Tinjauan Pustaka DM

Publish in

Documents

137 views

Please download to get full document.

View again

of 20
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
Tinjauan Pustaka DM
Transcript
  BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.3 Diabetes Mellitus Tipe 2 2.3.1 Definisi Perkumpulan Endokrinologi Indonesia menyatakan DM sebagai suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya [PERKENI, 2015]. 2.3.2 Epidemiologi Menurut data World Health Organization, sebanyak 422 juta (8,5%) orang dewasa di bumi menderita diabetes. Prevalensinya di Asia Tenggara adalah sebesar 8,6% atau 96 juta jiwa [WHO, 2014]. Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar tahun 2013, prevalensi diabetes di Indonesia untuk usia diatas 15 tahun adalah sebesar 2,1% dari seluruh penduduk. Prevalensi diabetes tertinggi terdapat di Yogyakarta (2,6%), DKI Jakarta (2,5%), Sulawesi Utara (2,4%) dan Kalimantan Timur (2,3%) [RISKESDAS 2013]. 2.3.3 Klasifikasi Tabel 2.3.1 Klasifikasi DM berdasarkan etiologi [PERKENI, 2015] Tipe 1 Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut.    Autoimun    Idiopatik Tipe 2 Bervariasi, mulai yang dominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang dominan defek sekresi insulin disertai resistensi insulin Tipe Lain    Defek genetik fungsi sel beta    Defek genetik kerja insulin    Penyakit eksokrin pankreas     Endokrinopati    Karena obat atau zat kimia    Infeksi    Sebab imunologi yang jarang    Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM Diabetes mellitus Gestasional 2.3.4 Patogenesis DM tipe 2 ditandai dengan gangguan sekresi insulin, resistensi insulin, produksi glukosa hati yang berlebihan, dan metabolisme lemak abnormal Obesitas, terutama viseral atau sentral (dibuktikan dengan rasio pinggan-  panggul), sangat umum pada DM tipe 2 (≥80% pasien mengalami obesitas). Pada tahap awal gangguan tersebut, toleransi glukosa mendekati normal, walaupun terdapat resistensi insulin, hal ini disebabkan karena sel beta pankreas mengkompensasi dengan meningkatkan sekresi insulin.[Harrison, 2015] Resistensi insulin pada otot dan hati serta kegagalan sel beta pankreas merupakan  patofisiologi sentral dari DM tipe-2 [IPD,2014]. Selain otot, hati dan sel beta, organ lain seperti:  jaringan lemak (meningkatnya lipolisis), gastrointestinal (defisiensi incretin), sel alpha pankreas (hiperglukagonemia), ginjal (peningkatan absorpsi glukosa), dan otak (resistensi insulin), kesemuanya ikut berperan dalam menimbulkan terjadinya gangguan toleransi glukosa pada DM tipe-2. Delapan organ penting dalam gangguan toleransi glukosa ini ( ominous octet  ) penting dipahami karena dasar patofisiologi ini memberikan konsep tentang [DeFronzo, 2009] : 1.   Pengobatan harus ditujukan guna memperbaiki gangguan patogenesis, bukan hanya untuk menurunkan HbA1c saja 2.   Pengobatan kombinasi yang diperlukan harus didasari atas kinerja obat pada gangguan multipel dari patofisiologi DM tipe 2. 3.   Pengobatan harus dimulai sedini mungkin untuk mencegah atau memperlambat  progresivitas kegagalan sel beta yang sudah terjadi pada penyandang gangguan toleransi glukosa.   Gambar 2.3.1 Omnious octet. Delapan organ yang berperan dalam patogenesis hiperglikemia  pada DM tipe 2.[DeFronzo, 2009] Delapan organ yang berperan dalam pathogenesis DM adalah sebagai berikut [Harrison, 2015; IPD, 2014; PERKENI, 2015] : 1. Kegagalan Sel Beta Pancreas: Pada saat diagnosis DM tipe-2 ditegakkan, fungsi sel beta untuk memproduksi insulin sudah sangat berkurang. 2. Hati: Pada penderita DM tipe-2 terjadi resistensi insulin yang berat dan memicu glukoneogenesis yang meningkatkan produksi glukosa dalam keadaan basal oleh hati (HGP = hepatic glucose  production ) meningkat. 3. Otot: Pada penderita DM tipe-2 didapatkan gangguan fungsi insulin pada beberapa jalur di dalam sel otot, akibat gangguan fosforilasi tirosin sehingga timbul gangguan transport glukosa dalam sel otot, penurunan sintesis glikogen, dan penurunan oksidasi glukosa.  4. Sel lemak: Sel lemak yang resisten terhadap efek antilipolisis dari insulin, menyebabkan peningkatan  proses lipolisis dan kadar asam lemak bebas (FFA=  Free Fatty Acid  ) dalam plasma. Peningkatan FFA akan merangsang proses glukoneogenesis, dan mencetuskan resistensi insulin di hati dan otot. FFA juga akan mengganggu sekresi insulin. Gangguan yang disebabkan oleh FFA ini disebut sebagai lipotoxocity . 5. Usus: Glukosa yang dikonsumsi memicu respon insulin jauh lebih besar dibandingkan pemberian secara intravena. Efek yang dikenal sebagai efek incretin ini diperankan oleh 2 hormon, yaitu GLP-1 (  glucagon-like polypeptide -1) dan GIP (  glucose-dependent insulinotrophic polypeptide  atau disebut juga  gastric inhibitory polypeptide ). Pada penderita DM tipe-2 didapatkan defisiensi GLP-1 dan resisten terhadap GIP. Disamping hal tersebut incretin segera dipecah oleh keberadaan ensim DPP-4 ( dipeptidyl peptidase-4 ), sehingga hanya bekerja dalam beberapa menit. Saluran  pencernaan juga mempunyai peran dalam penyerapan karbohidrat melalui kerja ensim alfa-glukosidase yang memecah polisakarida menjadi monosakarida yang kemudian diserap oleh usus dan berakibat meningkatkan glukosa darah setelah makan. 6. Sel Alpha Pancreas: Sel- α berfungsi dalam sintesis glukagon yang dalam kea daan puasa kadarnya di dalam  plasma akan meningkat. Peningkatan ini menyebabkan HGP dalam keadaan basal meningkat secara signifikan dibanding individu yang normal. 7. Ginjal: Ginjal memfiltrasi sekitar 163 gram glukosa sehari. Sembilan puluh persen dari glukosa yang difiltrasi ini akan diserap kembali melalui peran SGLT-2 ( Sodium Glucose co- Transporter  )  pada bagian convulated   tubulus proksimal. Sedangkan 10% sisanya akan di absorbsi melalui peran SGLT-1 pada tubulus desenden dan asenden, sehingga akhirnya tidak ada glukosa dalam urine. Pada penderita DM terjadi peningkatan ekspresi gen SGLT-2. Obat yang menghambat kinerja SGLT-2 ini akan menghambat penyerapan kembali glukosa di tubulus ginjal sehingga glukosa akan dikeluarkan lewat urin.

Previous Document

TRAUMA FACIAL

Related Documents
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks