Wisata Alam Berbasis Geologi Dan Masyarakat Setempat

Publish in

Documents

76 views

Please download to get full document.

View again

of 8
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
geologi teknik
Transcript
  WISATA ALAM BERBASIS GEOLOGI DAN MASYARAKAT SETEMPAT  Ediyanto & Jatmiko Setiawan Prodi Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, UPN “Veteran” Yogyakarta  Ediyanto_upn@yaho.co.id &  jatmikosetiawan@yahoo.com  ABSTRAK Wisata alam di Indonesia pada umumnya hanya berbasis keindahan alamnya dan masih sangat jarang yang berbasis geologi. Dengan demikian tujuan penelitian ini adalah mengangkat daerah Ngawen Gunung Kidul DIY, untuk dapat dijadikan daerah tujuan “Wisata Alam Berbasis Geologi dan Masyarakat setempat”.  Sedangkan Metode penelitian  berupa pengamatan langsung di lapangan. Lokasi penelitian terletak di Pegunungan Selatan Yogyakarta, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunung Kidul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara geografis terletak pada 110 o   21’ –   110 o   50’ BT dan 7 o   46’ –   7 o   09’ LS, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Bantul dan Sleman (Yogyakarta), sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Klaten dan Sukoharjo (Propinsi JATENG), sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri (Propinsi JATENG), dan sebelah Selatan berbatasan dengan kecamatan lain dari Kabupaten Gunung Kidul. Secara geologi kita bisa melihat urut-urutan litologi dari tua ke muda. Dari paling tua ditemukan satuan  batupasir tuffan yang berupa perselingan antara batupasir tuffan dan tuff dari Formasi Semilir, kemudian diatasnya kita temukan breksi vulkanik dari Formasi Nglanggran yang menjari dengan satuan batupasir gampingan yang  berupa selang- seling antara batupasir gampingan dengan batugamping, kemudian diatasnya diendapkan Formasi Wonosari yang berupa batugamping terumbu. Terakhir kita bisa melihat produk Gunung Api Muda berupa lava ( Autobreccia). Daerah telitian berupa punggungan yang membentuk tapal kuda yang membatasi sebuah depresi, membujur  barat  –   timur. Dari sisi wisata kita bisa melihat pemandangan alam dengan kearifan lokalnya yang berupa hijaunya padi, hamparan sawah pada bagian barat, selatan, timur, utara dan gunung Merapi dapat terlihat pada bagian utara. Di lereng bagian selatan kita dapat melakukan wisata tracking pada jalan setapak yang curam dan menantang di tengah-tengah berbagai tumbuhan langka pada hutan Wonosadi dengan batuan dasar berupa autobreccia dari produk Gunung Api Muda. Di bagian tengah kita jumpai kawasan rata diantara punggungan yang berbentuk tapal kuda ini , dapat dimanfaatkan untuk kegiatan outbond, paralayang atau kegiatan yang lain. Pada punggungan bagian barat di gunung Gambar kita bisa menikmati wisata religius dengan adanya petilasan dari seorang pangeran yang berasal dari Mangkunegaran Surakarta yang bernama Pangeran Sambernyowo dengan beberapa peninggalannya. Dari gunug Gambar ini kita bisa melihat hijaunya hamparan sawah dan pegunungan, baik ke arah utara, timur, selatan dan barat. Batuan dasar dari Gunung Gambar berupa satuan batupasir tuffan dari Formasi Semilir. Kemudian dari sisi masyarakat siap untuk melakukan koservasi dan belajar tentang geologi daerah ini untuk dapat dijadikan daerah wisata yang berbasis geologi dan masyarakat setempat Diharapkan hasil dari pengembangan kawasan wisata ini akan meningkatkan pendapatan masyarakat yang hanya sebagai petani tadah hujan dan sekaligus meningkatkan PAD daerah Gunung Kidul. Kata kunci  : wisata alam, geologi, pegunungan selatan, masyarakat THE NATURE TOURISM WAS BASED ON GEOLOGY AND THE LOCAL COMMUNITY ABSTRACT  Nature tourism in Indonesia are generally based only its natural beauty and still very rarely based on geology. Thus the objectives of this study is to raise the area Ngawen Gunungkidul DIY, to be used as the destination Nature-Based Tourism Geology and the local community . While the research method of direct observation in the field. The location of the research was located in south mountain of Yogyakarta, Ngawen District, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Geographically was located in 110 o 21-110 o  50 BT and 7 o  46-7 o  09 LS, west  boudary with the Bantul Regency and Sleman (Yogyakarta), north boundary with the Klaten Regency and Sukoharjo (the Central Java province), East boundery with the Wonogiri Regency (the Central Java province), and one South boudary with the other subdistrict from the Gunung Kidul Regency. Geologycally we can see the a good sequence of lithology of Semilir Formation, lava flows and breccias result from the activities of the Old Mountain Nglanggran, the product precipitated in the form of marine of  calcareous sandstones and limestones of the Oyo and Wonosari Formation. Finally we can see the product in the form of a young volcano with lava different from lava of Nglanggran Formation. The study area of the ridge that forms a horseshoe that limits a depression, stretching west - east. In terms of tourism we can see the landscape with their local wisdom in the form of green paddy, paddy field and Mount Merapi in the north. On the southern slopes we can do a tour on the trail tracking the steep and challenging in the midst of a variety of rare plants on the forest Wonosari. In the middle we find the average area in the middle of the forest that can be used outbound activities or other activities. On the mountain ridge in the southern part of Figure we can enjoy religious tour with the tomb of a prince who comes from Mangkunegaran and some legacy. Expected to result from the development of this tourist area will increase the income of the people who are just as rainfed farmers while increasing revenue and the South Mountain area.  Key words: natural attractions, geology, the southern mountains, the community   PENDAHULUAN Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dari penelitian ini adalah mengangkat daerah Ngawen Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk dapat dijadikan daerah tujuan “Wisata Alam Berbasis Geologi dan Masyarakat setempat”   Lokasi Penelitian dan Kesampaian Daerah Lokasi penelitian terletak di Pegunungan Selatan Yogyakarta, Desa Jurangjero, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunung Kidul, Propinsi Jawa Tengah. Secara geografis terletak  pada 110 o   21’ –   110 o   50’ BT dan 7 o   46’ –   7 o   09’ LS, sebelah barat mer  upakan Kabupaten Bantul dan Sleman (Yogyakarta), sebelah utara merupakan Kabupaten Klaten dan Sukoharjo (Propinsi Jateng), sebelah Timur merupakan Kabupaten Wonogiri (Propinsi Jateng), dan sebelah Selatan merupakan Samudra Hindia (Gambar 1.1). Kawasan penelitian dapat dicapai, baik dengan motor maupun dengan mobil. Metodologi Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian detail dengan  pengamatan lapangan secara langsung. ab c    Gambar 1.  Lokasi daerah penelitian GEOLOGI UMUM Geomorfologi Daerah penelitian termasuk di dalam Zona Pegunungan Selatan yang dapat dibagi menjadi tiga subzona, yaitu Subzona Baturagung, Subzona Wonosari dan Subzona Gunung Sewu (Harsolumekso dkk., 1997 dalam Bronto dan Hartono, 2001). Geologi dan Stratigrafi Stratigrafi daerah telitian jika didekatkan dengan stratigrafi regional menurut Surono dkk. (1992, Gambar 2) dapat dibagi menjadi 4 formasi, secara berurutan dari tua ke muda, yaitu: Formasi Kebo-Butak, Formasi Semilir, Formasi Oyo dan Satuan Lava Formasi Sambipitu. Gambar 2. Stratigrafi Pegunungan Selatan (Surono, 1992).   Formasi Kebo Butak, litologi penyusun formasi ini di bagian bawah berupa batupasir berlapis  baik, batulanau, batulempung, serpih, tuf dan aglomerat. Bagian atasnya berupa perselingan   batupasir dan batulempung dengan sisipan tipis tuf asam. Setempat di bagian tengahnya dijumpai retas lempeng andesit-basal dan di bagian atasnya dijumpai breksi andesit. Formasi ini berumur Oligosen Akhir- Miosen Awal. Lingkungan pengendapannya adalah laut terbuka yang dipengaruhi oleh arus turbidit. Formasi Semilir, litologi penyusunnya terdiri dari tuf, tuf lapili, lapili batuapung, breksi  batuapung dan serpih. Formasi ini    berumur Miosen Awal-Miosen Tengah bagian bawah.   Formasi Semilir ini menindih secara selaras Formasi Kebo-Butak, namun secara setempat tidak selaras (van Bemmelen, 1949). Formasi ini menjemari dengan Formasi Nglanggran dan Formasi Sambipitu, namun tertindih secara tidak selaras oleh Formasi Oyo (Surono, dkk., 1992). Formasi Nglanggran,  batuan penyusunnya terdiri dari breksi gunungapi, aglomerat, tuf dan aliran lava andesit-basal dan lava andesit. Formasi ini berumur Miosen Awal-Miosen Tengah dengan lingkungan pengendapan darat hingga laut dangkal. Formasi Sambipitu,  batuan penyusun formasi ini di bagian bawah terdiri dari batupasir kasar, kemudian ke atas berangsur menjadi batupasir halus yang berselang-seling dengan serpih,  batulanau dan batulempung. Pada bagian bawah kelompok batuan ini tidak mengandung bahan karbonat. Namun di bagian atasnya, terutama batupasir, mengandung bahan karbonat. Formasi Sambipitu mempunyai kedudukan menjemari dan selaras di atas Formasi Nglanggran. Menurut Suyoto dan Santoso (1986, dalam Bronto dan Hartono, 2001) menentukan umur formasi ini mulai akhir Miosen Bawah sampai awal Miosen Tengah. Formasi ini diendapan antara lingkungan laut dangkal dan laut dalam. Formasi Oyo, Batuan penyusunnya formasi ini pada bagian bawah terdiri dari tuf dan napal tufan. Sedangkan ke atas secara berangsur dikuasai oleh batugamping berlapis dengan sisipan  batulempung karbonatan. Batugamping berlapis tersebut umumnya kalkarenit, namun kadang-kadang dijumpai kalsirudit yang mengandung fragmen andesit membulat. Formasi Oyo berumur Miosen Tengah hingga Miosen Akhir (Bothe, 1929). Lingkungan pengendapannya pada laut dangkal (zona neritik) yang dipengaruhi kegiatan gunungapi.  DATA LAPANGAN Data lapangan diutamakan pada data-data yang berhubungan dengan wisata geologi baik dari segi geomorfologi, geologi, struktur dan lingkungaannya. Maka dapat diuraikan secara terperinci sebagai berikut : Data Geomorfologi Berdasarkan klasifikasi relief menurut Van Zuidam (1983) (Tabel 3.2), daerah  penelitian dapat dikelompokkan menjadi 7 klas lereng yaitu : No. Satuan Relief Lereng (%) Beda tinggi relatif (m) 1 Datar - Hampir datar 0  –   2 < 5 2 Berombak 3  –   7 5  –   60 3 Bergelombang dengan lereng miring 8  –   13 12  –   75
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks