menikah dan janganlah (mempermudah) untuk mentalak, karena  sesungguhnya Allah tidak menyukai laki-laki dan perempuan  yang hidup membujang. Dari hadis di atas terdapat rangkaian sanad sebagai berikut: 1) Sahabat Abu Musa al- Asy’ari ra.; 2) Tamimah al-Hajimi; 3) Qatadah; 4) ‘Imran al -Qaththan; 5) Syu’aib ibn Bayan ; 6) Muhallab ibn al- ‘Ala’ ; 7) Muhammad ibn Khalid ibn Yazid al-  Nayli; 8) ‘Abd al - Baqi ibn Qani’; dan 9) al-Imam al-Thabrani sendiri, selaku mukharrij  sekaligus perawi terakhir bagi kita. 2 Abu ‘Abd Allah Muhammad al -Qurthubi,  Al-  Jami‟ li Ahkam al  - Qur‟an . (Kairo: Dar al-Sya ’b, 1951), Juz 18, Cet. II, hal. 149; penulis juga menemukan sumber  -sumber lain yang memuat hadis tersebut antara lain dalam Al- ‘Allamah ‘Ala’ al - Din ‘Ali al -Muttaqi ibn Hisam al-Din al-Hindi,  Kanz al-Ummal fii Sunan al-Aqwaal wa al-  Af‟aal  . (Beirut: Mu’ass asah al-Risalah: 1989), Juz 9, hal. 661; lihat juga dalam Abu Syuja’ Syirwaih al -Dailami al-Hamdani,  Al-Firdaus bi al-  Ma‟tsur  . (Beirut: Dar al-Kutub al- ‘Ilmiyyah, 1986), Juz 2, hal. 51 melalui sanad Abu Hurairah.   3  Ibid.  

Next Document

Analisa4

We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks