Tugas-Resensi Buku-1.59116004.docx

Publish in

Documents

184 views

Please download to get full document.

View again

of 5
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
RESENSI BUKU A WHOLE NEW MIND OLEH DANIEL H. PINK Judul: A Whole New Mind Pengarang: Daniel H. Pink Penerbit: Penguin Group Tempat Terbit: New York Tahun Terbit: 2006 Cetakan: Pertama, Agustus 2006 Jumlah Halaman: 238 Ukuran: 16 X 24 cm ISBN 1-4295-1375-6 Harga: Rp. 55.000,00 Daniel H. Pink ialah seorang pengarang buku-buku best-seller yang provokatif dan telah menulis lima buku tentang bisnis, pekerjaan, dan manajemen yang telah terjual lebih dari dua juta kopi di seluruh dunia dan tel
Transcript
  RESENSI BUKU  A WHOLE NEW MIND OLEH DANIEL H. PINK Judul :  A Whole New Mind    Pengarang : Daniel H. Pink Penerbit : Penguin Group Tempat Terbit : New York Tahun Terbit : 2006 Cetakan : Pertama, Agustus 2006 Jumlah Halaman : 238 Ukuran: 16 X 24 cm  ISBN 1-4295-1375-6  Harga : Rp. 55.000,00 Daniel H. Pink ialah seorang pengarang buku-buku best-seller   yang provokatif    dan telah menulis lima buku tentang bisnis, pekerjaan, dan manajemen yang telah terjual lebih dari dua juta kopi di seluruh dunia dan telah diterjemahkan ke dalam 35 bahasa. Buku-buku itu diantaranya, yakni buku  To Sell is Human: The Surprising Truth About Moving Others ,   buku  Drive: The Surprising Truth  About What Motivates Us ,   buku  The Adventures of Johnny Bunko: The Last Career Guide You'll Ever Need  ,   dan buku  Free Agent Nation: The Future of Working for Yourself.  Dahulunya, Pink menjabat sebagai mantan penulis pidato yang berpengaruh bagi mantan wakil presiden Amerika ke-45 Albert Arnold Gore Jr. (Al Gore) pada masa pemerintahan Presiden Bill Clinton, dari tahun 1993 sampai 2001. Pink juga seorang pembawa acara dari National Geographic Channel program Crowd Control   yang tayang perdana pada November 2014.   Buku ini ditulis dengan tujuan untuk membantu pembaca mempelajari kecerdasan penting yang menjadi dasar ketergantungan bagi setiap kesuksesan profesi dan kepuasan pribadi. Buku ini memberikan suatu pemikiran yang sepenuhnya baru bagi siapa saja yang ingin tetap bertahan dan berkembang dari gambaran prediksi perubahan yang akan terjadi dari perekonomian dan masyarakat yang dibangun berlandaskan kemampuan-kemampuan Era Informasi yang logis dan linier, kepada suatu perekonomian dan masyarakat yang didasarkan pada kemampuan-kemampuan berperspektif luas, kreatif, dan empatik dari apa yang sedang muncul di tempatnya saat ini, Era Konseptual. Penulis menyusun buku ini dengan baik agar dapat dipahami dengan runtut dan jelas. Hal ini nampak dari daftar isinya yang terbagi menjadi 2 bagian. Pada bagian pertama-Era Konseptual-terdiri dari 3 bab, yakni: (1) Kebangkitan otak kanan, (2) Kelimpahan, asia, dan otomasi, dan (3) High Concept, High Touch . Pada bagian kedua-Enam Kecerdasan-terdiri dari 6 bab, yakni: (4) Disain, (5) Cerita, (6) Simponi, (7) Empati, (8) Permainan, dan (9) Makna. Penulis mengajak kita untuk memahami terlebih dahulu bagaimana belahan otak kita bekerja dan mempengaruhi individu maupun organisasi dalam mengendalikan kehidupannya, serta perbandingan pemakaiannya di era  informasi dengan era konseptual. Faktanya, saat ini dominasi budaya kita lebih yang lebih luas cenderung menghargai lebih tinggi bentuk pemikiran dan sebuah sikap yang merupakan ciri khas otak kiri-berurutan, literal, fungsional, tekstual, dan analitis ( L-Directed Thinking  ) daripada otak kanan-simultan, metaforis, estetis, kontekstual, dan sintetis ( R-Directed Thinking  ) yang lebih digunakan sebagai alternatif dalam posisi sekunder. Gaya pemikiran otak kiri yang digunakan sebagai pengemudi dan otak kanan sebagai penumpang, kini sudah mulai berubah menjadi R-Directed Thinking   yang mengambil kemudinya dan menentukan arah tujuan dan cara untuk mencapainya. Kecerdasan yang diarahkan oleh otak kiri masih sangat penting, namun mereka tidak lagi memadai. Mengapa? Karena saat ini, kita sedang bergerak menuju suatu era di mana R-Directed Thinking   akan semakin menentukan siapa yang meraih kesuksesan. Selanjutnya, Pink menjelaskan ada 3 alasan pergeseran masa depan bisnis dan ekonomi dunia ditandai dengan menurunnya signifikansi L-Directed Thinking   dan meningkatnya signifikansi R-Directed Thinking  , yakni: (1) Kelimpahan  –  Dalam perjalanan sejarah, kehidupan kita dicirikan dengan kelangkaan. Saat ini, ciri dari kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya yang menentukan di dunia ini adalah kelimpahan. Dicontohkan sebuah sikat toilet cantik rancangan Michael Graves (seorang arsitek dan perancang produk kenamaan dunia) berharga 5,99 $. Hanya karena latar belakang kelimpahan saja, banyak orang dapat mencari produk yang unik dan cantik-mengubah produk yang bermanfaat menjadi objek kesenangan. Kelimpahan menghasilkan sesuatu yang ironi: Pemikir otak kiri yang dominan semakin kurang penting. Kemakmuran yang dihasilkan meletakkan nilai tinggi pada sensibilitas yang lebih diarahkan oleh otak kanan dan kurang rasional - keindahan, spiritualitas, dan emosi. Tidak cukup jika hanya menjual barang dengan harga murah dan berguna, tapi juga harus indah, unik, dan berarti. (2) Asia  –  Ada apa dengan Asia? Sekarang ini pekerja otak kiri dari Asia (India, Filipina, China, dll) telah mengancam pekerja otak kiri di Amerika dan Eropa. Pekerjaan yang dianggap eksklusif di  Amerika dengan gaji yang menyenangkan, dapat dikerjakan juga oleh orang-orang Asia dengan sama baiknya, sama cepatnya, namun gaji mereka cenderung lebih murah daripada gaji standar orang Barat dan jauh lebih cukup dari gaji apabila mereka bekerja di negaranya sendiri. (3) Otomasi  –  Pada era Industri, mesin-mesin telah membuktikan bahwa mereka dapat menggantikan kekuatan-kekuatan fisik. Pada abad ini, teknologi-teknologi baru telah menggantikan upaya-upaya apapun yang bergantung pada logika berbasis turan, kalkulasi, dan pemikiran berurutan (peran otak kiri manusia) seperti halnya komputer yang lebih bagus, cepat, dan bahkan lebih kuat, juga tidak pernah lelah (kecuali mati lampu, Hha). Otomasi juga telah mengubah peran sebagian dokter. Banyak diagnosa medis serupa merujuk pada serangkaian keputusan yang kini dapat diproses dengan menjawab serangkaian pertanyaan di layar komputer hingga sampai pada diagnosa awal tanpa bantuan seorang dokter. Kelimpahan kebutuhan materi-materi dari jutaan orang meningkatkan signifikansi keindahan dan emosi. Asia kini sedang melakukan pekerjaan-pekerjaan di negara maju yang rutin diarahkan  otak kiri dengan biaya sangat rendah, mendorong pekerja pengetahuan yang terancam untuk mengusai kemampuan-kemampuan yang tidak dapat dikirim ke luar negeri. Dan otomasi yang mulai mempengaruhi profesional otak kiri untuk mengembangkan ketangkasan yang tidak dapat dilakukan komputer secara lebih baik, cepat, atau lebih murah.  Agar dapat bertahan hidup pada Era Konseptual, para individu dan organisasi perlu mengevaluasi diri dengan 3 pertanyaan ini: 1. Apakah seorang di luar negeri dapat melakukannya dengan lebih murah? 2. Apakah komputer dapat melakukannya lebih cepat? 3. Apakah hasil pekerjaan kita masih dibutuhkan pada era kelimpahan? Jika jawaban “ya” pada pertanyaan nomor 1 dan 2, dan “tidak” pada pertanyaan nomor 2, maka karir kita sedang terancam. Itulah mengapa mengandalkan dominasi L-Directed Thinking   saja tidak lagi memadai. Lalu apa yang harus dilakukan? Yakni kita perlu melengkapi kemampuan L-Directed Thinking   dengan kemampuan-kemampuan yang merupakan High Concept   dan High Touch  (Pada pendahuluan, penulis telah menyebutkan bahwa High Concept   mencakup kemampuan untuk menciptakan keindahan yang artistik dan emosional, untuk mendeteksi pola-pola dan peluang-peluang, menyusun kisah yang memuaskan, dan menggabungkan ide-ide yang tampaknya tidak berhubungan ke dalam suatu penemuan yang baru. Sedangkan High Touch  mencakup kemampuan untuk memberikan simpati, memahami seluk-beluk interaksi manusia, mendapatkan kesenangan dalam diri seseorang dan memberikannya kepada orang lain, dan melewati kehidupan sehari-hari dalam mencari tujuan dan makna yang semua dari itu merupakan peran dari otak kanan. Pink menjelaskan bahwa di Era Konseptual ini kita perlu melengkapi pemikiran berorientasi otak kiri dengan kemampuan dasar dari pemikiran berorientasi otak dasar. Menurut Pink, diperlukan 6 kecerdasan yang merupakan gabungan High Concept dan High Touch untuk membantu mengembangkan pemikiran baru yang utuh dalam menghadapi era konseptual. Keenam kecerdasan ini ialah: 1. Desain - Fungsi tidak lagi memadai sebagai faktor utama yang mempengaruhi keputusan orang dalam membeli suatu produk dan jasa. Selain fungsi, produk dan jasa perlu menyertakan desain yang bagus, sedikit fantastis, dan dapat menarik secara emosional. Disain bukanlah semata-mata ornamen, mempercantik tempat dan objek untuk menyembunyikan kehambarannya. Disain merupakan sebuah kombinasi antara utility   (kegunaan) dan significance  (makna). Bagi produsen elektronik terkenal Apple, disain produk mereka yang menunjukkan maknna sederhana namun berkelaslah yang membedakan mereka dengan para pesaingnya. Disain merupakan kecerdasan High Concept yang sukar untuk diotomasi dan itu semakin memberikan keuntungan yang kompetitif dalam bisnis. Penulis menutup penjelasan desain dengan kutipan Barbara Chandler Allen dari CHAD ,”Menjadi seorang desainer adalah menjadi agen perubahan”.  2. Cerita  –  Narasi yang diadakan dan ditambahkan pada suatu produk dan jasa merupakan representasi jalan kecil bagi sebuah pemahaman akan kerinduan pengetahuan diri melalui  cerita-cerita di beberapa tempat. Cerita mengupayakan keinginan yang kuat terhadap apa yang dapat diberikan, konteks yang diperkaya oleh emosi, sebuah pemahaman yang mendalam tentang mengapa kita berada dalam harmoni dan mengapa hal itu penting. Era konseptual mengingatkan bahwa kita harus saling mendengar cerita masing-masing dan bahwa kita masing-masing adalah pengarang hidup kita sendiri. 3. Simfoni  –  Kecerdasan simfoni ialah kemampuan untuk menggabung ketimbang menganalisa, melihat hubungan-hubungan antara bidang-bidang yang nampaknya tidak berhubungan, mendeteksi pola-pola umum daripada menyampaikan jawaban yang khusus, menemukan sesuatu yang baru dengan menggabungkan unsur-unsur yang tidak seorang pun berpikir untuk memperbaikinya. Pemikiran simfoni lebih ke suatu kemampuan dari para komposer dan konduktor yang pekerjaannya termasuk mengumpulkan kelompok not, instrumen, dan pemain yang berbeda dan menghasilkan suatu suara yang menyatu dan menyenangkan. 4. Empati  –  ialah seni memperhatikan orang lain, membayangkan kita pada posisi orang lain dan memahami dengan intuisi apa yang dirasakan orang itu. Empati merupakan satu kemampuan untuk mengalami dari sudut pandang orang lain, melihat dengan matanya, dan merasakan hatinya. Untuk dapat berempati, kita memerlukan tingkat kasih sayang agar dapat mengenali bahwa kita berinteraksi dengan seseorang (dengan perasaan-perasaan yang perasaan-perasaannya dapat mempengaruhi perasaan kita sendiri). Informasi untuk berempati dapat dikenali melalui konteks wajah, suara, tindakan, dan sejarah seseorang. 5. Permainan  –  Permainan muncul dari bayang-bayang ketidakseriusan dan mengambil sebuah tempat sebagai pusat perhatian. Homo ludens  (manusia yang bermain) terbukti sama efektifnya dengan Homo sapiens  (manusia yang mengetahui) dalam menyelesaikan pekerjaan. Permainan menjadi bagian yang penting dari pekerjaan, bisnis, dan kesejahteraan pribadi. Kebermaknaannya mewujudkan dirinya dalam tiga cara: permainan, humor, dan kesenangan. Contoh permainan ialah kontes menyanyi the Voice, game show terkenal Korea yakni Running Man, dan para pemain sepak bola menghasilkan jutaan euro setiap tahunnya. 6. Makna  –  Pencarian makna kini pada era konseptual merupakan hal yang penting. Di mana kita rela mencurahkan kehidupan kita kepada pencarian makna. Apakah makna dari kecerdasan disain yang kita buat, cerita yang didengungkan pada orang-orang, kecerdasan simfoni yang tersusun dengan baik, merasakan apa yang dirasakan orang lain melalui empati, dan makna dari permainan yang dibuat? Semuanya berkumpul menjadi satu untuk mencari makna dalam suatu skala yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Di mana kita rela membayar seminar mahal dan pelatihan yang membawa makna bagi kita, motivasi, dan tender logo sebuah perusahaan yang diharuskan memiliki makna. Kita mempunyai kecukupan untuk hidup, namun tidak ada sesuatu yang diperjuangkan untuk hidup. Kita memiliki alat-alat, namun bukan makna. Penulis memberikan dua cara praktis yang berorientasi pada otak utuh untuk perorangan, keluarga, dan bisnis untuk memulai suatu pencarian makna, yakni mulai dengan mengambil spiritualitas secara serius dan mulai dengan mengambil kebahagiaan secara serius. Spiritualitas
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks