96

Publish in

Documents

8 views

Please download to get full document.

View again

of 15
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Share
Description
Dampak Pembelajaran Metakognitif dengan Strategi Kooperatif Terhadap Kemampuan Metakognitif Siswa dalam Mata Pelajaran Biologi di SMA Negeri Palangka Raya Universitas Palangkaraya, Jl. Yos Sudarso Palangkaraya Yula Miranda Abstract: :The purpose of this study was to identify the influence of learning strategies (TPS+M, TPS, dan Conventional) on the metacognitive ability, the influence of students’ upper and lower academic abilities on the metacognitive ability, also the influence of interacti
Transcript
  187 Proses pembelajaran yang dilaksanakan ber-hubungan dengan ranah kognitif, afektif, danpsikomotor dan disertai pembelajaran metakog-nitif akan memungkinkan peningkatan kesa-daran siswa terhadap apa yang telah dipelajari.Hasil belajar siswa dapat dikatakan berkualitas Dampak Pembelajaran Metakognitif dengan Strategi Ko-operatif Terhadap Kemampuan Metakognitif Siswadalam Mata Pelajaran Biologidi SMA Negeri Palangka Raya Yula Miranda Universitas Palangkaraya, Jl. Yos Sudarso Palangkaraya  Abstract: : The purpose of this study was to identify the inuence of learning strategies (TPS+M,TPS, dan Conventional) on the metacognitive ability, the inuence of students’ upper and loweracademic abilities on the metacognitive ability, also the inuence of interactions between learningstrategies (TPS+M, TPS, dan Conventional) and students’ upper and lower academic ability onthe metacognitive ability.This study used the quasi-experiment research design which used theNonequivalent Control Group Design 3 x 2 factorial version with each factors consists of 2 levels,that identied the inuence of independent variable (i.e. the learning strategies) and the secondaryindependent variable (academic ability) on the dependent variables (the metacognitive ability).The research population was all of the X grade students of SMA Negeri who learned Biology inCentral Kalimantan Province. The average number of students in each classes was 30 students.The research sample was determined using Cluster Random Sampling technique. The researchsubjects were the X grade students of SMA Negeri 2 Pahandut, SMA Negeri 2 Jekan Raya, andSMA Negeri 1 Bukit Batu in Palangkaraya City of Central Kalimantan. The research data werecollected using the inventories of metacognitive strategy. The inventories of metacognitive strategyconsist of 60 questions including student’s self-planning, self-monitoring, and self-evaluation instudying Biology to measure the students’ metacognitive ability equipped with journal of study,Student Work Sheets (LKS), metacognitive awareness sheets, and metacognitive activities. Theresearch ndings showed that the TPS+M learning strategy was more potential in improving themetacognitive ability compared to other learning strategies. Next, the TPS+M learning strategywere beer compared to the TPS learning strategy and the conventional learning strategy. Theinteraction between the learning strategies (TPS+M, TPS, and Conventional) and the upper andlower academic abilities had inuences on the metacognitive ability. It could be concluded thatthe TPS+M strategy was more eective than other strategies to be used in Central Kalimantanstudents’ learning to improve the metacognitive ability. Kata kunci: Pembelajaran Metakognitif, Strategi Kooperatif Think-Pair-Share, Kemam-puan Metakognitif   apabila siswa secara sadar mampu mengontrolproses kognitifnya secara berkesinambungandan berdampak pada peningkatan kemampuanmetakognitif.Pemerintah selalu memperbaharui kuriku-lum dengan tujuan untuk memperbaiki kuali- 187  JURNAL PENELITIAN KEPENDIDIKAN, TH. 20, NO. 2, OKTOBER 2010 188 tas pendidikan dan pembelajaran di Indonesia.Pembaharuan yang telah dilakukan, di antaranyapenyempurnaan Kurikulum Sekolah MenengahAtas Tahun 2004 (Depdiknas, 2003). Kurikulum2004 disempurnakan untuk mengembangkanstandar kompetensi dan kompetensi dasar kedalam kurikulum operasional tingkat satuanpendidikan, disebut Kurikulum Tingkat SatuanPendidikan dan disingkat KTSP (Mulyasa, 2006).Pemerintah daerah di Propinsi Kalimantan Ten-gah juga telah berusaha untuk memperbaikikemampuan siswa yang berhubungan denganranah kognitif, afektif, maupun psikomotorserta mengembangkan kreativitas. Perbaikankemampuan siswa dilakukan dengan mening-katkan kuantitas dan kualitas guru, penyiapan bahan ajar, dan mengembangkan pemanfaatanlembar kerja siswa. Namun, masalah pembela- jaran yang memberdayakan kemampuan meta-kognitif, kognitif, afektif, psikomotor, belum banyak terungkap. Proses pembelajaran danpendidikan yang berkualitas terkait dengankemampuan berpikir. Pembelajaran semesti-nya membelajarkan siswa memiliki kemam-puan berpikir untuk menyadari apa yang telahdipelajari, menyadarkan siswa berpikir kreatifdan antusias serta termotivasi untuk mengeta-hui objek belajarnya melalui pelibatan aktif be-lajar, baik memecahkan masalah nyata dalamkehidupannya, maupun merangsang siswa un-tuk selalu tanggap terhadap permasalahan yangada di lingkungan sekitarnya (Winarno, Susilo,dan Soebagio, 2000). Peningkatan kemampuanmetakognitif siswa merupakan salah satu efekyang perlu dihasilkan dari pembelajaran.Menurut Costa (1985) dalam proses pembe-lajaran ada 3 pengajaran berpikir, yakni teach-ing of thinking, teaching for thinking, dan teachingabout thinking . Pada kenyataan dalam pelaksa-naan pembelajaran tidak mungkin melepaskan3 aspek itu, antara teaching of thinking, teaching for thinking, dan teaching about thinking terkaitsangat erat, bahkan tak dapat dipisahkan (San- jaya, 2006). Jika ketiga aspek itu dilaksanakandalam pembelajaran di sekolah, maka dapatmemfasilitasi kemampuan berpikir metakog-nitif siswa, di antaranya untuk mempelajari biologi. Kemampuan berpikir yang diperlukanpada era globalisasi adalah terkait dengan ke-mampuan berpikir tentang proses berpikir yangmelibatkan berpikir tingkat tinggi dan dikenaldengan metakognisi (Phillips, Tanpa tahun).Eggen dan Kauchak (1996) menyatakan bahwa berpikir tingkat tinggi termasuk berpikir kreatifdan berpikir kritis, yang mencakup kombinasiantara pemahaman mendalam terhadap topik-topik khusus, kecakapan menggunakan proseskognitif dasar secara efektif, pemahaman dankontrol terhadap proses kognitif dasar (meta-kognisi), maupun sikap dan pembawaan.Kemampuan berpikir tingkat tinggi dapatdiberdayakan dengan memberdayakan kete-rampilan metakognitif. Keterampilan meta-kognitif terkait strategi maupun pelatihanmetakognitif dan dapat dikembangkan melaluipembelajaran kooperatif. Pada pembelajarankooperatif dapat dikembangkan keterampilanmetakognitif karena pada pembelajaran ko-operatif terjadi komunikasi, di antara anggotakelompok (Abdurrahman, 1999). Komunikasidi antara anggota kelompok kooperatif terjadidengan baik karena adanya keterampilan men-tal, adanya aturan kelompok, adanya upaya belajar setiap anggota kelompok, dan adanyatujuan belajar yang harus dicapai atas dasarkesadaran anggota kelompok, di antaranya ke-mampuan bekerjasama dan berpikir metakog-nitif serta berpikir kognitif.Pentingnya belajar biologi, selain mengkajipengetahuan tentang makhluk hidup, juga usa-ha untuk menumbuhkan dan mengembangkansikap, keterampilan berpikir, serta meningkat-kan keterampilan untuk menjalankan metodepenyelidikan ilmiah dalam bidang biologi mela-lui langkah-langkah metode ilmiah. Biologi da-pat diterapkan dalam berbagai bidang (Sujadidan Laila, 2004). Contohnya, Biologi sebagaidasar bagi bidang kedokteran, pertanian, danupaya memelihara kualitas lingkungan hidup.Pentingnya biologi dibelajarkan kepada siswa,  189 karena biologi merupakan sarana untuk mem- bantu menjawab berbagai pertanyaan yang berhubungan dengan alam kehidupan danmemberikan bekal bagi perkembangan hidupseseorang.Berdasarkan karakteristik biologi danfenomena pembelajaran di sekolah selama ini bahwa sebagian besar siswa kurang aktif ber-interaksi antara siswa dengan siswa, siswadengan guru, baik melalui pertanyaan mau-pun mengajukan pendapat pada saat kegiatanproses pembelajaran terjadi di kelas. Masalahproses pembelajaran demikian pada siswa yang belajar biologi, diduga antara lain berkaitan eratdengan kemampuan berpikir. Kemampuan ber-pikir yang penting bagi siswa adalah kemam-puan metakognitif, karena siswa mengetahui belajar secara sadar, walaupun kemampuan berpikir memerlukan penalaran dan pemaha-man kausalitas (Piaget, 1927 dalam Bell, 1991).Sebaliknya, apabila siswa belajar dengan ter-paksa agar dapat lulus ujian dengan baik, halini berbeda maknanya bagi siswa.Vygotsky mengungkapkan bahwa siswa belajar secara sadar dapat melalui sosiokulturaldalam pembelajaran, yakni interaksi sosial mela-lui dialog dan komunikasi verbal. Pembelajaranyang menekankan pada sosiokultural adalahpembelajaran kooperatif. Pembelajaran koope-ratif dapat meningkatkan kemampuan berpikirsiswa (Smith,1984 dalam Corebima, 2006b).Pembelajaran kooperatif berkontribusi pa-da hasil belajar dan membantu siswa mema-hami konsep-konsep yang sulit, serta dapatmenerima prestasi menonjol dalam tugas pem- belajaran akademik. Pembelajaran kooperatifini bermanfaat bagi siswa untuk menjadi tutorsebaya bagi siswa lain yang berkemampuanrendah, untuk meningkatkan kemampuan aka-demik siswa yang berkemampuan tinggi, un-tuk menumbuhkan kemampuan kerjasama dankemampuan metakognitif. Kemampuan yangdiperoleh siswa sebagai hasil pembelajaran ko-operatif akan tumbuh dan berkembang karenaadanya kesadaran dan kontrol terhadap aktivi-tas kognitif. Kesadaran dan kontrol terhadapaktivitas kognitif dikenal sebagai metakognisi,sedangkan cara siswa meningkatkan kesadarantentang proses berpikir dan pembelajaran yang berlangsung dikenal sebagai strategi metakog-nitif.Hasil penelitian para ahli psikologi kognitiftentang perbedaan antara siswa yang kurangpandai dan lebih pandai menunjukkan bahwakemampuan metakognitif adalah sangat pen-ting (Djiwandono, 2006). Lebih lanjut, meta-kognitif menjadi penting karena metakognitifadalah pengetahuan yang berasal dari proseskognitif diri sendiri beserta hasil-hasilnya. Ke-tika anak berkembang, maka anak menjadilebih cermat dalam pengertian bagaimana me-ngontrol dan memonitor belajar anak itu sendiriserta bagaimana menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Karena itu, kemampuan meta-kognitif siswa dapat diberdayakan melaluistrategis-trategi pembelajaran di sekolah. Ke-mampuan metakognitif untuk memonitor ha-sil belajar siswa sendiri dengan menggunakanstrategi tertentu, agar belajar dan mengingat da- pat berkembang. Mengidentikasi ide-ide pen- ting dengan menggarisbawahi atau menemukankata kunci pada bahan bacaan, kemudian me-rangkai menjadi satu kalimat dan menulis kem- bali pada jurnal belajar, meramalkan hasil, me-mutuskan bagaimana menggunakan waktu danmengulang informasi merupakan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Strategi yang digunakanuntuk mengetahui proses kognitif seseorangdan caranya berpikir tentang bagaimana infor-masi diproses dikenal sebagai strategi meta-kognitif (Arends, 1998). Strategi metakognitifadalah strategi yang digunakan siswa atau pe- belajar dalam kegiatan pembelajarannya (Core- bima, 2006a).Dirkes (1998) mengungkapkan bahwa strate-gi metakognitif dasar adalah menghubungkaninformasi baru dengan pengetahuan terda-hulu, memilih strategi berpikir secara sengaja,merencanakan, memantau, dan mengevaluasiproses berpikir. Arends (1997) mengemukakan Yula Miranda, Dampak Pembelajaran Metakognitif dengan Strategi Kooperatif   JURNAL PENELITIAN KEPENDIDIKAN, TH. 20, NO. 2, OKTOBER 2010 190 pengetahuan meta-kognitif merupakan penge-tahuan seseorang tentang pembelajaran dirisendiri atau kemampuan untuk menggunakanstrategi-strategi belajar tertentu dengan benar.Berdasarkan makna strategi metakognitif dasardan pengetahuan metakognitif (Dirkes, 1998;Arends, 1997), bahwa pembelajaran metakog-nitif bagi siswa adalah penting. Jika siswa telahmemiliki metakognisi, siswa akan terampil da-lam strategi metakognitif. Siswa yang terampildalam strategi metakognitif akan lebih cepatmenjadi anak mandiri (Kompas, 12 Pebruari2006).Butler & Winn (1995 dalam Slavin, 2000),Pressley, Harris & Marks (1992), Presley (1990),menyatakan bahwa keterampilan berpikir den-gan cara pemantauan diri dan keterampilan be-lajar adalah contoh-contoh keterampilan meta-kognitif. Manfaat metakognisi bagi guru dansiswa adalah menekankan pemantauan diri dantanggung jawab guru dan siswa. Pemantauandiri merupakan keterampilan berpikir tinggi.Howard (2004) menyatakan keterampilan meta-kognitif diyakini memegang peranan pentingpada banyak tipe aktivitas kognitif termasukpemahaman, komunikasi, perhatian ( aention ),ingatan ( memory ), dan pemecahan masalah.Peneliti yakin, bahwa penggunaan strategiyang tidak efektif adalah salah satu penyebabketidakmampuan belajar (Deshler, Ellis danLenz, 1996 dalam Corebima, 2006a). Livings-ton (1997) menyatakan metakognisi memegangsalah satu peranan kritis yang sangat pentingagar pembelajaran berhasil. Siswa dapat belajarlebih aktif, bergairah, dan percaya diri selamaproses pembelajaran, karena pengajar mampumengembangkan strategi metakognitif (Hol-lingworth & McLouglin, 2001).Hasil penelitian menunjukkan kelompoksiswa yang diajarkan strategi metakognitif da-pat meningkatkan kesadaran metakognitif, jugadapat menggunakan strategi metakognitif lebih banyak selama pemecahan masalah, serta dapatmeningkatkan pengetahuan metakognitif, dansiswa dapat menjawab pertanyaan-pertanyaankognitif pada tingkat yang lebih tinggi. Sikapsiswa lebih positif terhadap pelajaran sejarahdibandingkan dengan kelompok kontrol. Kesim-pulannya bahwa hasil penelitian menunjukkanstrategi metakognitif dan strategi pemecahan masalah secara signikan dapat meningkatkan prestasi akademik, kesadaran metakognitif, danpengetahuan metakognitif (Ponnusamy, Tanpatahun). Menurut Abdurrahman (1999) prestasiakademik banyak terkait dengan kemampuanmemori dan keterampilan metakognitif. Kete-rampilan metakognitif merupakan pemahamanproses kognisinya sendiri dan kemampuan me-mantau strategi yang digunakan saat mempela- jari suatu tugas.Abdurrahman (1999) mengemukakan bahwa gaya kognitif berkaitan dengan caraseseorang menghadapi tugas kognitif, teruta-ma dalam pemecahan masalah. Gaya kognitif impulsif-reektif terkait dengan penggunaan waktu yang digunakan siswa untuk menjawabpersoalan dan jumlah kesalahan yang dibuat.Siswa yang impulsif cenderung menjawab per-soalan secara cepat tetapi banyak membuat ke- salahan, sedangkan siswa reektif cenderung menjawab persoalan secara lebih lambat tetapihanya membuat sedikit kesalahan. Gaya kog-nitif siswa yang impulsif menjadi penyebabtimbulnya problema yang bukan hanya akade-mik tetapi juga perilaku. Solusi bagi siswa yangimpulsif perlu memperoleh latihan untuk mer-espons suatu persoalan dengan menggunakanwaktu yang cukup dan cara yang hati-hati.Goleman (2007a) sistem pemahaman im-pulsif yang berpengaruh besar, adalah pikiranemosional. Ciri utama pikiran emosional, yaknirespons yang cepat tetapi ceroboh. Pikiran emo-sional jauh lebih cepat dari pada pikiran rasion-al. Kecepatan itu, mengesampingkan pikiranhati-hati dan analitis yang merupakan cirikhas akal yang berpikir atau tindakan pikiranrasional. Bagian lain, Goleman (2007a) menya-takan bahwa tindakan pikiran rasional dan tin-dakan pikiran emosional secara fundamental berbeda, tetapi bersifat saling mempengaruhi
Related Documents
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks
SAVE OUR EARTH

We need your sign to support Project to invent "SMART AND CONTROLLABLE REFLECTIVE BALLOONS" to cover the Sun and Save Our Earth.

More details...

Sign Now!

We are very appreciated for your Prompt Action!

x