TUGAS HUMANIORA

Publish in

Documents

366 views

Please download to get full document.

View again

of 5
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
HUMANIORA DIV ALIH JENJANG
Transcript
  LAPORAN DISKUSI FILSAFAT SEBAGAI ILMU Disusun oleh : Aat Supriatin/Ade Wasiah/Aminah Arief Widiyanthy/Ammah Mustofiyah/ Anisa Nur Fauziyyah A.   Intisari Bacaan Pada hakikatnya humaniora adalah ilmu yang bersentuhan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang mencakup, etika, logika dan estetika. Secara umum humaniora dapat diartikan sebuah disiplin akademik yang mempelajari kondisi manusia menggunakan metode yang terutama analitik, kritikal atau spekulatif, sebagaimana dicirikan dari sebagian besar pendekatan empiris alami dan ilmu sosial. Dalam  pengertian membuat manusia lebih berbudaya. Ilmu kebidanan dan humaniora merupakan 2 ilmu berbeda namun memiliki hubungan yang saling melengkapi. Pelayanan kebidanan tanpa dilandasi konsep humaniora bisa dikategorikan tindk kriminal karena baik secara langsung maupun tidak langsung, tindakaan tidak manusiawi tersebut akan merampas hak klien sebagai  pengguna layanaan kebidanan. Hal ini tentunya merugikan bagi pengguna jasa maupun pelaksana pelayanan dalam hal ini adalah bidan. Bagi bidan yang tidak menerapkan ilmu humaniora bisa dikatakan telah melanggar kode etiknya dan kepadanya diberikan sanksi yang tegas atas kelalaian yang dibuat baik sengaja maupun tidak disengaja. B.   Problem Humaniora Sebagai Ilmu Humaniora pada umumnya membuat manusia lebih berbudaya. masyarakat  bisanya cukup kuat memegang teguh budaya yang ada disekitarnya. Tidak jarang  budaya tersebut menyebabkan diskriminasi gender. Bagaimana sikap humaniora sebagai ilmu dalam menanggapi hal tersebut?  C.   Studi Kasus Tabu Perempuan dalam Budaya Masyarakat Banten Ada banyak aktivitas dan kegiatan yang dilarang atau ditabukan bagi perempuan di Banten. Sejak mereka mengandung, melahirkan, masa bayi, masa anak -anak, masa  pubertas, dan masa perkawinan, perempuan di Banten hampir selalu dikelilingi oleh tabu. Tabu tampaknya dipandang sebagai simbol otoritas laki-laki atas diri perempuan sehingga dalam berbagai aktivitas sosial-keagamaan perempuan dibatasi oleh  pantangan-pantangan untuk membatasi aktivitas perempuan dalam kehidupan sosial yang banyak didominasi oleh laki-laki. Tabu untuk perempuan Banten dapat dikategorikan menjadi enam jenis. Pertama, tabu untuk gadis/perawan. Perempuan yang masih gadis atau perawan sering kali dilarang atau tabu melakukan beberapa aktivitas tertentu, seperti  perawan aja nyicipi  panganan/minuman engkone bokan di icipi wong lanang ‘gadis perawan tidak     boleh mencicipi makanan/minuman, nantinya dicicip (disentuh/disetubuhi) oleh laki- laki’;  perawan ora lih nyukur alis bokan ngadeleng setan ; dan lain sebagainya. Kedua, tabu menstruasi. Dalam kondisi menstruasi, perempuan dilarang atau tabu melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, misalnya wong haid mah ora olih ngabuang  softext/ pembalut asal bae, kudu dibersihaken dikit getihe, matak disedot setan dadi edan atawa gering bae ‘perempuan sedang menstruasi tidak boleh   membuang pembalut semabarangan, takut darah menstruasinya dihisap setan, nanti jadi gila atau sakit- sakitan’  ,  dan sebagainya. Ketiga, tabu pernikahan. Orang yang akan atau sedang menikah juga dibatasi aktivitasnya oleh tabu -tabu, seperti wong arep dikawinaken   mah ora olih metu-metu, matak bilai atawa digawa setan ‘perempaun yang mau nikah tidak     boleh keluar rumah, takut di bawa setan’; wong    arep dikawinaken mah aja adus pas dina kawine, endah  pangling kadelenge ‘perempuan yang   mau menikah tidak boleh mandi, supaya terlihat menarik dan cantik’; aja kawin karo sadulur, matak    anake bloon ‘jangan menikah dengan orang yang   masih ada tali persaudaraan, takut nanti anaknya bodoh-  bodoh’; dan sebagainya. Keempat, tabu perempuan hamil. Tabu nikah nampaknya bukan hanya terjadi di masyarakat Banten. Masyarakat Purbalingga dan Banyumas ternyata juga memiliki  tabu sejenis. Menurut Priyadi, masih banyak masyarakat pedesaan di Purbalingga dan Banyumas yang memegang teguh kepercayaan terhadap tabu. Tabu nikah yang ada di dua tempat ini menurutnya sering kali memunculkan konflik sehingga mereka takut untuk melanggar tabu nikah (Priyadi, 2006:166). Kelima, tabu melahirkan. Wanita hamil juga punya banyak pantangan atau tabu yang tidak boleh dilanggar kalau tidak ingin terjadi apa-apa dengan kehamilannya atau  pada saat mela hirkannya. Misalnya, wong meteng mah ora olih   ngumbah sikil kalawan banyu bekas kumbahan, matak ngalahirakene gati’ ‘perempuan hamil ti dak     boleh nyuci kaki dengan air bekas cucian, takut nanti melahirkannya susah’; wong meteng ora   olih ngagulibedaken anduk atawa kain ning gulu, matak bayine kagulibet ari-ari pas lahirane ‘orang   hamil tidak boleh mengikatkan kain di leher, takut nanti  bayi nya terbelit tali puser’; dan sebagainya .  Keenam, tabu perempuan lainnya. Wanita melahirkan atau pasca melahirkan sering juga aktivitasnya dibatasi oleh tabu-tabu yang tidak boleh dilanggar. Misalnya, wong entas ngalahira   ken mah ora olih mangan gedang, matak metu kontol ‘perempuan yang baru melahirkan tidak     boleh makan pisang, takut keluar penis’; wong    wadon sing entas lahiran ulih pirang-pirang dina ora ulih dodok slonjor ning arep umah soale setan ngintili ‘perempuan melahirkan selama beberapa   hari tidak boleh duduk selonjoran di depan rumah, takut diikuti setan’; dan sebagainya.  Banyak tabu di Banten yang berlaku untuk perempuan semua usia, dari mulai anak-anak, gadis, ibu -ibu hamil, maupun perempuan-perempuan lain pada umumnya. Di antara tabu-tabu yang sampai sekarang masih bertahan dan masih diingat oleh  perempuan Banten adalah wong wadon mah lamun nyanyapu aja setengah-setengah, matak olih lakine brewokan ‘perempuan   tidak boleh menyapu setengah-setengah, nantinya dapat suami berewokan’; awewe mah ulah mam   dina mangkok, bisi jauh jodoh ‘perempuan tidak     boleh makan di mangkok, nanti jodohnya jauh’; dan lain sebagainya.  D.   Analisis Studi Kasus Melihat dari kasus diatas yang seakan tabu adalah sebagai simbol otoritas laki-laki atas diri perempuan sehingga dalam berbagai aktivitas sosial dan keagamaan merupakah hal yang salah. Sebenarnya tabu itu sendiri membantu untuk menjaga moral  yang harus dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat. Larangan-larangan tabu secara implisit mengandung etika kesopanan dan moral bagaimana manusia harus bertingkah laku dan bersikap dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan adat dan norma yang  berlaku dalam budaya masyarakat kita. Dari tabu-tabu tersebut, jelas bahwa banyak tabu yang diberlakukan bagi perempuan dan tabu-tabu ini sebagian besar mengandung nilai dan makna bahwa perempuan adalah mahluk lemah yang betul-betul membutuhkan  perlindungan. Makna yang tersirat di dalam tabu tersebut menyimbolkan bahwa manusia juga tidak boleh bertindak semena-mena dan berbuat jahat kepada binatang. Mengapa tabu-tabu semacam ini hanya ditujukan kepada ibu-ibu hamil? Agaknya, hanya ibu-ibu hamillah yang kemungkinan besar tidak akan melanggar tabu itu karena kondisi emosional dan psikologis mereka. Seorang ibu hamil akan melakukan apa pun demi keselamatan bayinya, apalagi kalau hanya sekadar menghindari tabu. Kita sebagai bidan dalam mengimplementasikan pendidikan humaniora dalah hal ini adalah dengan memberikan pendidikan kesehatan kepada ibu dengan menjelaskan hal yang ssebenarnya terjadi kepada ibu tanpa perlu menakut-nakutinya. Juga dapat menjelaskan mana yang merupakan mitos yang biasanya sudah tersebar di masyarakat. E.   Kesimpulan    Prinsip dari pendidikan humaniora bertujuan membuat manusia lebih manusiawi atau untuk keselamatan dan kesempurnaan manusia.    Pelayanan kebidanan yang diberikan kepada klien meliputi seni yang mempersiapkan kehamilan, menolong persalinan, nifas dan menyusui, masa interval dan pengaturan kesuburan, klimakterium dan menopause, bayi baru lahir dan balita, fungsi  –  fungsi reproduksi manusia serta memberikan bantuan/dukungan  pada perempuan, keluarga dan komunitasnya yang semuanya harus dilakukan  berdasarkan kode etik dan peri kemanusiaan.    Diperlukan adanya penerapan ilmu humaniora dalam memberikan pelayanan kebidanan karena berbagai factor yang menjurus peran bidan sebagai gardu utama dalam memberikan pelayanan kesehatan di lingkungan masyarakat.    Ilmu humaniora sebaiknya idak hanya dianggap sebagai teori namun juga harus  bisa diterapkan dalam kehidupan
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks